Bandar Lampung (Lampost.co) — Sebagai produsen kakao terbesar kelima di Indonesia, Lampung memegang peran strategis dalam peta ekonomi perkebunan nasional.
Namun, kejayaan sektor ini terancam oleh tren penurunan produksi yang signifikan, dari 57.511 ton pada 2020 menjadi estimasi 44.300 ton pada 2026.
Penurunan produktivitas di wilayah sentra seperti Kabupaten Pesawaran, Tanggamus, dan Lampung Selatan ini merupakan dampak akumulatif dari tingginya populasi tanaman berusia tua dan masifnya serangan hama. Serta anomali cuaca ekstrem yang menghambat pertumbuhan kakao.
Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Lampung, Purwadhi Adhiputranto menyampaikan tantangan struktural tersebut kian kompleks dengan adanya ancaman fenomena “Godzilla El Niño”.
Serta ketatnya persyaratan pasar global terhadap standar good agricultural practices (GAP) dan keterlacakan (traceability) produk.
“Tanpa intervensi kebijakan yang terintegrasi, komoditas kakao Lampung berisiko kehilangan daya saing di kancah internasional,” ujarnya, Selasa, 12 Mei 2026.
Oleh karena itu, fokus pembenahan harus diarahkan pada dua pilar utama. Peremajaan infrastruktur pertanian melalui program replanting dan peningkatan kualitas pasca-panen melalui teknik fermentasi. Upaya ini guna menghasilkan biji kakao dengan nilai tambah tinggi yang sesuai dengan spesifikasi industri hilir.
Guna mewujudkan revitalisasi tersebut, perlu penguatan sinergi lintas sektor yang mengintegrasikan penggunaan bibit unggul tahan hama dengan kemitraan strategis antara pemerintah, asosiasi petani, dan pihak swasta sebagai off-taker.
Kolaborasi ini sangat krusial untuk menjamin kepastian harga dan serapan pasar. Sekaligus mempercepat pemenuhan standar regulasi internasional.
Melalui optimalisasi ekosistem ini, sektor kakao harapannya mampu bertransformasi menjadi industri yang lebih resilien dan berorientasi ekspor. Serta mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan di tengah dinamika pasar dunia.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update