Pendekatan gabungan antara sains, teknologi akustik, dan seni bawah laut dianggap sebagai langkah baru dalam dunia konservasi.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Kerusakan terumbu karang selama ini identik dengan perubahan warna laut dan hilangnya kehidupan bawah air. Namun bagi para peneliti, ada satu tanda lain yang tidak kalah penting: lautan yang terlalu sunyi.
Di Jamaika, ilmuwan kini mencoba cara tidak biasa untuk menghidupkan kembali terumbu karang yang rusak. Bukan memakai alat berat atau teknologi futuristik rumit, melainkan dengan suara dan karya seni bawah laut.
Metode unik ini mulai menarik perhatian karena dianggap membuka cara baru dalam menyelamatkan ekosistem laut yang terus terancam akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa larva karang ternyata menggunakan suara sebagai penunjuk arah alami di lautan.
Saat terumbu karang sehat, bawah laut dipenuhi suara khas seperti gemerisik udang, pergerakan ikan, hingga getaran ekosistem laut yang aktif.
Sebaliknya, terumbu karang yang rusak cenderung sunyi.
Kondisi itulah yang membuat banyak larva karang gagal menemukan tempat aman untuk tumbuh dan berkembang.
Berangkat dari temuan tersebut, para peneliti mulai menggunakan teknologi akustik dengan memutar rekaman suara terumbu karang sehat melalui pengeras suara bawah air.
Hasil awalnya cukup mengejutkan.
Penelitian dari Woods Hole Oceanographic Institution menemukan bahwa suara laut sehat mampu meningkatkan keberhasilan larva karang menetap hingga tujuh kali lipat.
Proyek restorasi ini juga melibatkan pendekatan seni yang tidak biasa.
Peneliti bekerja sama dengan Marco Barotti untuk menciptakan patung bawah laut yang berfungsi sebagai media tumbuh karang baru.
Fragmen karang ditempelkan pada struktur seni tersebut agar organisme laut memiliki tempat berkembang biak di area yang sudah rusak.
Patung-patung itu bukan hanya menjadi karya visual, tetapi juga dirancang sebagai habitat buatan yang membantu kehidupan laut kembali muncul.
Menurut para peneliti, suara ternyata memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Terumbu karang sehat dipenuhi aktivitas biologis yang menghasilkan “hiruk pikuk” alami di bawah air. Suara-suara kecil itu menjadi sinyal bagi berbagai organisme laut untuk berkumpul dan berkembang.
Sebaliknya, saat karang mati atau memutih, lautan berubah jauh lebih sepi.
Fenomena tersebut kini menjadi petunjuk baru bagi ilmuwan dalam memahami kesehatan laut.
Pendekatan gabungan antara sains, teknologi akustik, dan seni bawah laut dianggap sebagai langkah baru dalam dunia konservasi.
Meski masih terus diteliti, metode ini memberi harapan bahwa restorasi karang tidak selalu harus mengandalkan pendekatan konvensional.
Para peneliti kini masih memantau efektivitas jangka panjangnya, termasuk apakah suara buatan benar-benar mampu membantu proses reproduksi alami karang di masa depan.
Namun satu hal mulai terlihat jelas: untuk menghidupkan kembali laut yang rusak, ilmuwan kini tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga mencoba “mengembalikan suara” kehidupan ke dasar samudra.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update