Sebelumnya Chivu sukses meraih tiga gelar scudetto saat masih aktif sebagai pemain, kini ia melengkapinya dengan trofi sebagai pelatih.
Milan (Lampost.co)–Euforia luar biasa menyelimuti Stadion Giuseppe Meazza pada Senin (4/5/2026) dini hari WIB saat Inter Milan resmi memastikan gelar scudetto ke-21 mereka. Kemenangan atas Parma menjadi gong penanda dominasi Nerazzurri musim ini. Namun, di tengah riuhnya perayaan para pemain, satu sosok menjadi pusat perhatian utama dunia sepak bola: Cristian Chivu.
Mantan bek tangguh Inter tersebut baru saja mencatatkan tinta emas dalam sejarah klub. Gelar musim 2025/2026 ini terasa sangat personal bagi Chivu. Setelah sebelumnya sukses meraih tiga gelar scudetto saat masih aktif sebagai pemain, kini ia melengkapinya dengan trofi sebagai pelatih—luar biasanya, prestasi ini diraih tepat pada musim pertamanya menjabat sebagai pelatih kepala.
Keberhasilan Chivu menjadikannya salah satu figur paling langka dalam sejarah panjang Inter. Ia tercatat sebagai orang kedua setelah Armando Castellazzi (1930 dan 1938) yang mampu merengkuh gelar juara liga saat berstatus sebagai pemain sekaligus pelatih untuk klub yang sama.
“Saya sudah menjadi bagian dari sejarah Inter bahkan sebelum ini,” ujar Chivu kepada Inter.it. Ucapan tersebut merujuk pada loyalitas dan dedikasinya selama bertahun-tahun di Kota Milan, baik di dalam lapangan maupun di pinggir lapangan.
Perjalanan Inter menuju tangga juara musim ini tidaklah mudah. Chivu sempat menghadapi keraguan besar dari publik dan media yang meragukan kapasitasnya sebagai pelatih muda. Namun, ia berhasil membuktikan mental juara timnya justru terasah di bawah tekanan.
Momen krusial terjadi pada periode Januari hingga Februari. Meski Inter sempat mengalami masa sulit dengan kegagalan di Liga Champions dan kekalahan menyakitkan di laga derbi, Chivu mampu menjaga kestabilan ruang ganti.
“Musim ini seperti maraton. Ada naik dan turun, tapi yang paling konsistenlah yang menang. Dan kami berhasil melakukannya,” ujar Chivu.
Secara taktis, Chivu menunjukkan fleksibilitas yang luar biasa. Ia menggabungkan pendekatan modern dengan penggunaan double pivot, rotasi posisi yang dinamis, hingga instruksi permainan umpan pendek yang efektif saat tim ditekan lawan.
Di luar papan taktik, kunci kesuksesan Chivu terletak pada pendekatannya yang humanis terhadap para pemain. Ia terkenal sebagai pelatih yang empatik namun tetap tegas. Chivu memahami kapan seorang pemain membutuhkan dukungan mental dan kapan mereka harus ditekan untuk memberikan performa maksimal.
Sebuah momen unik terekam di tengah euforia perayaan juara, di mana Chivu mengaku sempat “kabur” sejenak ke ruang ganti untuk merokok guna melepas ketegangan. Hal kecil ini menunjukkan sisi manusianya yang santai di balik beban besar sebagai nahkoda klub sebesar Inter Milan.
Bagi Chivu, gelar ini adalah pembuktian atas kebersamaan dan kerja keras seluruh elemen klub. Kini, dari seorang bek tangguh, ia telah bertransformasi menjadi pelatih juara yang siap menuliskan warisan baru bagi La Beneamata.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update