3 Kesepakatan Besar dari Pertemuan Trump dan Xi Jinping Bikin Dunia Tegang

Editor Effran
Minggu, 17 Mei 2026 11.25 WIB
3 Kesepakatan Besar dari Pertemuan Trump dan Xi Jinping Bikin Dunia Tegang
Pertemuan Trump dan Xi Jinping. Getty Image

Beijing (Lampost.co) – Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping akhirnya menghasilkan sejumlah kesepakatan penting. Pertemuan yang berlangsung selama dua hari itu langsung menjadi perhatian dunia karena menyangkut perang dagang, Taiwan, hingga konflik Iran.

Kunjungan Trump ke Beijing pekan ini juga memberi sinyal positif terhadap hubungan Washington dan Beijing yang sempat memanas dalam beberapa tahun terakhir.

Meski jadwal pertemuan sempat tertunda akibat perang Iran, kedua pemimpin negara akhirnya sepakat melanjutkan komunikasi tingkat tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Pertemuan tersebut ditutup dengan rencana pertemuan lanjutan pada musim gugur tahun ini.

 Isu Taiwan dan Iran Jadi Pembahasan Panas

Salah satu topik paling sensitif dalam pertemuan Trump dan Xi Jinping adalah soal Taiwan. Media pemerintah China melaporkan Xi Jinping memberi peringatan keras kepada Trump terkait isu tersebut.

Xi menilai kesalahan langkah terkait Taiwan bisa memperburuk hubungan kedua negara. Selain Taiwan, konflik Iran juga ikut menjadi pembahasan penting dalam pertemuan itu.

Trump mengklaim China sepakat membeli minyak mentah dari Amerika Serikat dan membantu proses negosiasi terkait Iran. Namun, Trump belum menjelaskan jadwal maupun volume pembelian minyak tersebut.

Sampai sekarang, pemerintah China juga belum mengeluarkan konfirmasi resmi mengenai kesepakatan minyak itu.

Kepala Ekonom China di Economist Intelligence Unit, Yue Su, menilai kedua negara berusaha menunjukkan hubungan yang lebih positif.

Ia juga menilai China memiliki keterbatasan dalam memengaruhi Iran secara langsung. “Saya pikir masing-masing pihak memenuhi janjinya. Namun, tidak ada diskusi substantif tentang Taiwan,” ujarnya.

 Gencatan Perang Dagang Masih Berlanjut

Pertemuan Trump dan Xi Jinping juga memperkuat gencatan perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Meski belum ada rincian lengkap soal kesepakatan terbaru, kedua negara terlihat berusaha menjaga stabilitas hubungan ekonomi.

Trump bahkan mengundang Xi Jinping untuk berkunjung ke Amerika Serikat pada 24 September mendatang. Undangan itu membuka peluang negosiasi baru sebelum masa gencatan perang dagang berakhir pada Oktober 2025.

Sebelumnya, kedua negara menyepakati penurunan tarif dan pencabutan pembatasan logam tanah jarang. Xi Jinping menyebut China dan AS ingin membangun stabilitas strategis yang konstruktif dalam beberapa tahun ke depan.

Analis China Macro Group, Jack Lee, menilai Beijing sedang memanfaatkan pendekatan Trump untuk membangun hubungan jangka panjang. “Beijing tampaknya mencoba mengubah pendekatan transaksional Trump menjadi kerangka hubungan jangka panjang,” katanya.

 Boeing dan Nvidia Dapat Angin Segar dari China

Selain isu geopolitik, sektor bisnis juga mendapat dampak positif dari pertemuan tersebut. Trump mengungkapkan China berencana memesan 200 pesawat Boeing.

Jumlah itu melampaui perkiraan awal perusahaan yang sebelumnya berada di angka 150 unit. Kesepakatan itu langsung memberi sentimen positif terhadap industri penerbangan Amerika Serikat.

Tidak hanya Boeing, perusahaan teknologi Nvidia juga mendapat kabar baik. Pemerintah AS mengizinkan Nvidia kembali menjual chip H200 ke perusahaan besar di China. Kabar itu langsung mendorong penguatan saham sektor teknologi global.

CEO Boeing Kelly Ortberg dan CEO Nvidia Jensen Huang ikut mendampingi Trump selama kunjungan ke Beijing. Beberapa petinggi perusahaan besar AS juga hadir dalam agenda pertemuan bisnis bersama Perdana Menteri China Li Qiang.

Mereka di antaranya CEO Apple Tim Cook dan perwakilan Tesla milik Elon Musk. Meski begitu, pemerintah China belum mengumumkan kebijakan konkret terkait pembukaan pasar baru bagi bisnis asing.

Banyak pengamat menilai pertemuan Trump dan Xi Jinping menjadi langkah penting untuk meredakan ketegangan global. Selain menyentuh isu ekonomi, kedua negara juga mulai membuka ruang komunikasi terkait konflik geopolitik.

Meski masih banyak perbedaan kepentingan, pertemuan tersebut memberi sinyal hubungan AS dan China belum sepenuhnya memburuk.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI