Teheran (Lampost.co) — Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Amerika Serikat mengklaim keberhasilan operasi militernya. Pernyataan itu langsung memicu bantahan keras dari Iran.
United States Central Command melalui komandannya, Brad Cooper, menyebut pasukan AS menghancurkan kekuatan laut Iran. Ia mengatakan militer AS “menghilangkan” sejumlah kapal Iran yang mengganggu jalur pelayaran.
Pihak Iran langsung merespons dengan nada tegas. Seorang pejabat militer senior Iran menyebut pernyataan tersebut tidak benar.
Bantahan itu mempertegas perbedaan narasi antara Washington dan Teheran. “Klaim AS mengenai penenggelaman sejumlah kapal tempur Iran adalah kebohongan,” ujar sumber militer kepada IRIB.
Ketegangan itu berkaitan dengan operasi militer Donald Trump. Program bernama “Project Freedom” bertujuan mengawal kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Jalur itu sempat terganggu sejak konflik memanas pada Februari.
AS menyebut operasi itu sebagai langkah pengamanan jalur laut global. Namun, Iran melihatnya sebagai bentuk tekanan militer.
Selain soal kapal yang tenggelam, muncul laporan lain dari pihak Iran. Fars News Agency menyebut militer Iran menembak kapal patroli AS.
Namun, United States Central Command membantah laporan tersebut. Mereka memastikan tidak ada kapal AS yang terkena serangan. Perbedaan klaim itu memperlihatkan situasi yang semakin tidak pasti di kawasan.
Selat Hormuz memegang peran vital dalam perdagangan energi global. Sekitar 20 persen minyak dunia melewati jalur ini.
Untuk itu, setiap konflik di kawasan itu langsung berdampak luas. Ketegangan militer dapat mengganggu stabilitas pasar energi global.
Iran sempat mengajukan mekanisme baru untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz. Proposal itu menjadi bagian dari upaya meredakan konflik.
Namun, Amerika Serikat menolak usulan tersebut. Washington tetap memilih pendekatan tekanan militer. Sebagai langkah lanjutan, AS bahkan menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai blokade tersebut sebagai pelanggaran serius. Ia menyebut tindakan itu setara dengan deklarasi perang dan melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Pernyataan itu menunjukkan jalur diplomasi masih menghadapi hambatan besar. “Proyek Kebebasan adalah Proyek Kebuntuan,” ujarnya.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda konflik akan mereda. Kedua pihak tetap mempertahankan posisi masing-masing. Situasi di Selat Hormuz masih menjadi sorotan dunia. Perkembangan selanjutnya akan sangat menentukan stabilitas kawasan.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update