Generasi-emas

Dancow Dukung Generasi Emas 2045
Generasi Emas

Dancow Dukung Generasi Emas 2045

JAKARTA (Lampost.co)--Dancow Advanced Excelnutri+ mendukung upaya pemerintah membangun generasi emas 2045 yaitu anak unggul Indonesia yang sehat, cerdas, dan percaya diri dengan meluncurkan gerakan "1 Juta Iya Boleh" yang mengajak lebih banyak orang tua Indonesia untuk semakin sering mengatakan "Iya Boleh" sebagai bentuk dukungan terhadap eksplorasi dan sosialisasi si kecil.

Cinta dan Kasih Sayang Fondasi Pertumbuhan Anak
Generasi Emas

Cinta dan Kasih Sayang Fondasi Pertumbuhan Anak

Cinta dan kasih sayang menjadi dasar tumbuh kembang manusia sejak dalam kandungan. Selain nutrisi dan stimulasi, kasih sayang orangtua mampu menakar empati termasuk memberikan pengajaran yang baik pada anak untuk kematangan dan kecerdasan emosi. Hal ini diutarakan oleh psikolog Universitas Indonesia Ratih Ibrahim, Kamis (7/2/2019) di Jakarta. 
 
"Cinta dan kasih sayang membuat kita bisa berempati sehingga mengupayakan dengan maksimal apa pun yang terbaik untuk anak termasuk nilai-nilai baik untuk tumbuh kembang emosinya," kata Ratih. 
 
Anggota American Psychological Association ini menuturkan keterlibatan orangtua dalam perkembangan anak memiliki andil besar pertumbuhan anak yang tumbuh dengan disertai cinta dan kasih sayang orangtua. 
 
"Cara terbaik yang bisa dilakukan orangtua adalah dengan terlibat dalam proses eksporasi dengan lebih banyak mengatakan iya boleh. Tapi orangtua harus memastikan lebih dulu anak tersebut sehat dan siap serta tempat eksplor yang aman dan tidak membahayakan," tuturnya. 
 
Selain itu dorongan orangtua untuk berekplorasi secara tepatsesuai dengan usia dan tahap perkembangan, hal ini akan membantu mengembangkan lima potensi karakter penting anak yakni berani, cerdas, kreatif, peduli dan pemimpin. 
 
"Belajar lebih banyak, skill motorik, lebih percaya dirI ini yang harus diberikan kepada anak," imbuhnya.

Cara Ajari Anak tentang Bahaya Berbicara dengan Orang Asing
Generasi Emas

Cara Ajari Anak tentang Bahaya Berbicara dengan Orang Asing

Mengajarkan anak untuk tidak gampang berbicara dan terbujuk dengan orang asing tidaklah mudah. Orang tua membutuhkan pendekatan yang lebih nyata untuk mengajarkan anak-anak mengenali perilaku yang mencurigakan dari orang asing.

Angelina Fortunela: Juara Model Cilik
Generasi Emas

Angelina Fortunela: Juara Model Cilik


ANGELINA Fortunela adalah anak yang selalu tampil ceria dan berperilaku santun kepada setiap orang. Selalu bertutur santun merupakan ciri khas yang melekat pada sosok Angelina. 
Siswa di Satuan PAUD Sejenis Anggrek Bandar Lampung ini juga pandai berlenggok di panggung ala peragawati cilik yang memeragakan busana. Angelina kerap mengikuti kegiatan perlombaan peragaan busana antarsiswa TK di tempat tinggalnya.
Baru-baru ini, siswa kelahiran Bandar Lampung, 17 April 2013, itu berhasil keluar sebagai juara pertama dalam perlombaan busana antarsiswa di sekolahnya. Dalam setiap mengikuti peragaan busana, Angelina selalu tampil berani dan penuh percaya diri.
Selain dikenal berbakat di bidang modeling, putri dari pasangan Dimas Wijaya dan Evie Kusmayati ini juga sudah pandai menghafal sejumlah surah-surah pendek Alquran yang diajarkan para guru di sekolah. 

Muhammad Al Fathir Rezqiansyah: Pandai Mewarnai Gambar
Generasi Emas

Muhammad Al Fathir Rezqiansyah: Pandai Mewarnai Gambar

MUHAMMAD Al Fathir Rezqiansyah adalah salah satu siswa berprestasi di Satuan PAUD Sejenis Anggrek Bandar Lampung. Fathir, begitu dia akrab disapa, memiliki keterampilan yang baik pada bidang mewarnai gambar.
Baru-baru ini, Fathir meraih juara pertama dalam perlombaan mewarnai antarsiswa di sekolahnya. Selain pandai mewarnai, siswa kelahiran Bandar Lampung, 10 Januari 2013, ini juga mempunyai bakat di bidang tarik suara. Ia pandai bernyanyi.
Putra dari pasangan Firmansyah dan Martani Mega Sari ini senang bernyanyi di waktu senggangnya bersama teman-teman di sekolah. Di antara teman-temannya, Fathir dikenal sebagai anak yang cukup aktif dan cerdas. Setiap kegiatan di sekolah dapat diikuti dengan baik. 
Saat ditemui di sekolahnya, baru-baru ini, Fathir mengaku bercita-cita menjadi seorang pilot. Untuk dapat menggapai cita-citanya tersebut, Fathir akan terus giat belajar dan rajin membantu kedua orang tuanya.

Menumbuhkan Perilaku Positif Anak
Generasi Emas

Menumbuhkan Perilaku Positif Anak

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Salah satu tugas lembaga prasekolah adalah mampu membentuk anak-anak usia dini untuk terbiasa berperilaku positif. Perilaku yang kemudian dilakukan secara bersama-sama dalam sebuah lingkungan pendidikan hingga masyarakat.
Kepala Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Sejenis Anggrek Bandar Lampung, Endang Sundari, mengatakan upaya membentuk perilaku positif pada anak usia dini dapat dilakukan melalui pengenalan pendidikan keagamaan. Lingkungan sekolah sebagai tempat interaksi anak di luar keluarga, dinilai mampu menumbuhkan berbagai perilaku positif anak yang didasari pengetahuan agama.
"Pendidikan agama merupakan aspek pendidikan yang dibutuhkan oleh setiap manusia sebagai pedoman hidup. Pendidikan agama juga merupakan salah satu sarana penanaman karakter baik, terutama jika diterapkan sejak anak berusia dini," ujar Endang, Selasa (13/3).
Endang mengatakan berbagai karakter positif yang biasa anak terapkan di sekolah dan keluarga, terus terbawa hingga lingkungan masyarakat yang lebih luas. Berbagai pendidikan terkait nilai-nilai keagamaan mampu melahirkan karakter positif anak, seperti patuh terhadap orang tua dan guru, saling menyayangi sesama, serta mampu menjalani aktivitas sesuai dengan aturan yang ada.
“Menumbuhkan siswa berkarakter melalui pendidikan agama butuh proses dan kesabaran dari semua pihak. Terpenting dalam mendidik anak harus disertai dengan rasa kasih sayang yang tulus sehingga anak akan merasakan apa yang diajarkan,” kata Endang.
Menurut dia, pembekalan pendidikan agama saat ini makin penting. Di era yang serbaterbuka seperti saat ini, anak makin mudah mendapatkan paparan pengaruh buruk dari lingkungan masyarakat. Untuk itu pengaruh baik, seperti mengajarkan nilai-nilai karakter melalui pendidikan agama, menjadi penting diberikan dalam porsi yang juga besar dalam mendidik anak.
"Dengan bekal pendidikan agama yang kuat akan membentuk anak berkarakter baik dan mampu menyaring budaya negatif melalui pemahaman juga logika yang dimiliki anak."

Mengembalikan Quality Time Keluarga
Generasi Emas

Mengembalikan Quality Time Keluarga

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Semua orang tua pasti menginginkan buah hatinya tumbuh menjadi anak yang baik, anak yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang orang tua ajarkan. Namun, terkadang orang tua justru terjebak pada “agitasi” atau pendapat orang lain bahwa orang tua yang bekerja dinilai kurang bisa mengurus anaknya karena tidak memiliki banyak waktu bersama buah hati.
Motivator Abah Ihsan menekankan anggapan tersebut sebenarnya salah. Untuk melihat orang tua mampu mengurus anaknya dengan baik atau tidak, menurutnya sangat sederhana. Bisa dimulai dari apakah orang tua mampu menyediakan waktu berkualitas atau quality time bersama anaknya atau tidak.
Menurut Abah Ihsan, orang tua yang menyediakan waktu berkualitas untuk anak adalah orang tua yang ketika bertemu anak bisa memberikan pengaruh baik pada mereka.
"Kan ada orang tua yang setiap hari bertemu dengan anak tetapi tidak memberikan pengaruh apa-apa pada anaknya. Karena dia hanya di dekat anak bukan bersama anak. Tanya pada diri sendiri setiap hari berapa banyak waktu bersama anak," kata dia dalam talkshow parenting, di Jakarta, baru-baru ini.
Bagi Abah Ihsan, menjadi orang tua yang baik bagi anak tak berarti harus menyediakan waktu penuh selama 24 jam. Karena sesungguhnya anak tidak butuh waktu dengan orang tua selama 24 jam penuh.
Buktinya, menurut Abah Ihsan, ketika anak sedang bermain bersama teman-temannya dan orang tua ikut andil di dalamnya, bukan tidak mungkin anak justru merasa tak nyaman dan meminta orang tua menyingkir. Atau ketika anak selalu didampingi, ketika sedang melakukan kegiatan.
Abah Ihsan mengatakan harus disadari bahwa intervensi orang tua yang bisa dilakukan secara penuh kepada anak hanya berlaku sampai mereka berusia 12 tahun. Ketika anak sudah duduk di bangku SMP intervensi orang tua hanya tinggal 60%, sisanya mereka menjadi diri mereka sendiri.
Selanjutnya ketika anak sudah duduk di bangku SMA, intervensi orang tua akan semakin meniru, yakni hanya sekitar 40%. Artinya, semakin besar usia anak intervensi orang tua akan semakin sedikit. Mereka akan menjadi diri mereka sendiri.
"Sebab itu, waktu pagi sampai sore silakan urus pekerjaan jangan menjadikan anak sebagai hambatan untuk berkembang, tetapi ketika di rumah ayo urus anak-anak kita, keluarga kita jangan lagi mengurusi hal lain," kata dia.

Membentuk Generasi Berakhlak
Generasi Emas

Membentuk Generasi Berakhlak

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Mengajarkan pengetahuan keagamaan harus dilakukan sejak dini dan dengan cara-cara sederhana. Sebab, anak usia dini akan lebih cepat menangkap dan menanamkannya dalam diri.
Cara tersebut diterapkan di Taman Kanak-kanak Islam Smart Robbani yang beralamat di Jalan Cabe I No. 15, Beringinraya, Kemiling, Bandar Lampung. Di sekolah ini anak sudah dikenalkan dengan nilai-nilai tauhid dan akidah untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Allah swt dan Rasul.
Kepala TK Islam Smart Robbani, Neti Oktavia, mengatakan hal itu dilakukan untuk mewujudkan generasi masa depan berkarakter dan saleh serta memiliki keimanan yang baik dalam proses kehidupan di kemudian hari.
Neti mengatakan langkah yang perlu dilakukan guru dalam mengajarkan pengetahuan agama dan ketauhidan adalah dengan cara sederhana seperti mengajak anak mengamati lingkungan sekitar serta melihat alam dan benda-benda yang ada di dekatnya sebagai ciptaan Tuhan.
“Saat mengajarkan tauhid kami lakukan dengan cara sederhana saja, seperti mengenalkan sesuatu benda di alam ini bahwa merupakan ciptakan dari Yang Mahakuasa, sehingga anak dapat memahaminya,” kata dia, Kamis (28/12/2017).
Di sekolah yang mempunyai visi mendidik generasi saleh, cerdas, mandiri, berwawasan, dan berakhlak islami itu selain mengenalkan alam sekitar, hal lain yang juga dilakukan untuk menanamkan keimanan siswa adalah dengan membiasakan siswa menjalankan ibadah sehari-hari secara disiplin. Dengan membiasakan anak menjalankan kewajiban agama sejak dini, diharapkan mereka akan akrab dan mampu menjalankan kewajibannya tersebut secara konsisten saat dewasa.
Neti menyebut sebagai lembaga pendidikan dini berbasis keagamaan, selain menekankan untuk membentuk generasi yang saleh, sekolahnya juga memiliki beberapa program unggulan yang dilaksanakan yang mendukung visi sekolah, seperti melatih siswa agar mampu menghafal 25 surah pendek Alquran, 31 hadis-hadis pendek, dan 32 doa sehari-hari.
Sementara itu, di dalam interaksi keseharian, siswa juga selalu dibimbing untuk berperilaku terpuji di antaranya dengan membudayakan 5S, yaitu senyum, sapa, salam, sopan, dan santun.
Setiap pengetahuan dan pembiasaan tersebut, menurut Neti, dilakukan untuk membantu mengasah dan menstimulus kecerdasan setiap anak. Sebab, pada usia dini ada beberapa kemampuan dasar yang perlu dikembangkan secara maksimal meliputi moral, kemampuan fisik, seni, dan kecerdasan sosial emosional anak.
“Siswa di sekolah kami rata-rata berusia antara 2—6 tahun. Pada usia inilah orang tua dan guru perlu menggali potensi dasar anak karena mereka sedang berasa pada masa emas perkembangan kecerdasannya,” kata dia. 

Ridho Rizqullah Penghafal Surah Pendek
Generasi Emas

Ridho Rizqullah Penghafal Surah Pendek

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Ridho Rizqullah adalah salah satu siswa di TK Islam Smart Robbani, Kemiling, Bandar Lampung, yang dikenal cerdas dan mempuyai ingatan yang sangat baik. Setiap diminta menghafal surah-surah pendek Alquran oleh gurunya, dengan cepat dapat ia lakukan.
Berkat kecerdasannya itu, siswa kelahiran Bandar Lampung, 24 Januari 2012 itu, baru-baru ini berhasil meraih juara penghafal surah pendek Alquran antarsiswa yang digelar sekolahnya. Selain pandai menghafal surah Alquran, siswa yang akrab disapa Ridho itu juga mempunyai prestasi dalam bidang mewarnai gambar.
Saat di rumah, putra pasangan Roni Rozali Musa (alm) dan Kurniawati itu mengaku senang bemain mobilan dengan remote control. Bila sudah besar, Ridho bercita-cita menjadi seorang dokter. Untuk itu, Ridho mengaku akan semangat untuk belajar dan berdoa. 

Deandra Aisyah Wicaksono  Pandai Menari
Generasi Emas

Deandra Aisyah Wicaksono Pandai Menari

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Siswa TK Islam Smart Robbani, Kemiling, Bandar Lampung, bernama Deandra Aisyah Wicaksono dikenal pandai menari. Meski masih berusia empat tahun, berbagai jenis tarian seperti tari tradisional asal Lampung sudah dirinya kuasai. Dengan piawai dan percaya diri, Deandra kerap mementaskan tarian di hadapan para guru dan teman-temannya di sekolah.
Kepandaian menari yang dimiliki siswa kelahiran Bandar Lampung, 4 Maret 2013, itu merupakan buah dari ketekunannya dalam berlatih. Selain itu, Deandra juga kerap mengikuti berbagai ajang perlombaan tarian yang sering diadakan pihak sekolah ataupun lingkungan tempat dirinya tinggal.
Selain pandai menari, putri dari pasangan Saktia Wicaksono dan Yulia Andriani itu juga sudah pandai bernyanyi kendati belum terlalu fasih dalam melantunkannya. Bila sudah besar, Deandra mengaku ingin menjadi artis terkenal di Indonesia. Terus semangat ya, Deandra. 

Konsumsi Ikan Perbaiki Kualitas Tidur Anak
Generasi Emas

Konsumsi Ikan Perbaiki Kualitas Tidur Anak

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Anak-anak yang mengonsumsi ikan sedikitnya sekali sepekan rata-rata memiliki kualitas tidur yang lebih baik, dan berpengaruh pada skor tes intelligence quotient (IQ) menjadi lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang jarang mengonsumsi ikan.
Para peneliti dari University of Pennsylvania, Amerika Serikat, melakukan studi pada 541 anak usia sembilan sampai 11 tahun untuk menguji hubungan antara omega-3, asam lemak yang ada pada banyak jenis ikan, dan intelegensia dan tidur yang lebih baik.
Anak-anak yang meliputi 54 persen lelaki dan 46% perempuan itu disurvei mengenai konsumsi ikan mereka dalam sebulan terakhir sementara orang tua mereka ditanya tentang kualitas tidur anak-anak saat malam dan siang.
Anak-anak lelaki dan perempuan itu juga diminta menjalani tes IQ untuk menguji kemampuan verbal dan nonverbal.
Para peneliti mendapati anak-anak yang setiap pekan makan ikan skor tes IQ mereka 4,8 poin lebih tinggi dibanding mereka yang "jarang" atau "tidak pernah" makan ikan.
Bahkan anak-anak yang hanya kadang makan bisa mendapat skor tes IQ hingga 3,3 poin lebih tinggi menurut studi yang dikutip kantor berita Xinhua.
Anak-anak yang mengonsumsi ikan lebih banyak dalam diet mereka juga dilaporkan lebih sedikit mengalami gangguan tidur dan secara keseluruhan kualitas tidurnya lebih baik menurut studi yang hasilnya disiarkan di Scientific Reports pada edisi terkini jurnal Nature.
"Kurang tidur berhubungan dengan perilaku antisosial; kognisi yang buruk berhubungan dengan perilaku antisosial," kata Adrian Raine, profesor dari Penn Integrates Knowledge, University of Pennsylvania, yang terlibat dalam studi itu. 

Latih Kecerdasan Emosional melalui Permainan
Generasi Emas

Latih Kecerdasan Emosional melalui Permainan

KOTABUMI (lampost.co) -- Kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) anak ternyata dapat ditumbuhkan melalui kegiatan bermain. Selain untuk melatih kecerdasan emosional, bermain juga bisa menjadi media mengembangkan minat dan bakat anak, hingga membina kreativitas mereka.
Seperti yang diterapkan di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Mawar, Desa Kemaloabung, Kecamatan Abung Selatan, Lampung Utara, para siswa tidak hanya duduk manis di dalam kelas. Dalam keseharian, siswa dibimbing aktif melakukan berbagai permainan edukasi yang telah disiapkan para tenaga pendidik.
Dengan riang, anak akan selalu aktif mengikuti permainan yang dilakukan di lingkungan sekolah.
Bunda PAUD Mawar, Sunarti, mengatakan pembelajaran yang diterapkan pada anak usia dini memang harus lebih menekankan kegiatan bermain.
Dengan tersedianya fasilitas yang penunjang permainan edukasi di sekolah, akan lebih cepat mengasah keterampilan anak, dan menghindarkan anak dari rasa bosan saat di sekolah.
"Selain bisa menguatkan kemampuan motorik serta konsentrasi anak pada suatu objek pembelajaran, secara tidak langsung bermain itu akan mengasah kecerdasan emosional atau rasa empati mereka dan hal itu tidak kalah penting dibanding Kecerdasan intelektual (IQ) anak," ujar Sunarti baru-baru ini.
Sementara menurut Kepala PAUD Mawar Hayunah, di sekolah para siswa dibimbing untuk mengembangkan bakat dan minat mereka melalui beragam kegiatan, seperti di bidang seni, para siswa diajak untuk mengikuti kegiatan bernyanyi, menari, menggambar, hingga bermain musik. Pada masing-masing bidang tersebut, setiap siswa mendapatkan bimbingan khusus agar dapat menciptakan karya sebagai bentuk kreativitas anak.
Di bidang lain, siswa PAUD Mawar juga diajarkan mengetahui peran mereka di lingkungan sekitar.
Anak sudah diajarkan bagaimana harus beretika atau bersikap sopan santun pada orang tua, guru maupun teman-teman sebaya mereka. Sementara, untuk persiapan siswa memasuki jenjang sekolah dasar, mereka juga dibimbing untuk mengenal huruf dan angka melalui metode permainan seperti bernyanyi.
"Bagi siswa yang akan masuk pendidikan dasar, mereka perlu mendapatkan bimbingan khusus, seperti mengenal huruf dan angka melalui berbagai media yang dihadirkan dengan metode permainan yang menyenangkan," kata Hayunah. Dengan cara bermain, selain menyenangkan juga akan membuat anak merasa nyaman dalam belajar.
Hayunah menjelaskan di PAUD Mawar yang berdiri sejak 9 November 2009, siswa juga diajarkan pendidikan karakter melalui pengenalan pendidikan agama sejak dini untuk melatih kecerdasan spiritual (SQ).
Melalui berbagai metode pembelajaran yang diterapkan, diharapkan akan mampu mencetak generasi yang cerdas, unggul, kreatif, inovatif, dan agamais.
"Pendidikan terbaik mesti di mulai usia dini karena itu adalah fondasi utama bagi anak untuk melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya," kata Hayunah. 

Azril Ilham Al-Hafidz  Rajin Olahraga dan Belajar
Generasi Emas

Azril Ilham Al-Hafidz Rajin Olahraga dan Belajar

KOTABUMI (lampost.co) -- Menjadi seorang polisi yang selalu melindungi masyarakat dari tindak kejahatan adalah cita-cita yang sangat diimpikan  Azril Ilham Al-Hafidz. Siswa di PAUD Mawar, Desa Kemaloabung, Kecamatan Abung Selatan, Lampung Utara, mengaku ingin bisa membantu banyak orang jika dia kelak menjadi anggota polisi.
Siswa yang akrab disapa Azril oleh guru dan kawan-kawannya itu menilai polisi adalah profesi mulia dan harus dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab. "Aku ingin menjadi polisi agar bisa memerangi kejahatan," kata dia saat ditemui di sekolah.
Untuk dapat menggapai cita-citanya itu, kini Azril sudah harus menanamkan kedisiplinan sejak dini, seperti bangun pagi, rajin berolahraga, dan tidak lupa selalu belajar.
Selain itu, yang tidak kalah penting, seperti pesan orang tuanya, Azril harus tekun beribadah, terutama salat dan mengaji. 

Berlian Febriana Basuki  Bercita-cita Menjadi Guru
Generasi Emas

Berlian Febriana Basuki Bercita-cita Menjadi Guru

KOTABUMI (lampost.co) -- Berlian Febriana Basuki adalah salah satu siswi berprestasi di PAUD Mawar, Desa Kemaloabung, Kecamatan Abung Selatan, Lampung Utara. Teman-teman dan para guru mengenalnya sebagai anak yang aktif, ramah, dan pandai mengaji.
Febri, begitu dia akrab disapa, memiliki cita-cita yang mulia yakni menjadi seorang guru. Ia mengaku terinspirasi dari para guru yang selalu mendidiknya dengan penuh kasih sayang saat di sekolah. "Saya ingin menjadi guru karena guru sangat baik pada anak-anak," kata dia ditemui di sekolah.
Febri mengaku keluarganya sangat mendukung cita-citanya itu, terutama ayah dan bundanya.
"Orang tua saya sangat mendukung saya untuk menjadi guru, mereka berpesan agar saya selalu rajin belajar hingga bisa meraih cita-cita itu dan tidak lupa untuk terus mengaji setiap hari," kata Febri. 

Tanamkan Karakter Toleransi Sejak Dini
Generasi Emas

Tanamkan Karakter Toleransi Sejak Dini

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Memberikan pemahaman anak tentang perbedaan ternyata perlu dilakukan sedini mungkin. Namun, terkadang orang tua tidak memiliki kesadaran untuk memberikan pendidikan dan menanamkan pemahaman bahwa perbedaan itu ada dan nyata kepada anak. Kebanyakan orang tua justru menghindar membahas hal-hal yang masih dianggap tabu seperti perbedaan suku, agama, ras dan, antargolongan (SARA).
Psikolog anak dan remaja, Elizabeth Santosa, mengatakan kemampuan anak untuk menyerap informasi baru dengan cepat membuat mereka mudah dan rentan disusupi ajaran sikap intoleransi hingga melakukan kebencian. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan pemahaman tentang perbedaan dan membangun sikap toleransi anak.
Menurut Elizabeth, anak usia tiga tahun sudah mampu mengenali perbedaan. Yang paling mudah adalah yang tampak secara fisik. Misalnya, kulit putih dan kulit hitam atau dari sisi bahasa sehari-hari yang digunakan. "Pengetahuan itu harus diberikan sedini mungkin. Saya katakan usia tiga tahun sudah bisa, mengapa tidak. Anak usia tiga tahun sudah mulai prasekolah saat itu kita bisa mulai mendiskusikannya dengan anak," katanya.
Elizabeth mengatakan orang tua harus memberikan pemahaman kepada anak bahwa saling menghargai sesama dengan bersikap toleransi, mengasihi tanpa membeda-bedakan adalah perilaku terpuji. "Banyak nilai lain yang bisa kita ajarkan, cuma kegagalannya orang tua kadang kurang menanamkan sikap toleransi, cuek. Dan, orang tua yang cuek itu justru yang berbahaya," ujar dia.
Ketika orang tua tak mampu mengajarkan bagaimana bertoleransi, anak akan mendapatkan pemahamannya dari luar yang bukan tidak mungkin akan salah arah. Imbasnya, pengaruh buruk lingkungan luar akan membuat anak intoleran, tak mau menerima perbedaan dan akhirnya berujung pada perundungan terhadap orang lain yang dianggap berbeda.
"Saatnya orang tua banyak diskusi, komunikasi, melatih pola pikir kritis, jangan merasa bahwa di sekolah anak kita baik-baik saja, kita tidak pernah tahu," ujar Elizabeth.

Manfaatkan Liburan Sekaligus Belajar
Generasi Emas

Manfaatkan Liburan Sekaligus Belajar

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Libur telah tiba, saatnya anak-anak mendapatkan kesempatan melakukan berbagai kegiatan menyenangkan untuk mengisi waktu liburnya. Orang tua perlu memanfaatkan masa liburan anak, tidak hanya untuk membangun kedekatan dengan si kecil, tetapi juga mengedukasi anak melalui berbagai kegiatan.
Kepala Taman Kanak-kanak Islam Terpadu Al-Amanah Labuhanratu, Bandar Lampung, Susanti mengatakan orang tua perlu menciptakan liburan berkualitas bersama anak. Tidak harus mengeluarkan biaya yang besar dengan berlibur ke luar kota, orang tua dapat menciptakan liburan seru dan edukatif secara sederhana.
"Orang tua perlu cerdas dalam memilih tempat berlibur anak. Pilihlah tempat wisata yang terjangkau tetapi mengedukasi, seperti taman wisata, kebun binatang, dan museum," kata Susanti, Kamis (21/12/2017).
Sebab saat mengisi liburan, anak tidak cukup hanya mendapatkan waktu senang-senang, tetapi harus mendapatkan pengalaman hingga pengetahuan baru. Seperti saat mengunjungi kawasan wisata edukasi Horty Park Lampung di Sabahbalau, Lampung Selatan.
Menurut Susanti, selain berlibur, anak juga dapat dikenalkan dengan aneka tumbuhan. Begitu juga ketika mengunjungi kebun binatang, anak akan mengenal keanekaragaman satwa, atau belajar tentang sejarah di museum.
"Saya rasa, liburan murah meriah juga tetap dapat menjadi liburan yang seru dan mendidik anak," kata dia.
Selain itu, menurut Susanti, orang tua perlu mencari alternatif tempat liburan lain, seperti mengunjungi pameran pembangunan yang saat ini sedang berlangsung di PKOR Way Halim, Bandar Lampung. Orang tua dapat mengenalkan kepada anak tentang informasi seputar daerah di Lampung melalui anjungan-anjungan setiap kabupaten/kota.
"Pokoknya masa liburan panjang harus dimanfaatkan. Selain membangun kedekatan emosional, liburan bersama anak juga merangsang kecerdasan kognitif saat menemui hal-hal baru," ujar Susanti.

Zhafran Aqila Tondi Pandai Kumandangkan Azan
Generasi Emas

Zhafran Aqila Tondi Pandai Kumandangkan Azan

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Sekolah adalah tempat yang menyenangkan bagi Zhafran Aqila Tondi. Siswa TK IT Al-Amanah Labuhanratu, Bandar Lampung, itu selalu aktif mengikuti setiap kegiatan belajar dan bermain bersama teman-temannya, dengan bimbingan para guru.
Selain aktif saat di sekolah, siswa kelahiran Bandar Lampung, 29 maret 2012, ini juga sudah mampu mengikuti setiap kegitan, seperti membaca doa. Kemudian mengikuti kegiatan ibadah, seperti salat, mengaji, hingga mengumandangkan azan.
Baru-baru ini bahkan putra dari pasangan Fahrisya dan Aderina Harahap itu baru saja terpilih sebagai siswa terbaik dalam mengumandangkan azan. Kini ia kerap diminta mengumandangkan azan saat akan mengadakan kegiatan salat berjemaah di sekolahnya.
Saat ditanya cita-citanya, Zhafran mengaku ingin menjadi seorang ustaz agar kelah dapat menyampaikan syiar kebaikan kepada masyarakat luas. 

Annisa Aulia Putri Shanmar  Juara Menghafal Surah
Generasi Emas

Annisa Aulia Putri Shanmar Juara Menghafal Surah

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Annisa Aulia Putri Shanmar atau akrab disapa Nisa, adalah salah satu sisa berbakat di TK IT Al-Amanah Labuhanratu, Bandar Lampung. Nisa dikenal sebagai siswa yang pandai menghafal surah-surah pendek Alquran.
Baru-baru ini, siswa kelahiran Bandar Lampung, 15 Februari 2013, itu berhasil menjadi juara I lomba menghafal surah pendek Alquran antarsiswa yang diadakan di sekolahnya.
Kepandaian Nisa dalam menghafal surah pendek merupakan buah dari ketekunannya belajar dan berlatih. Putri pasangan Ismar dan Shanty itu selalu mengikuti setiap bimbingan guru dan kedua orang tuanya dengan baik.
Nisa yang kini duduk di kelompok TA A Ibnu Khaldun itu, selalu semangat saat diajak menghafal surah-surah pendek bersama teman-temannya. Selain memiliki kemampuan yang baik dalam belajar, Nisa juga menyimpan cita-cita yang mulia, yakni ingin menjadi seorang dokter agar dapat membantu sesama. 

Ajarkan Anak Mengenali Lingkungan
Generasi Emas

Ajarkan Anak Mengenali Lingkungan

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Sebagaimana namanya taman kanak-kanak sudah seharusnya menjadi tempat yang selalu ingin dikunjungi anak untuk bermain dan bersenang-senang.
Bukan sebaliknya, menjadi tempat yang membosankan atau bahkan membuat anak tertekan, ketika berada di tempat tersebut.
Oleh karena itu, di Taman Kanak-kanak Harapan Bunda yang beralamat di Jalan Pulau Morotai No. 11, Kelurahan Jagabaya III, Way Halim, Bandar Lampung, para tenaga pendidiknya selalu mengutamakan untuk membimbing anak-anak untuk bermain. Melalui berbagai permainan yang telah dirancang diharapkan anak-anak juga mendapatkan berbagai pengetahuan baru.
Kepala TK Harapan Bunda Badriah mengatakan di sekolahnya anak-anak lebih ditekankan untuk mampu menyesuaikan diri dan mengenali lingkungannya. Dalam proses pendidikan, para guru tidak memaksakan anak untuk dapat membaca dan berhitung. Melalui berbagai kegiatan, siswa dibimbing untuk saling mengenal antarsiswa dan lingkungan di sekitar mereka, dengan penuh keceriaan sehingga pada masa keemasannya tidak terlewatkan.
“Kalau ada orang tua yang menitipkan anaknya di TK untuk dapat berhitung atau membaca kurang tepat rasanya, kendati sampai sekarang masih ada sejumlah orang tua yang menginginkan hal tersebut," kata Badriah, Selasa (19/12/2017).
Menurut Badriah, pendidikan anak usia dini berbeda dengan pendidikan formal. Pendidikan dini lebih menekankan anak supaya mampu menggali kecerdasan karakter mereka. Sementara karakter dan kecerdasan anak pada usia dini tidak semuanya sama, sehingga membutuhkan perlakuan khusus, bagi setiap anak.
Meskipun menurutnya, para guru dituntut untuk sudah mengenalkan pengetahuan dasar untuk anak membaca dan berhitung, tetapi hal tersebut dilakukan dengan cara bermain, dan tidak membebani anak.
Badriah menyebut sekolah yang berdiri sejak 1997 itu selalu menggunakan cara-cara menarik, dalam mengajak siswanya mengenal huruf dan angka, seperti melalui lagu-lagu yang diciptakan para guru, atau belajar dari kartu bergambar yang sudah disediakan, agar anak tetap ceria.
“Di sini sudah disiapkan semua alat peraga belajar yang berbentuk gambar dan angka. Tetapi sifatnya hanya mengenalkan saja kepada siswa secara rutin, dengan pola inilah lama-kelamaan anak akan benar-benar mengenalnya,” ujarnya.