Tumbai

Perpindahan Seluruh Orang Abung Tanda Usainya Budaya Megalitik
Tumbai

Perpindahan Seluruh Orang Abung Tanda Usainya Budaya Megalitik

DUA bulan setelah peperangan melawan orang Abung, para pemburu kepala yang kabur dijadikan buronan. Kekagetan mereka sangatlah besar akibat digunakannya senjata api sehingga mereka kabur melewati lembah-lembah yang sulit dilalui. Mereka kemudian menempati suatu tempat yang jauh dari sisi lain pulau.

Pembalasan Dendam terhadap Orang Abung
Tumbai

Pembalasan Dendam terhadap Orang Abung

PENYERANGAN oleh para pemburu dari suku Abung dari pegunungan terhadap orang Paminggir di dataran rendah Semaka terjadi sekitar tahun 1970. Perburuan tidak membutuhkan waktu lebih dari satu bulan yang kemudian ditemukannya beberapa badan tanpa kepala milik para petani padi.

Nakoda Muda dan Pengusiran Orang Abung dari Tanggamus
Tumbai

Nakoda Muda dan Pengusiran Orang Abung dari Tanggamus

KELUARGA Kai Demang termasuk dalam suku-suku di Semaka yang menyediakan kantor-kantor Bantam di Jawa  juga orang-orang Inggris dengan lada sejak waktu lama. Salah satu putra Kai Demang yang bernama La Uddin masih dapat memberikan informasi mengenai ekspedisi kepada Marsden yanng memimpin pengusiran orang Abung dari pegunungan utara Semaka. Narsdeb membuat catatan mengenai hal itu yang ia publikasikan di London tahun 1830 dengan judul Memoirs of an Malayan Family.

Turun Gunung, Orang Abung Menempati Wilayah Sungai
Tumbai

Turun Gunung, Orang Abung Menempati Wilayah Sungai

SUKU Paminggir yang memasuki wilayah tidak menduduki lembah-lembah di pegunungan. Mereka mengikuti orang Abung yang terusir, melewati jalan-jalan di antara Gunung Abung dan Bukit Benatan, kemudian menaiki kaki bukit di wilayah timur menuju dataran rendah di bagian timur.

Terbentuknya Suku Baru Usai Pindahnya Warga Paminggir
Tumbai

Terbentuknya Suku Baru Usai Pindahnya Warga Paminggir

MASYARAKAT Paminggir berpindah dari pangkalannya di Kore menuju dataran tinggi Balikbukit. Di sana mereka mendirikan empat suku yang kemudian berkembang cepat menjadi sangat banyak.

Peninggalan di Hutan Bukti Terusirnya Orang Abung dari Dataran Tinggi
Tumbai

Peninggalan di Hutan Bukti Terusirnya Orang Abung dari Dataran Tinggi

PADA tanah yang subur di antara tepi tenggara Danau Ranau dan aliran Way Robok tinggal orang Abung, penduduk lama keseluruhan pegunungan. Pada awal abad ke-14, terjadi pertempuran hebat di kaki Gunung Pesagi, suku Abung pun dikalahkan. Mereka kemudian diusir dari dataran tinggi dan berpindah melalui lembah-lembah di wilayah timur.

Sedikit demi Sedikit, Orang Abung Tergusur ke Wilayah Timur
Tumbai

Sedikit demi Sedikit, Orang Abung Tergusur ke Wilayah Timur

CERITA orang Abung yang dapat menempa baja dingin menjadi belati hanya dengan tangan kosong adalah suatu bentuk penghormatan bagi orang Abung. Jika kita ingin menaksir waktu atas makna 12 generasi, menurut hitungan Roos hanya 10, waktu pengusiran orang Abung utara dari tempat tinggalnya ini jatuh hampir bersamaan dengan perpindahan suku-suku Abung lainnya dari pegunungan di wilayah selatan di antara Danau Ranau dan Tanggamus.

Orang Abung Terusir dari Pegunungan Bukit Barisan
Tumbai

Orang Abung Terusir dari Pegunungan Bukit Barisan

PENELITIAN Friedrich W Funke selanjutnya dilakukan di daerah barat laut terluar, di wilayah barat laut Danau Ranau. Bagian utara Bukit Barisan, di antara sungai luar di bagian utara dan Danau Ranau di bagian barat daya, sejak dulu dihuni suku Abung Utara.

Perpindahan Orang Abung ke Dataran Rendah
Tumbai

Perpindahan Orang Abung ke Dataran Rendah

APABILA keterkaitan langsung antara menhir dan perburuan kepala yang umum dilakukan di zaman ini, tidak begitu dikembangkan, kita dapat mengetahui papadon batu itu pada batu ubin ketika tradisi-tradisi suku Abung diketahui dari hal tersebut.

Papadon Milik Mereka yang Memperoleh Buruan
Tumbai

Papadon Milik Mereka yang Memperoleh Buruan

DALAM cerita mengenai kelompok Abung Selatan dari Gunung Tanggamus, para pemuda yang sudah siap menikah mula-mula meninggalkan desanya di pegunungan. Mereka bergabung dengan kelompok kecil bersenjata dan menuju dataran Semaka. Kemudiaan menyembelih dan membawa kepala mereka dan kembali dengan piala kepala tersebut ke desanya, Abung.

Pesta Naik Papadon Berawal dari Zaman Megalitik
Tumbai

Pesta Naik Papadon Berawal dari Zaman Megalitik

HINGGA pada zaman modern perayaan di semua kelompok orang Abung masih dilakukan yang diadakan para pemimpin marga, termasuk pembiayaannya dan dikeluarkan barang berharga tidak hanya kepada anggota marganya sendiri, tetapi juga kepada semua penduduk desa, keluarga dari asosiasi desa seberang, sebagian besar anggota dari asosiasi suku yang berhubungan dengan silsilah. Persiapan perayaan itu dilakukan sepanjang bulan, sering sepanjang tahun.

Menelusur Jejak Reruntuhan Megalit
Tumbai

Menelusur Jejak Reruntuhan Megalit

PADA megalit-megalit terakhir di kompleks IV, jika diperhatikan membentuk ujung rangkaian batu. Kompleks reruntuhan V mungkin saja telah rusak atau runtuh saat pembuatan megalit-megalit terakhir pada abad ke-14.

Mencari Tahu Usia Kompleks Megalit
Tumbai

Mencari Tahu Usia Kompleks Megalit

PENGETAHUAN atas penduduk asli pegunungan Kenali tentang peninggalan megalitik telah lengkap. Tidak ada penemuan baru dari tradisi itu. Dari cerita yang dikumpulkan dapat dilihat usaha kelompok suku yang masih hidup di pegunungan Kenali dan menemukan penjelasan untuk megalit di pegunungan.

Teka-Teki Pengerjaan Menhir
Tumbai

Teka-Teki Pengerjaan Menhir

DI Kebuntebu terdapat delapan menhir yang dikerjakan dengan kehati-hatian dan diletakkan terpisah di barat laut. Batu ujung atas makam di Pekurun itu mengarah ke barat laut. Batu ujung atas pada makam-makam bukit Tjangok di makam Unji dan yang di makam wanita di gunung Abung Tikkit juga menghadap ke utara-utara barat.

Petunjuk Arah dari Rangkaian Menhir
Tumbai

Petunjuk Arah dari Rangkaian Menhir

HINGGA kini, papadon merupakan milik seluruh marga, pemilik yang berwenang menaikkan papadon adalah penyimbang terkait, pemimpin marga. Pemimpin marga ini satu-satunya pemimpin yang diakui orang Abung, dulunya memiliki singgasana serupa dari batu sebagai simbol kemuliaan mereka.

Kisah di Balik Papadon Batu
Tumbai

Kisah di Balik Papadon Batu

FUNKE memiliki dokumen mengenai papadon batu dari pemiliknya dalam bentuk teks asli dengan terjemahan. Dokumen itu berisikan silsilah pemenang pepadon batu dengan sesakanja (perpakas ini Pepadun) Kibang Tengah.

Papadon, Singgasana Pimpinan Suku
Tumbai

Papadon, Singgasana Pimpinan Suku

PAPADON kini merupakan bangku yang dibuat seperti singgasana dari kayu besar yang dihias dan boleh dibawa oleh pemiliknya pada perayaan terbuka. Perayaan yang berlangsung lama berhubungan dengan pengujian operasional suatu papadon yang prosesnya diatur hingga detail terkecil.

Menhir sebagai Batu Peringatan Kematian
Tumbai

Menhir sebagai Batu Peringatan Kematian

PERSPEKTIF lain untuk makna menhir Sekala Bkhak kemungkinan adalah sebagai batu peringatan kematian atau perayaan. Funke menemukan batu peringatan kematian di lokasi pemakaman pahlawan suku Way Abung atas. Namun, di lokasi itu tidak didapati info akurat mengenai arti megalit.

Penyembelihan Kerbau sebagai Penebus Dosa
Tumbai

Penyembelihan Kerbau sebagai Penebus Dosa

PADA batu Kenjangan juga terlihat batu persembahan. Namun, tidak ada satu pun adat yang memberikan informasi makna menhir-menhir di Tangkit Kurupan, Talangpadang, dan Kebuntebu untuk pembangunan kompleks megalit ini.

Batu dan Ritual Kesuburan
Tumbai

Batu dan Ritual Kesuburan

SELAIN menhir dan batu ubin, masih terdapat bahasan mengenai kejadian khusus pada batu Kepangpang di Kenali dan batu Sesat di Pekurun. Batu Sesat, batu perayaan, merupakan bongkahan batu yang sama sekali tidak memiliki jejak pengerjaan manusia.