Bulan Diam-Diam Mengubah Waktu di Bumi, Ini Penyebabnya

Fenomena tersebut bukan sekadar teori. Para ilmuwan mengukurnya menggunakan teknologi laser berakurasi tinggi.

Editor Denny
Jumat, 15 Mei 2026 13.36 WIB
Bulan Diam-Diam Mengubah Waktu di Bumi, Ini Penyebabnya
bulan menjauh dari bumi

Bandar Lampung (Lampost.co) — Selama ini banyak orang mengira Bulan hanya menjadi penghias langit malam atau penyebab pasang surut air laut. Namun di balik itu, satelit alami Bumi tersebut ternyata sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar: memperlambat waktu di planet kita.

Fakta mengejutkan ini datang dari pengamatan ilmiah selama puluhan tahun. Para astronom menemukan bahwa Bulan terus bergerak menjauh dari Bumi sedikit demi sedikit. Jaraknya memang tampak kecil, hanya sekitar 3,8 sentimeter per tahun, tetapi dampaknya berlangsung dalam skala kosmik dan memengaruhi panjang hari di Bumi.

Saat ini, rata-rata jarak Bulan dari Bumi mencapai sekitar 385 ribu kilometer. Orbitnya juga tidak benar-benar tetap karena bisa berubah hingga puluhan ribu kilometer tergantung posisinya. Namun tren utamanya tetap sama: Bulan perlahan menjauh.

Teknologi Laser

Fenomena tersebut bukan sekadar teori. Para ilmuwan mengukurnya menggunakan teknologi laser berakurasi tinggi. Sejak era misi Apollo, cermin khusus telah dipasang di permukaan Bulan. Dari Bumi, sinar laser ditembakkan ke arah cermin itu lalu dihitung waktu pantulnya kembali. Dari situlah perubahan jarak Bulan dapat diketahui hingga hitungan sangat kecil.

Yang menarik, penyebab utama Bulan menjauh ternyata berasal dari lautan di Bumi sendiri.

Gravitasi Bulan menarik air laut dan menciptakan pasang surut. Karena Bumi berputar lebih cepat dibanding orbit Bulan, tonjolan air laut itu sedikit “mendahului” posisi Bulan. Tonjolan tersebut kemudian memberikan dorongan gravitasi tambahan yang membuat Bulan terdorong semakin jauh dari Bumi.

Di saat bersamaan, energi rotasi Bumi ikut terkuras. Akibatnya, putaran Bumi perlahan melambat dan durasi satu hari menjadi semakin panjang.

Perubahan itu memang tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun bukti ilmiahnya ditemukan pada fosil organisme laut purba. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 70 juta tahun lalu, satu hari di Bumi hanya berlangsung sekitar 23,5 jam. Artinya, dinosaurus hidup di masa ketika waktu berjalan sedikit lebih cepat dibanding sekarang.

Tidak Perlu Khawatir

Meski terdengar dramatis, manusia tidak perlu khawatir Bulan akan meninggalkan Bumi dalam waktu dekat. Gerhana matahari, pasang surut laut, hingga siklus malam dan siang masih akan tetap berlangsung normal selama jutaan tahun mendatang.

Dalam skenario sangat jauh di masa depan, Bumi dan Bulan diperkirakan bisa mencapai kondisi tidal locking, yakni situasi ketika satu sisi Bumi terus menghadap Bulan. Namun sebelum itu terjadi, para ilmuwan memperkirakan Matahari akan lebih dulu memasuki fase raksasa merah sekitar 5 miliar tahun lagi.

Dengan kata lain, Bulan memang sedang menjauh. Tetapi perjalanan pelan satelit alami ini justru menjadi pengingat bahwa alam semesta terus bergerak, bahkan ketika manusia merasa semuanya tampak diam.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI