Selat Hormuz Membara: Iran Tembaki dan Sita Kapal Dagang

Insiden itu terjadi di tengah mandeknya pembicaraan damai antara Iran dan pihak Barat. Ketegangan yang terus meningkat kini mengancam jalur pelayaran global.

Editor Effran
Jumat, 24 April 2026 11.11 WIB
Selat Hormuz Membara: Iran Tembaki dan Sita Kapal Dagang
Kapal tanker berada di perairan dekat Selat Hormuz. Foto/anadolu

Teheran (Lampost.co) — Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran mengambil langkah militer tegas. Teheran menembaki dan menyita kapal dagang yang mencoba keluar dari Teluk.

Insiden itu terjadi di tengah mandeknya pembicaraan damai antara Iran dan pihak Barat. Ketegangan yang terus meningkat kini mengancam jalur pelayaran global.

Pemerintah Iran mengonfirmasi penangkapan dua kapal kontainer pada Rabu, 22 April 2026. Tindakan itu menjadi penyitaan pertama sejak konflik terbaru pecah awal tahun.

 IRGC Tegaskan “Garis Merah” di Jalur Vital Dunia

Operasi Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC memperketat pengawasan di perairan strategis tersebut. IRGC menegaskan setiap gangguan di Selat Hormuz menjadi pelanggaran serius. Mereka menyebut keamanan jalur itu sebagai “garis merah”.

Selat itu memegang peran krusial dalam ekonomi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas setiap hari melalui jalur ini. Namun, sejak insiden terbaru, lalu lintas kapal turun drastis. Aktivitas pelayaran kini hanya diisi segelintir kapal.

 Kronologi Penembakan dan Penyitaan Kapal

Salah satu kapal yang disita adalah MSC Francesca. Kapal berbendera Panama itu dihentikan setelah terkena tembakan ringan.

Pemerintah Montenegro memastikan empat awak negaranya berada di kapal tersebut. Mereka dilaporkan dalam kondisi aman. “Negosiasi antara perusahaan pelayaran dan pihak Iran sedang berlangsung,” ujar pejabat maritim Montenegro.

Kapal kedua, Epaminondas, mengalami serangan lebih serius. Kapal itu ditembaki di perairan dekat Oman. Menurut laporan, IRGC menggunakan senjata berat dan roket. Serangan menyebabkan kerusakan pada bagian anjungan kapal.

Operator kapal, Technomar Shipping Inc, memastikan seluruh awak selamat. Namun, pasukan Iran kemudian naik ke kapal tersebut. Kapal itu membawa 21 awak dari Ukraina dan Filipina. Hingga kini, status penyitaan masih dalam proses klarifikasi.

 Kapal Ketiga Lolos dari Serangan

Kapal Euphoria juga menjadi target tembakan. Namun, kapal berhasil lolos tanpa kerusakan serius. Kapal tersebut melanjutkan pelayaran hingga wilayah Fujairah.

 Dampak Global dan Risiko Ekonomi

Insiden itu langsung mengguncang pasar energi global. Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.

Analis dari platform logistik global menilai kondisi itu sangat berbahaya. Risiko terhadap kapal, awak, dan kargo meningkat tajam. “Penyitaan itu menunjukkan jalur yang dibuka tetap tidak aman,” ujar Peter Sand dari Xeneta.

Selain itu, blokade Amerika Serikat terhadap Iran memperparah situasi. Kedua pihak saling menekan tanpa titik temu.

 Ketidakpastian Pelayaran dan Diplomasi

Ketegangan itu juga berdampak pada diplomasi regional. Pembicaraan damai yang terhenti membuat situasi semakin sulit terprediksi.

Beberapa kapal turut mematikan sistem navigasi saat melintas. Hal itu memicu kecurigaan dan meningkatkan risiko konflik. Kapal-kapal itu kini menuju Bandar Abbas, salah satu pelabuhan utama Iran.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI