Ketika Komunitas Literasi Menjadi Rumah Anak Muda

Dalam beberapa tahun terakhir, geliat komunitas literasi anak muda di Indonesia menunjukkan perkembangan yang menarik.

Editor Triyadi Isworo
Sabtu, 09 Mei 2026 09.31 WIB
Ketika Komunitas Literasi Menjadi Rumah Anak Muda
Dosen Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Lampung, Renti Oktaria, M.Pd. Dok. Unila

DALAM beberapa tahun terakhir, geliat komunitas literasi anak muda di Indonesia menunjukkan perkembangan yang menarik. Berbagai daerah, termasuk Lampung, muncul ruang-ruang belajar alternatif yang terbangun secara mandiri oleh anak muda. Bentuknya beragam: rumah baca, kelas diskusi, klub menulis, komunitas relawan pendidikan, gerakan donasi buku, hingga ruang kreatif berbasis media digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa literasi tidak lagi dipahami sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan telah berkembang menjadi ruang pembentukan identitas sosial, jejaring pertemanan, kreativitas, dan kepedulian sosial. Anak muda tidak hanya ingin belajar, tetapi juga ingin merasa terhubung, diakui, dan memiliki ruang untuk bertumbuh bersama.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, fenomena ini dapat dipahami melalui teori social capital dari Pierre Bourdieu dan Robert D. Putnam. Keduanya menjelaskan bahwa komunitas bukan hanya tempat berkumpul, melainkan ruang pembentukan modal sosial berupa kepercayaan, jaringan, dan rasa saling memiliki. Komunitas literasi menjadi penting karena menghadirkan hubungan sosial yang mampu memperkuat rasa percaya diri, identitas, dan kesempatan berkembang bagi anak muda.

Di Lampung, misalnya, muncul berbagai komunitas yang tumbuh dari semangat kerelawanan dan kepedulian terhadap pendidikan. Gubuk Literasi menjadi salah satu contoh komunitas yang menghimpun anak-anak muda untuk bertumbuh sebagai relawan pendidikan. Melalui pendampingan yang dilakukan oleh Dwiariyansyah atau yang akrab dipanggil Kak Anca, para relawan tidak hanya belajar tentang kegiatan literasi, tetapi juga belajar mengajar anak usia dini, membangun empati sosial, dan memahami arti pengabdian di tengah masyarakat.

Di sisi lain, Baca Di Bataranila hadir sebagai ruang bertumbuh bagi anak-anak muda untuk belajar berkarya, berdiskusi, dan mengembangkan potensi diri untuk masa depan mereka. Komunitas ini didirikan dan dimentoring oleh Dr. Purwanto Putra (Dosen FISIP Universitas Lampung) dan Renti Oktaria yang tidak hanya membimbing dalam aspek akademik dan kreativitas, tetapi juga mendampingi proses pencarian jati diri generasi muda.

Begitu juga dengan Adi Sarwono atau yang dikenal sebagai Mang Adi, juga menjadi contoh penting bagaimana komunitas literasi dapat tumbuh dari kepedulian sosial akar rumput. Melalui Busa Pustaka, ia membangun perpustakaan keliling mandiri sekaligus rumah singgah bagi anak-anak terlantar di Lampung. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa komunitas literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi juga tentang menghadirkan ruang aman, perhatian sosial, dan harapan hidup bagi anak-anak yang berada dalam situasi rentan.

Bagi banyak anak muda, komunitas-komunitas seperti ini bukan sekadar tempat berkegiatan. Ia perlahan menjadi “rumah sosial” yang menghadirkan rasa aman, penerimaan, dan kesempatan untuk tumbuh tanpa takut dihakimi. Tidak sedikit anak muda yang menemukan kembali rasa percaya dirinya setelah bergabung dalam komunitas literasi.

Mentor dan Semangat Idealismenya.

Di tengah situasi tersebut, muncul sosok-sosok mentor komunitas yang bekerja senyap di balik layar. Mereka bukan hanya mengelola program, melainkan juga mendampingi proses tumbuh anak muda secara emosional, intelektual, bahkan personal. Mentor komunitas sering kali menjadi tempat berdiskusi, meminta pertimbangan hidup, hingga mencari rasa aman yang tidak selalu ditemukan di lingkungan formal.

Namun, di balik romantisme tumbuhnya komunitas literasi, terdapat tantangan besar yang jarang dibicarakan secara terbuka: kelelahan emosional seorang mentor.
Dalam praktiknya, membangun komunitas anak muda bukan sekadar mengatur kegiatan atau menyediakan fasilitas belajar. Yang jauh lebih sulit adalah menjaga relasi, mengelola ekspektasi, dan menerima kenyataan bahwa tidak semua orang memiliki cara pandang yang sama tentang loyalitas dan penghargaan.

Banyak mentor memulai komunitas dengan semangat idealisme. Mereka membuka rumah, waktu, tenaga, relasi, bahkan sumber daya pribadi demi membantu anak muda berkembang. Sebagian mentor rela memperkenalkan anggota komunitas kepada jaringan profesional, memberi kesempatan tampil, membantu publikasi karya, hingga membimbing proses akademik dan karier secara langsung.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Relational-Cultural Theory yang dikembangkan oleh Jean Baker Miller. Teori ini menjelaskan bahwa manusia tumbuh melalui hubungan yang bermakna (growth-fostering relationships). Dalam relasi mentoring, seseorang tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga memberi perhatian emosional, validasi diri, dan rasa keterhubungan.

Karena itu, banyak mentor komunitas akhirnya tidak sekadar memandang anggota sebagai peserta kegiatan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang ingin mereka bantu tumbuhkan. Di titik inilah komunitas literasi sering berubah menjadi ruang yang sangat personal.
Namun, relasi yang kuat juga melahirkan kerentanan emosional. Ketika hubungan yang dibangun dengan penuh kepercayaan ternyata tidak berjalan sesuai harapan, mentor dapat mengalami rasa kecewa yang mendalam. Tidak sedikit mentor merasa terluka ketika melihat anak didiknya tumbuh besar tanpa lagi mengingat proses yang pernah dibangun bersama.

Situasi tersebut sebenarnya tidak hanya terjadi di komunitas literasi. Fenomena serupa muncul di berbagai organisasi kerelawanan, komunitas kreatif, hingga gerakan sosial berbasis anak muda. Banyak pendiri komunitas mengalami emotional burnout atau kelelahan emosional akibat relasi pengasuhan sosial yang terlalu intens.

Konsep ini berkaitan dengan teori burnout dari Christina Maslach yang menjelaskan bahwa individu yang terus-menerus memberi dukungan emosional kepada orang lain dapat mengalami kelelahan psikologis dan penurunan makna personal terhadap pekerjaannya. Dalam konteks komunitas, mentor sering kali menjadi “penyangga emosi” bagi banyak orang, tetapi tidak selalu memiliki ruang untuk memulihkan dirinya sendiri.

Generasi Muda dan Personal Branding

Di sisi lain, generasi muda hari ini juga tumbuh dalam kultur sosial yang berbeda. Mereka hidup di tengah arus media sosial yang sangat cepat, budaya personal branding yang kuat, serta pola relasi yang lebih dinamis dibanding generasi sebelumnya. Kondisi ini relevan dengan konsep liquid modernity dari Zygmunt Bauman yang menjelaskan bahwa masyarakat modern memiliki hubungan sosial yang lebih fleksibel dan mudah berubah.

Akibatnya, mentor dan anak muda kadang memiliki persepsi berbeda tentang makna relasi. Mentor memandang hubungan sebagai ikatan jangka panjang yang sarat nilai emosional. Sebaliknya, sebagian anak muda memandang komunitas sebagai ruang belajar yang penting, tetapi tetap bersifat dinamis sesuai kebutuhan dan perjalanan hidup mereka.

Padahal, komunitas literasi yang sehat tidak lahir semata karena program yang bagus, melainkan karena adanya relasi manusia yang hangat dan konsisten. Banyak anak muda bertahan di komunitas bukan karena fasilitas, tetapi karena merasa diterima sebagai manusia.

Oleh karena itu, tantangan terbesar membangun komunitas literasi saat ini bukan hanya soal pendanaan atau keberlanjutan program, tetapi juga bagaimana membangun relasi yang sehat antara mentor dan generasi muda.
Mentor perlu menjaga idealisme tanpa tenggelam dalam ekspektasi emosional yang berlebihan. Sementara anak muda juga perlu belajar bahwa setiap pencapaian selalu melibatkan banyak tangan yang pernah membantu proses mereka bertumbuh. Budaya menghargai proses, menyebut kontribusi orang lain, dan menjaga hubungan baik merupakan bagian penting dari literasi sosial yang sering terlupakan.

Pada akhirnya, membangun komunitas literasi adalah pekerjaan peradaban yang tidak sederhana. Ia membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan kesiapan untuk menerima bahwa manusia datang dan pergi dengan berbagai kepentingannya masing-masing. Tidak semua orang akan tinggal lama, tidak semua orang akan membalas dengan cara yang sama, dan tidak semua hubungan akan berjalan sesuai harapan.

Namun, bukan berarti upaya mendampingi anak muda menjadi sia-sia. Setiap ruang literasi yang berhasil membuat seorang anak muda merasa aman untuk belajar, berpikir, dan berkembang sesungguhnya telah menciptakan dampak sosial yang besar. Bisa jadi seorang mentor tidak selalu diingat namanya, tetapi nilai-nilai yang pernah ia tanamkan tetap hidup dalam perjalanan orang lain.

Di tengah dunia yang semakin individualistik, keberadaan komunitas literasi tetap penting sebagai ruang untuk menjaga empati, dialog, dan kemanusiaan. Dan di balik komunitas-komunitas itu, ada para mentor yang diam-diam terus bekerja, meski kadang harus menahan lelah dan kecewa sendirian.

Mungkin inilah bentuk pengabdian sosial paling sunyi pada zaman sekarang: tetap percaya pada potensi anak muda, bahkan ketika tidak semua penghargaan kembali kepada diri kita sendiri.

Oleh:
Renti Oktaria, M.Pd.
Dosen S1 PGPAUD Jurusan Ilmu Pendidikan
FKIP Universitas Lampung

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI