Banyak warga mengeluhkan kondisi udara yang panas dan pengap saat beristirahat.
Jakarta (Lampost.co) — Fenomena cuaca panas kembali terasa di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Tidak hanya siang hari, suhu udara pada malam hari juga terasa lebih gerah dari biasanya.
Banyak warga mengeluhkan kondisi udara yang panas dan pengap saat beristirahat. Fenomena itu terjadi di sejumlah daerah, termasuk kawasan Jabodetabek dan kota besar lainnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi tersebut memang pengaruh beberapa faktor atmosfer yang sedang aktif di Indonesia.
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan suhu udara di beberapa wilayah bahkan mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius.
“Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, suhu terukur tertinggi di wilayah Jabodetabek tercatat mencapai 35-36°C di wilayah Jakarta Utara dan sekitarnya,” ujarnya.
BMKG menyebut posisi semu matahari saat ini berada di sekitar lintang utara khatulistiwa. Kondisi itu membuat intensitas sinar matahari ke wilayah Indonesia semakin kuat.
Paparan sinar matahari menjadi lebih maksimal sejak pagi hingga siang hari. Akibatnya, suhu udara meningkat lebih cepat dari biasanya.
“Posisi semu matahari di periode April itu berada di sekitar lintang Khatulistiwa bagian utara,” kata Andri.
Cuaca cerah tanpa banyak awan turut memperparah suhu panas. Awan yang biasanya menghalangi radiasi matahari kini berkurang cukup signifikan.
Akibatnya, panas matahari langsung menyentuh permukaan bumi tanpa hambatan. BMKG menilai kondisi itu membuat suhu udara terasa lebih menyengat, terutama pada siang hingga sore hari.
Selain faktor matahari, BMKG juga menyoroti pengaruh angin timuran dari Australia. Angin tersebut membawa massa udara kering menuju Indonesia. Kondisi itu membuat pembentukan awan hujan berkurang, terutama di wilayah selatan khatulistiwa.
Meski udara cenderung kering, tingkat kelembapan di Indonesia masih cukup tinggi. Kombinasi panas dan lembap itu yang membuat tubuh terasa lebih gerah.
BMKG memastikan fenomena itu menjadi tanda Indonesia mulai memasuki masa transisi menuju musim kemarau 2026.
Pada periode pancaroba, hujan mulai berkurang dan langit lebih sering cerah sepanjang hari. “Kondisi itu merupakan pertanda masa transisi menuju musim kemarau,” jelas Andri.
BMKG memperkirakan musim kemarau mulai datang bertahap sejak April hingga Juni 2026. Beberapa daerah bakal mengalami penurunan curah hujan pada Mei 2026.
Sementara itu, puncak musim kemarau kemungkinan berlangsung antara Juli hingga September 2026. Mayoritas wilayah Indonesia bisa mengalami puncak kemarau pada Agustus.
BMKG juga menjelaskan pola musim di setiap daerah bisa berbeda karena pengaruh geografis dan karakteristik iklim masing-masing wilayah.
Suhu udara tinggi dapat memicu migrain dan sakit kepala. Risiko meningkat saat kelembapan udara juga tinggi.
Cuaca panas membuat jantung bekerja lebih keras untuk menurunkan suhu tubuh. Kondisi itu berbahaya bagi penderita penyakit jantung.
Paparan panas ekstrem dapat memengaruhi pembuluh darah dan tekanan darah. Risiko stroke meningkat pada lansia dan penderita hipertensi.
Tubuh kehilangan banyak cairan saat cuaca panas. Jika tidak segera mengganti cairan, tubuh bisa mengalami dehidrasi berat.
Heatstroke menjadi kondisi paling berbahaya akibat cuaca panas ekstrem. Suhu tubuh meningkat drastis dan dapat mengancam nyawa.
BMKG mengimbau masyarakat menjaga kondisi tubuh selama cuaca panas berlangsung.
Beberapa langkah sederhana antara lain:
Karena suhu udara masih menyimpan panas dari siang hari dan kelembapan udara yang tinggi.
BMKG menyebut fenomena itu masih berkaitan dengan masa transisi menuju musim kemarau.
Cuaca bisa berubah mengikuti perkembangan musim dan kondisi atmosfer beberapa bulan ke depan.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update