AMD mengklaim hasil pengujian internal menunjukkan peningkatan performa yang cukup agresif. Pada GPU Radeon RX 9070 XT, performa game disebut bisa meningkat rata-rata hingga 3,5 kali lipat.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Persaingan teknologi grafis kini tidak lagi hanya soal kartu grafis paling kuat, tetapi juga soal siapa yang paling cerdas memanfaatkan AI. AMD tampaknya mulai serius memasuki babak baru tersebut lewat kehadiran FSR 4, teknologi upscaling terbaru yang membawa kecerdasan buatan langsung ke pengalaman gaming modern.
Jika sebelumnya FidelityFX Super Resolution (FSR) dikenal sebagai teknologi peningkat performa alternatif yang lebih ringan, kini AMD mengubah arah besar-besaran. FSR 4 bukan sekadar update biasa, melainkan langkah AMD menuju era neural rendering, teknologi grafis berbasis AI yang mulai menjadi masa depan industri game.
Perjalanan FSR sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Generasi pertama FSR hanya mengandalkan teknik upscaling spasial sederhana untuk meningkatkan frame rate tanpa terlalu membebani GPU.
Namun evolusinya berlangsung cepat. FSR 2 menghadirkan rekonstruksi temporal untuk visual yang lebih stabil, lalu FSR 3 mulai memperkenalkan frame generation yang membuat pergerakan game terasa jauh lebih mulus.
Kini lewat FSR 4 dan proyek ambisius bernama Redstone, AMD mulai meninggalkan pendekatan lama berbasis algoritma analitis dan beralih penuh ke machine learning.
Artinya, AI kini ikut terlibat langsung dalam membangun tampilan visual game secara real-time.
Berbeda dari versi sebelumnya, FSR 4 dibuat khusus untuk memanfaatkan unit AI acceleration pada arsitektur GPU RDNA 4, termasuk lini terbaru seperti Radeon RX 9070 XT dan seri Radeon RX 9000 lainnya.
Langkah ini menunjukkan AMD mulai mengikuti arah industri yang kini menjadikan AI sebagai komponen utama performa grafis modern.
Tidak hanya meningkatkan resolusi, Redstone juga membawa sederet teknologi baru seperti:
Teknologi tersebut dirancang agar game tetap terlihat tajam tanpa mengorbankan performa besar.
AMD mengklaim hasil pengujian internal menunjukkan peningkatan performa yang cukup agresif. Pada GPU Radeon RX 9070 XT, performa game disebut bisa meningkat rata-rata hingga 3,5 kali lipat.
Bahkan untuk game berat seperti Crimson Desert, peningkatan frame rate diklaim dapat mencapai 4,7 kali dibanding resolusi native biasa.
Tren ini menunjukkan masa depan gaming PC mulai bergerak ke arah:
“AI membantu GPU bekerja lebih ringan, bukan hanya mengandalkan tenaga mentah.”
Karena itulah teknologi frame generation dan AI upscaling kini menjadi salah satu fitur paling diperhatikan gamer saat membeli kartu grafis baru.
AMD juga mencoba membuat teknologi ini lebih mudah diakses pengguna umum. Fitur FSR 4 dapat diaktifkan langsung melalui software Adrenalin Edition milik AMD.
Pengguna dapat memilih pengaturan otomatis berdasarkan keseimbangan performa dan kualitas visual, atau mengatur fitur secara manual sesuai kebutuhan game.
Selain lewat software driver, opsi FSR Frame Generation juga mulai tersedia langsung di menu grafis berbagai game terbaru. Menariknya, estimasi FPS bahkan dapat langsung terlihat saat pengaturan diubah.
Meski mulai mengandalkan AI, AMD tetap mempertahankan pendekatan open-source yang selama ini menjadi identitas mereka.
Sebagian besar SDK FidelityFX masih menggunakan lisensi MIT, sehingga developer bisa mengintegrasikan teknologi tersebut dengan lebih fleksibel ke berbagai platform, termasuk:
Pendekatan terbuka ini menjadi salah satu pembeda utama AMD dibanding rivalnya di industri GPU.
AMD menyebut lebih dari 200 game sudah mendukung teknologi FSR terbaru.
Beberapa judul populer yang mulai memanfaatkan teknologi ini antara lain:
Untuk menjaga pengalaman bermain tetap nyaman, AMD juga menyematkan FSR Latency Reduction 2.0 yang membantu mengurangi input lag saat frame generation aktif.
Fitur ini penting karena salah satu kritik terbesar teknologi AI frame generation selama ini adalah meningkatnya delay kontrol saat bermain game kompetitif.
Kehadiran FSR 4 memperlihatkan bagaimana AI mulai mengubah arah perkembangan industri game modern. Jika dulu peningkatan grafis bergantung pada kekuatan hardware semata, kini kecerdasan buatan mulai mengambil peran besar dalam menciptakan visual yang lebih ringan, tajam, dan efisien.
Bagi gamer, perubahan ini bisa menjadi kabar baik. Game dengan grafis berat kemungkinan akan semakin mudah dimainkan tanpa harus selalu membeli GPU kelas ekstrem yang mahal.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update