Prabowo: Warga Desa Tak Pakai Dolar, Ekonom Bongkar Dampak Rupiah Rp17.600 bagi Rakyat

Pemerintah juga memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berjalan di tengah ketidakpastian global.

Editor Effran
Selasa, 19 Mei 2026 11.43 WIB
Prabowo: Warga Desa Tak Pakai Dolar, Ekonom Bongkar Dampak Rupiah Rp17.600 bagi Rakyat
TRANSAKSI DOLAR. Petugas menghitung uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta. Perubahan besar terjadi dalam perdagangan internasional setelah Rusia dan Kirgizstan memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Jakarta (Lampost.co) — Melemahnya nilai tukar rupiah kembali memicu sorotan publik. Saat kurs dollar Amerika Serikat menyentuh level Rp17.600, Presiden Prabowo Subianto justru melontarkan pernyataan yang mengundang perdebatan luas.

Dalam sebuah acara di Jawa Timur, Prabowo menyebut masyarakat desa tidak memakai dolar dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan itu langsung menuai respons dari sejumlah pengamat ekonomi.

Para ekonom menilai pelemahan rupiah tetap berdampak besar terhadap masyarakat kecil. Mereka menegaskan dampak kurs dolar tidak hanya terasa bagi pelaku pasar atau importir, tetapi juga rakyat kelas bawah.

Kenaikan harga pupuk, bahan bakar, obat-obatan, hingga pangan sangat berkaitan dengan pergerakan dollar AS.

Pernyataan Prabowo soal Dolar Jadi Sorotan

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komentarnya saat menghadiri peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur.

Dalam pidatonya, Prabowo menilai kondisi ekonomi Indonesia masih stabil meski rupiah terus melemah terhadap dollar AS.

“Sekarang ada yang selalu… sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, rupiah begini, dolar begini… Mau dolar berapa ribu kek, orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok,” ujar Prabowo.

Ia juga meminta masyarakat tidak terlalu khawatir terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah. Menurut Prabowo, ketahanan pangan dan energi Indonesia masih aman di tengah tekanan ekonomi global.

Selain itu, Prabowo sempat berkelakar soal pihak yang paling khawatir terhadap pelemahan rupiah. “Yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri,” katanya disambut tawa para tamu undangan.

Dampak Dollar Tetap Masuk ke Desa

Pengamat ekonomi menilai pernyataan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan ekonomi nasional.

Analis senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita, menjelaskan masyarakat desa memang tidak bertransaksi menggunakan dollar secara langsung.

Namun, hampir seluruh kebutuhan produksi tetap bergantung pada barang impor atau bahan baku berbasis dollar.

Harga Pupuk hingga BBM Ikut Terdampak

Ronny menyebut petani tetap terkena dampak pelemahan rupiah melalui kenaikan biaya produksi. Mulai dari pupuk, bahan bakar minyak, pakan ternak, mesin pertanian, hingga obat-obatan sangat terpengaruh kurs dollar AS.

Ketika rupiah melemah, biaya impor ikut naik. Kondisi itu kemudian mendorong kenaikan harga barang kebutuhan masyarakat. “Artinya, masyarakat desa tetap terkena dampaknya meski tidak pernah melihat dolar secara fisik,” kata Ronny.

Ia menilai pernyataan pemerintah seharusnya lebih hati-hati di tengah situasi pasar yang sensitif.

Investor Memperhatikan Sikap Pemerintah

Ekonom lain, Yanuar Rizky, menilai komentar Presiden Prabowo bisa memengaruhi persepsi pasar keuangan. Investor tidak hanya membaca data ekonomi. Mereka juga memperhatikan respons pemerintah terhadap tekanan ekonomi.

Yanuar mengatakan pasar membutuhkan sinyal pemerintah memahami risiko pelemahan rupiah. Jika pemerintah terlihat meremehkan kondisi tersebut, kepercayaan investor bisa ikut terganggu.

Rupiah Melemah Sejak Awal 2026

Tekanan terhadap rupiah terus meningkat sejak awal tahun 2026. Pada Januari 2026, kurs rupiah masih berada di kisaran Rp16.700 per dollar AS. Namun, tekanan global membuat nilai tukar terus merosot. Memasuki Mei 2026, rupiah bahkan sempat menembus level Rp17.600 per dollar AS.

Data Trading Economics menunjukkan rupiah menjadi salah satu mata uang Asia Tenggara dengan depresiasi terdalam sepanjang tahun ini. Sementara itu, mata uang seperti dollar Singapura dan ringgit Malaysia justru mengalami penguatan.

Pelemahan Rupiah Tekan Daya Beli

Yanuar Rizky menilai posisi rupiah saat ini memang belum menunjukkan krisis seperti 1998. Meski begitu, ia menilai kondisi sekarang tetap berat bagi masyarakat karena harga kebutuhan terus meningkat.

Kenaikan harga barang tidak diikuti peningkatan pendapatan masyarakat. Akibatnya, daya beli semakin melemah.

Utang dan Pinjol Terus Naik

Menurut Yanuar, banyak masyarakat mulai mengandalkan tabungan hingga pinjaman online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Data Otoritas Jasa Keuangan mencatat total utang pinjaman online mencapai Rp103,03 triliun per Maret 2026. Angka tersebut meningkat lebih dari 26 persen daripada periode sebelumnya. “Intinya, angka segini sudah membuat orang susah napas,” ujar Yanuar.

Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Di sisi lain, pemerintah tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyebut pelemahan rupiah dipicu sentimen global dan tekanan pasar internasional.

Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif stabil daripada negara lain. Pemerintah juga memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berjalan di tengah ketidakpastian global.

Meski demikian, pasar masih terus memantau perkembangan fiskal, nilai tukar rupiah, serta kebijakan ekonomi pemerintah dalam beberapa bulan mendatang.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI