Dalam pernyataan resminya, Nintendo juga menyampaikan permintaan maaf kepada pelanggan atas dampak kenaikan harga tersebut dan berharap pengguna dapat memahami keputusan perusahaan.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Kabar kurang menyenangkan datang untuk para gamer. Nintendo resmi mengumumkan kenaikan harga konsol Switch 2 dan sejumlah perangkat lainnya di berbagai wilayah mulai September 2026. Kenaikan ini bukan hanya terjadi di Jepang, tetapi juga menyentuh pasar Amerika Serikat, Kanada, hingga Eropa.
Di tengah kondisi industri gaming yang makin mahal, keputusan Nintendo langsung memicu kekhawatiran baru di kalangan pemain. Banyak yang mulai bertanya-tanya: apakah era konsol “ramah kantong” perlahan mulai berakhir?
Nintendo menyebut perubahan harga dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi pasar global yang diperkirakan masih akan bergejolak dalam jangka menengah hingga panjang. Faktor biaya produksi, distribusi, hingga tekanan ekonomi global disebut ikut memengaruhi keputusan tersebut.
Di Jepang, harga Nintendo Switch 2 versi Japanese-Language System naik cukup signifikan, dari 49.980 yen menjadi 59.980 yen mulai 25 Mei 2026.
Kenaikan juga berlaku untuk lini konsol lainnya:
Sementara di Amerika Serikat, harga Switch 2 naik dari 449,99 dolar AS menjadi 499,99 dolar AS mulai 1 September 2026. Pasar Kanada dan Eropa juga mengalami penyesuaian harga serupa.
Langkah ini membuat Nintendo menjadi salah satu perusahaan game besar terbaru yang menaikkan harga perangkat keras setelah tren serupa sempat terjadi pada konsol generasi lain dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan harga konsol sebenarnya memberi efek berantai yang cukup besar. Gamer kini bukan cuma memikirkan harga game, tetapi juga biaya masuk ke ekosistem perangkat itu sendiri.
Switch selama ini dikenal sebagai konsol yang relatif lebih “aman” dibanding platform gaming lain. Namun dengan kenaikan harga terbaru, jarak harga antara Switch 2 dan konsol pesaing mulai semakin tipis.
Hal ini berpotensi membuat calon pembeli berpikir lebih lama sebelum upgrade perangkat, terutama di negara-negara dengan nilai tukar mata uang yang fluktuatif.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri gaming global memang menghadapi tekanan besar. Harga chip, biaya logistik, inflasi, hingga perkembangan teknologi AI membuat biaya produksi perangkat elektronik meningkat.
Karena itu, kenaikan harga konsol kini mulai dianggap bukan lagi kejadian sementara, melainkan bagian dari perubahan industri gaming modern.
Meski begitu, Nintendo tetap optimistis Switch 2 akan mempertahankan daya tariknya lewat ekosistem game eksklusif yang kuat serta popularitas franchise mereka yang sudah mendunia.
Dalam pernyataan resminya, Nintendo juga menyampaikan permintaan maaf kepada pelanggan atas dampak kenaikan harga tersebut dan berharap pengguna dapat memahami keputusan perusahaan.
Bagi gamer sendiri, situasi ini bisa menjadi sinyal bahwa membeli konsol generasi baru kemungkinan akan semakin mahal dalam beberapa tahun ke depan.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update