Sutradara Cypri Paju Dale menjelaskan penggunaan istilah “kolonialisme” bukan sekadar sensasi.
Jakarta (Lamposr.co) – Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita terus memicu perdebatan publik. Setelah ramai di media sosial, salah satu sutradara film tersebut akhirnya buka suara terkait makna di balik judul kontroversial itu.
Sutradara Cypri Paju Dale menjelaskan penggunaan istilah “kolonialisme” bukan sekadar sensasi. Ia menyebut istilah tersebut untuk menggambarkan situasi masyarakat adat Papua secara lebih menyeluruh.
Cypri menyampaikan melalui video dalam akun Instagram Ekspedisi Indonesia Baru pada Jumat, 14 Mei 2026. Sebab, sejumlah pihak mencoba menghambat pemutaran hingga diskusi film tersebut agar tidak menjangkau publik lebih luas.
Cypri mengatakan film dokumenter itu memang untuk membuka ruang diskusi tentang kondisi masyarakat adat di Papua.
“Film itu memang sedang dicegah sejumlah pihak untuk sampai kepada penonton yang luas. Banyak pihak yang berusaha agar apa yang terjadi di Papua tidak masyarakat luas dan dunia yang luas ketahui,” ujarnya.
Ia menduga keberatan terbesar muncul karena penggunaan kata “kolonialisme” dalam judul film tersebut.
“Barangkali sumber keberatan atas film itu adalah karena di dalamnya kami memakai istilah kolonialisme pada judul dan kepada seluruh rangka analisis yang dirajut dalam keseluruhan cerita film,” katanya.
Cypri menjelaskan pembuatan film Pesta Babi melalui pendekatan penelitian sejarah, antropologi, investigasi jurnalistik, dan analisis kebijakan.
Menurutnya, istilah seperti konflik, pelanggaran HAM, hingga deforestasi belum cukup menjelaskan kompleksitas persoalan di Papua.
Untuk itu, tim produksi memilih menggunakan pendekatan kolonialisme sebagai kerangka analisis utama. “Kolonialisme sebagai sebuah rangka berpikir berhasil merangkum semua masalah itu,” jelasnya.
Ia menilai berbagai persoalan di Papua saling berkaitan dan berlangsung secara sistematis selama bertahun-tahun.
Selain menjelaskan makna judul, Cypri juga menyinggung respons publik terhadap isi film tersebut. Ia menyebut film itu bisa memicu pertanyaan besar terkait hubungan Indonesia dengan Papua.
“Mungkin mengganggu bagi kita yang merasa sebagai warga yang baik, kritis, bersolidaritas terhadap orang Papua,” katanya.
Cypri menilai sudah waktunya publik membahas isu tersebut secara terbuka dan jujur. Ia juga mengaitkan diskusi itu dengan amanat UUD 1945 tentang penolakan terhadap penjajahan.
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita produksi Ekspedisi Indonesia Baru pada 2026. Proyek tersebut melibatkan sejumlah jurnalis senior, termasuk Dandhy Laksono dan Farid Gaban.
Film itu menyoroti perjuangan masyarakat adat mempertahankan hak atas tanah mereka. Salah satu fokus utama film tersebut adalah proyek strategis nasional di Papua Selatan. Sebagian pihak menilai proyek itu berdampak terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat adat setempat.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update