Viral Jawaban Sama Tapi Nilai Beda, MPR Akhirnya Buka Suara soal Lomba Cerdas Cermat Kalbar

Peristiwa itu langsung memicu reaksi warganet dan ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial.

Editor Effran
Rabu, 13 Mei 2026 21.51 WIB
Viral Jawaban Sama Tapi Nilai Beda, MPR Akhirnya Buka Suara soal Lomba Cerdas Cermat Kalbar

Kalimantan (Lampost.co) — Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR tingkat Provinsi Kalimantan Barat mendadak menjadi sorotan publik. Video cuplikan perlombaan itu viral setelah muncul perdebatan soal penilaian juri terhadap jawaban peserta.

Dalam rekaman yang beredar, dua kelompok peserta memberikan jawaban yang terdengar sama. Namun, dewan juri justru memberikan nilai berbeda. Peristiwa itu langsung memicu reaksi warganet dan ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial.

Menanggapi polemik tersebut, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) akhirnya buka suara.

Sekretaris Jenderal MPR Siti Fauziah mengatakan pihaknya menghormati perhatian masyarakat terhadap pelaksanaan lomba tersebut. Menurutnya, kegiatan pendidikan kebangsaan harus menjunjung sportivitas, objektivitas, dan keadilan.

“Terkait ramainya pemberitaan di media sosial tentang LCC Empat Pilar 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat mengenai penilaian jawaban peserta pada salah satu sesi lomba. Panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI saat itu tengah melakukan penelusuran internal,” ujar Siti dalam keterangan tertulis, Senin (11/5/2026).

MPR Janji Evaluasi Sistem Penilaian

Siti menjelaskan MPR akan mengevaluasi seluruh aspek teknis perlombaan. Evaluasi tersebut mencakup sistem penilaian, kejelasan artikulasi jawaban, hingga mekanisme keberatan peserta.

Selain itu, MPR juga akan meninjau ulang tata kelola perlombaan agar kejadian serupa tidak terulang kembali. “Masukan publik akan menjadi bahan evaluasi penting demi menjaga kualitas kegiatan dan kepercayaan masyarakat terhadap proses pembelajaran kebangsaan yang inklusif, edukatif, dan berintegritas,” lanjutnya.

Kronologi Jawaban Sama Tapi Nilai Berbeda

Perdebatan bermula saat pembawa acara memberikan pertanyaan rebutan kepada tiga kelompok peserta.

Pertanyaan tersebut membahas proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK.

“DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?” tanya pembawa acara.

Kelompok C dari SMAN 1 Pontianak lebih dulu menekan bel dan menjawab pertanyaan. “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden,” jawab peserta Grup C.

Namun, salah satu juri yakni Dyastasita memberikan nilai minus lima. Pertanyaan kemudian dilempar kembali ke peserta lain.

Kelompok B dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang terdengar sama. “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden,” jawab peserta Grup B.

Kali ini, juri justru memberikan nilai penuh. “Iya, inti jawabannya sudah benar. Nilai 10,” kata Dyastasita.

Situasi langsung memanas karena peserta Grup C merasa jawaban mereka identik dengan Grup B.

Peserta Protes Penilaian Juri

Peserta Grup C kemudian mengajukan protes di tengah perlombaan. “Izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B. Sama,” ujar peserta Grup C.

Namun, juri tetap menyatakan jawaban Grup C tidak menyebut Dewan Perwakilan Daerah atau DPD. “Tadi disebutkan regu C ya, itu pertimbangan dari DPD-nya tidak ada,” kata Dyastasita.

Peserta Grup C kembali membantah dan meminta penonton menjadi saksi. Namun, dewan juri tetap mempertahankan keputusan mereka.

Juri Soroti Artikulasi Peserta

Dewan juri lain yakni Indri Wahyuni meminta peserta memperjelas artikulasi saat menjawab. “Artikulasi itu penting ya. Kalau Dewan Juri tidak mendengar dengan jelas, maka penilaian tetap menjadi hak Dewan Juri,” ujar Indri.

Pernyataan itu kembali memicu komentar dari publik. Banyak warganet mempertanyakan konsistensi penilaian dalam lomba tersebut.

Hingga kini, video kontroversial itu masih ramai dibahas di media sosial. Publik menunggu hasil penelusuran internal dari MPR terkait polemik penilaian tersebut. Kasus itu juga memunculkan sorotan terhadap transparansi dan objektivitas perlombaan pendidikan tingkat nasional.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI