Hoaks

Tips Terhindar dari Jebakan Hoaks di Whatsapp
Cek Fakta

Tips Terhindar dari Jebakan Hoaks di Whatsapp

Jakarta (Lampost.co) -- Aplikasi pesan instan Whatsapp menduduki peringkat pertama platform percakapan yang paling digandrungi masyarakat Indonesia. Setidaknya, per awal 2019 lalu, laporan riset We Are Social bekerjasama dengan Hootsuite menyebut, sebanyak 83% alias 124 juta pengguna internet di Indonesia menjadikan Whatsapp sebagai sarana komunikasi cepat antarpengguna.

Bupati Lamteng Laporkan Media Penyebar Hoaks Terkait OTT
Hukum

Bupati Lamteng Laporkan Media Penyebar Hoaks Terkait OTT

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Bupati Lampung Tengah, Loekman Djoyosoemarto, melaporkan empat media online penyebar hoaks atas operasi tangkap tangan (OTT) terhadapnya ke Polda Lampung, Selasa, 5 November 2018. Padahal, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membantah adanya OTT tersebut.

[Cek Fakta] FPI Segel Panti Asuhan di Bekasi?
Cek Fakta

[Cek Fakta] FPI Segel Panti Asuhan di Bekasi?

Warganet dihebohkan dengan kabar yang menyebut organisasi masyarakat Front Pembela Islam (FPI) menyegel sebuah Panti Asuhan di Bekasi, Jawa Barat. Kabar itu menyebar ke media sosial Twitter.
 
Pemilik akun @GrandisJavaSia pertama kali membagikan unggahan kabar tersebut, Selasa 29 Oktober 2019. Disebutkan, Panti Asuhan Rumah Kita di Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, disegel FPI ketika baru ditempati.
 
Ungahan itu mendapat banyak tanggapan. Tak sedikit warganet yang memercayai informasi tersebut. Unggahan itu mendapat 1.161 retweets dan 822 likes.

[Cek Fakta] Prabowo Kirim Utusan Jemput Rizieq Shihab?
Cek Fakta

[Cek Fakta] Prabowo Kirim Utusan Jemput Rizieq Shihab?

Beredar kabar di media sosial yang meyebut Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sudah mengirim utusan untuk mengurus kepulangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab. Kabar itu sudah menyebar ke grup-grup percakapan WhatsApp.

Kapolres Pesawaran Peringati Calon Kades Tak Sebarkan Hoaks
Lampung

Kapolres Pesawaran Peringati Calon Kades Tak Sebarkan Hoaks

PESAWARAN (Lampost.co) -- Kapolres Pesawaran AKBP Popon Ardianto Sunggoro tidak segan-segan memproses secara hukum bagi calon kepala desa (Kades) yang menyebarkan berita hoaks.

Polisi Kejar Penyebar Hoaks Rusuh Wamena
Nasional

Polisi Kejar Penyebar Hoaks Rusuh Wamena

JAYAPURA (Lampost.co) -- Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw mengakui hingga kini pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap pelaku penyebar hoaks yang diduga menjadi penyebab kerusuhan di Wamena pada Senin, 23 September 2019.

Ratna Sarumpaet Menyerah
Kriminal

Ratna Sarumpaet Menyerah

Jakarta (Lampost.co): Ratna Sarumpaet tidak berminat mengajukan kasasi. Terdakwa penyebaran berita bohong itu sudah lelah berurusan dengan hukum.

AJI Gelar Pelatihan Pengecekan Fakta di 20 Kota
Humaniora

AJI Gelar Pelatihan Pengecekan Fakta di 20 Kota

Bandar Lampung (Lampost.co): Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan jaringan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) dan beberapa kampus, menyelenggarakan Halfday Workshop Hoax Busting and Digital Hygine. Kegiatan ini diikuti lebih dari 1000 peserta dan digelar serentak di 20 kota pada Sabtu, 21 September 2019.
 
Ketua Umum AJI Abdul Manan mengatakan, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh fenomena sangat banyak dan cepatnya penyebaran informasi di era digital, terutama melalui media sosial. Muatan dari informasi itu beragam. Mulai dari informasi yang bermanfaat dan dibutuhkan publik hingga informasi palsu (hoaks), disinformasi, atau kabar bohong.
 
Penyebaran informasi palsu berupa teks, foto hingga video itu memiliki tujuan beragam. Ada yang sekedar untuk lelucon, tapi ada juga yang mengandung kepentingan politik atau ekonomi.  "Yang merisaukan, hoaks ini menyebar sangat mudah cepat di sosial media. Tidak sedikit publik yang serta merta mempercayainya," kata Abdul Manan di Jakarta, Sabtu (20/9).
 
Bukan hanya publik yang mempercayai dan menyebarluaskan informasi palsu tersebut. Terkadang media pun turut mendistribusikannya. Entah karena ketidaktahuan, sekadar ingin menyampaikan 'informasi' secara cepat, atau memang sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu. Mudahnya penyebaran informasi palsu itu dipicu oleh banyak sebab, termasuk karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang apa itu informasi palsu dan bagaimana cara menangkalnya. 
 
Situasi semacam itulah yang mendorong Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dengan dukungan Internews dan Google News Initiative, mengadakan halfday basic workshop serentak di 20 kota ini. Kegiatan ini diperuntukkan bagi masyarakat umum, mahasiswa, dan akademisi, agar bisa melakukan pengecekan fakta secara mandiri.
 
Materi yang diberikan dalam pelatihan ini meliputi teknik mendeteksi informasi palsu, selain bagaimana berselancar di dunia digital yang sehat dan aman. "Salah satu tujuan praktis dari kegiatan ini adalah agar masyarakat dapat melakukan verifikasi sendiri terhadap informasi yang beredar di dunia digital, khususnya media sosial," kata Manan.
 
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Rahmad Ali mengatakan, kolaborasi dengan AJI ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa, khususnya aktivis pers mahasiswa, dalam memfilter informasi. Harapan tertingginya adalah mendorong mahasiswa untuk ikut menjadi penangkal hoaks. "Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan keterampilan persma dalam memanfaatkan tools pengecekan fakta sehingga bisa terlibat dalam kampanye memerangi hoaks," ujarnya. 

UKPM Teknokra Helat Workshop <i>Hoax Busting and Digital Hygiene</i>
Humaniora

UKPM Teknokra Helat Workshop Hoax Busting and Digital Hygiene

Bandar Lampung (Lampost.co): UNIT Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, dan Google News Initiative akan menyelenggarakan Workshop <i>Hoax Busting and Digital Hygiene</i> di Ruang Sidang, Lantai 4 Gedung Rektorat, Sabtu, 21 September 2019.

Herman HN Ajak Mahasiswa Tangkal Berita Hoaks
Humaniora

Herman HN Ajak Mahasiswa Tangkal Berita Hoaks

 Bandar Lampung (Lampost.co): Walikota Bandar Lampung meminta mahasiswa baru Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya untuk menyaring informasi yang diperoleh dalam pesan media sosial. Ini menyikapi banyaknya informasi yang beredar di dunia maya seringkali meragukan beritanya. 

Satpol PP Minta Penyebar Video Hoaks di Facebook Ditangkap
Lampung

Satpol PP Minta Penyebar Video Hoaks di Facebook Ditangkap

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co): Ratusan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bandar Lampung menggelar unjuk rasa di Bundaran Tugu Adipura, Rabu, 18 September 2019. Mereka tidak terima disebut sebagai aktor yang telah merobohkan sebuah masjid di Kaliawi.

Merasa Dirugikan, Kasatpol PP Bandar Lampung Laporkan Penyebar Hoaks
Lampung

Merasa Dirugikan, Kasatpol PP Bandar Lampung Laporkan Penyebar Hoaks

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Merasa dirugikan pada postingan akun Facebook atas nama Makmur For Malab. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bandar Lampung meaporkan pemilik akun ke pihak kepolisian.

<i>Sesal Tarian Jari Barmawi</i>
Lampung

Sesal Tarian Jari Barmawi

Dalam ruam-ruam lantunan ayat-ayat quran yang dibaca beberapa kerabat, ia menyanksikan jasad ibundanya terbujur kaku.

Hoaks Ancaman Serius Pilkada 2020
Politik

Hoaks Ancaman Serius Pilkada 2020

JAKARTA (Lampost.co): Manajer Hubungan Pemerintah Facebook Indonesia, Noudhy Valdryno, memprediksi berita bohong (hoaks) masih mewarnai pemilihan kepala daerah serentak (Pilkada) 2020. Berkaca pada Pemilu 2019, konten hoaks akan banyak bermain di area abu-abu.

Waspadai Hoaks Busting dan Digital Hygiene
Lampung

Waspadai Hoaks Busting dan Digital Hygiene

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Masyarakat khususnya anak muda generasi millenial dituntut untuk mewaspadai hoaks busting dan digital hygiene. Apalagi teknologi informasi yang berkembang saat ini luar biasa cepatnya diplat form media sosial dan internet.

Seminggu Dua Pelaku 'Hatespeech' Diamankan, Polda Minta Masyarakat Bijak Bermedsos
Lampung

Seminggu Dua Pelaku 'Hatespeech' Diamankan, Polda Minta Masyarakat Bijak Bermedsos

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung meminta masyarakat bijak dalam menggunakan sosial media.
Sebab belakangan ini, pelaku ujaran kebencian ditangkap, dan mereka memiliki latar belakang beragam.

Ratna Sarumpaet Menangis Memohon Keadilan
Nasional

Ratna Sarumpaet Menangis Memohon Keadilan

JAKARTA (Lampost.co) -- Terdakwa penyebar berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet meminta keadilan pada majelis hakim. Ia bahkan meneteskan air mata saat membacakan nota pembelaan (pleidoi).
 
"Majelis Hakim dapat menilai tentang kebenaran yang sebenar-benarnya kebenaran tentang berita yang dianggap sebagai kebohongan itu, sehingga dapat memutuskan perkara saya ini dengan seadil-adilnya," kata Ratna dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (18/6/2019).

44% Warga Tak Bisa Deteksi Hoaks!
Buras

44% Warga Tak Bisa Deteksi Hoaks!

RISET DailySocial.id, blog teknologi asal Jakarta, mencatat dari 2.032 responden yang terlibat, sebanyak 44,19% mengaku tidak yakin mereka punya kepiawaian dalam mendeteksi berita hoaks.
Riset ini bekerja sama dengan Jakpat Mobile Survey Palform, menanyakan tentang distribusi konten hoaks dalam platform digital.
Hasilnya, masih banyak orang Indonesia yang tidak dapat mencerna informasi dengan sepenuhnya dan benar, tetapi memiliki keinginan kuat untuk segera membagikannya kepada orang lain. Padahal, beberapa informasi bisa membawa banyak interpretasi dan sudut pandang.
Sayangnya, kondisi itu dengan kemudahan memakai media sosial yang gratis dan bisa diakses siapa saja, disalahgunakan pihak tertentu sebagai alat menyebar berita bohong alias hoaks yang hingga saat ini telah mencapai tahap memprihatinkan.
Ada tiga aplikasi media sosial yang paling banyak digunakan untuk menyebarkan hoaks, yaitu Facebook sebesar 82,25%, WhatsApp 56,55%, dan Instagram 29,48%.
Selain 44,19% warga Indonesia yang tak bisa mendeteksi hoaks, 51,03% responden lainnya memilih berdiam diri (dan tidak percaya) ketika menemukan konten hoaks.
Riset ini mencatat ada 73% responden yang membaca seluruh informasi secara utuh. Namun, hanya 55% di antaranya yang selalu melakukan verifikasi (fact check) atas keakuratan informasi yang mereka baca.
"Hoaks adalah suatu permasalahan yang dihadapi masyarakat, media, dan pemerintah saat ini. Untuk menanggulangi hoaks, salah satu cara yang dilakukan adalah memahami terlebih dahulu bagaimana persebaran hoaks, khususnya melalui platform sosial yang kita banyak gunakan saat ini," ujar Amir Karimuddin, Chief Editorial & Research DailySosial.id. (litbang.kemendagri.go.id)
Riset ini memberi gambaran tentang bagaimana konten hoaks didistribusikan lewat platform digital, serta bagaimana masyarakat menanggapi hoaks itu sendiri. DailySocial berharap hasil risetnya kali ini bisa menjadi referensi bagi pemangku kebijakan dan pihak terkait lain untuk membantu menanggulangi hoaks atau setidaknya meminimalkan dampak informasi hoaks.
Masalah hoaks di negeri kita sebenarnya karena ada pihak yang sengaja menyebarkan untuk membuat kondisi yang menguntungkan pihaknya. Malangnya, warga yang tak bisa mendeteksi hoaks menelan itu mentah-mentah sebagai kebenaran. Maka, terjadilah fenomena post truth; yang benar jadi salah dan dituduh curang, sedang yang salah dianggap benar dan dibela sampai rela mengorbankan jiwa. ***

Ratna Sarumpaet Dituntut 6 Tahun Penjara
Nasional

Ratna Sarumpaet Dituntut 6 Tahun Penjara

JAKARTA (Lampost.co) -- Terdakwa penyebaran berita bohong atau hoaks, Ratna Sarumpaet, dituntut 6 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang lanjutan yang digelar, Selasa (28/5/2019).