James Webb Bongkar Kerangka Rahasia Alam Semesta, Nasib Galaksi Akhirnya Terkuak

Para peneliti juga telah membuka katalog berisi sekitar 164 ribu galaksi kepada publik. Data ini diperkirakan akan menjadi fondasi penting bagi berbagai penelitian astronomi dalam beberapa tahun ke depan.

Editor Denny
Rabu, 20 Mei 2026 16.45 WIB
James Webb Bongkar Kerangka Rahasia Alam Semesta, Nasib Galaksi Akhirnya Terkuak
Sebuah “potongan” dari jaring kosmik, seperti yang direkonstruksi melalui data COSMOS-Web. Titik sudut di sebelah kiri mewakili masa kini, sementara tepi yang berlawanannya menjangkau kembali ke masa ketika alam semesta berusia kurang dari 1 miliar tahun. (UCR/Hossein Hatamnia)

Bandar Lampung (Lampost.co) — Alam semesta ternyata tidak tersusun secara acak. Di balik miliaran galaksi yang tersebar di kosmos, ada “kerangka raksasa” tak terlihat yang selama ini menopang semuanya.

Kini, rahasia itu mulai terbuka.

Melalui pengamatan paling ambisius yang pernah dilakukan, James Webb Space Telescope berhasil memetakan struktur semesta dengan detail yang belum pernah dicapai sebelumnya. Para astronom menyebutnya sebagai “skeletal universe” atau kerangka kosmik—jaringan raksasa yang menentukan bagaimana galaksi lahir, tumbuh, hingga perlahan mati.

Penemuan ini membuat ilmuwan akhirnya bisa melihat lebih jelas bagaimana alam semesta berkembang sejak miliaran tahun lalu.

Semesta Ternyata Punya “Jaring” Raksasa

Selama ini, banyak orang membayangkan galaksi tersebar bebas di ruang angkasa. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan galaksi sebenarnya terhubung dalam struktur besar bernama cosmic web atau jaring kosmik.

Struktur ini terdiri dari filamen gas, materi gelap, gugusan galaksi, hingga ruang kosong raksasa yang membentuk pola menyerupai jaringan saraf.

Lewat proyek COSMOS-Web, teleskop James Webb berhasil menangkap peta jaring kosmik paling detail sepanjang sejarah. Program observasi ini menghabiskan sekitar 255 jam pengamatan untuk merekam galaksi-galaksi kuno yang sangat redup dan berada miliaran tahun cahaya dari Bumi.

Hasilnya mengejutkan para astronom.

Mereka kini bisa melihat bagaimana galaksi berubah dari masa ke masa, bahkan sejak alam semesta baru berusia kurang dari 1 miliar tahun.

James Webb Temukan Penyebab “Kematian” Galaksi

Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah soal kematian galaksi.

Ilmuwan menemukan bahwa galaksi-galaksi besar di area kosmik yang padat ternyata lebih cepat berhenti membentuk bintang baru. Galaksi seperti ini disebut quiescent galaxy atau galaksi “mati”.

Penyebabnya diduga berasal dari ukuran galaksi yang terlalu besar.

Saat halo materi gelap tumbuh sangat masif, gas di dalam galaksi menjadi terlalu panas sehingga tidak lagi mampu menciptakan bintang baru. Situasi ini diperparah oleh keberadaan lubang hitam supermasif aktif yang menyemburkan energi besar dan menghancurkan proses pembentukan bintang.

Dengan kata lain, semakin besar galaksi, semakin besar pula peluangnya “mati lebih cepat”.

Lingkungan Kosmik Ikut Menentukan Nasib Galaksi

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa lingkungan sekitar punya pengaruh besar terhadap kehidupan galaksi.

Di alam semesta purba, wilayah padat justru menjadi tempat terbaik bagi pertumbuhan galaksi karena kaya material pembentuk bintang. Namun seiring waktu, area padat itu berubah menjadi lingkungan keras yang mempercepat kematian galaksi.

Gas dingin yang dibutuhkan untuk membentuk bintang baru perlahan habis atau tersapu oleh interaksi kosmik di sekitarnya.

Fenomena ini membantu ilmuwan memahami mengapa sebagian galaksi tetap aktif menciptakan bintang, sementara yang lain perlahan meredup dan mati.

James Webb Buka Era Baru Astronomi

Kemampuan teleskop James Webb disebut jauh melampaui teleskop generasi sebelumnya seperti Hubble Space Telescope.

Jika dulu struktur awal alam semesta hanya terlihat seperti titik samar dan kabur, kini astronom bisa mengamati detail galaksi kuno dengan resolusi tinggi.

Bahkan, JWST mampu melihat era ketika alam semesta baru berusia beberapa ratus juta tahun—periode yang sebelumnya hampir mustahil diamati manusia.

Para peneliti juga telah membuka katalog berisi sekitar 164 ribu galaksi kepada publik. Data ini diperkirakan akan menjadi fondasi penting bagi berbagai penelitian astronomi dalam beberapa tahun ke depan.

Dan semakin jauh James Webb melihat ke masa lalu, semakin jelas pula bahwa alam semesta ternyata memiliki pola, struktur, dan “takdir” yang jauh lebih kompleks dari dugaan manusia selama ini.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI