Toleransi

Toleransi
Opini

Toleransi

MPU Tantular hidup pada masa ketika kehidupan keagamaan masyarakat Hindu dan Buddha Kerajaan Majapahit (sekitar 14 M) begitu berkembang dengan suburnya. Masyarakat terkelompok dalam berbagai mazhab atau aliran paham berbeda meski berasal dari akar teologi sama. Karena perbedaan itu, tidak jarang terjadi perselisihan yang dapat mengarah kepada konflik yang membesar intensitasnya.

Survei PPIM UIN, 63% Guru Berpandangan Intoleran
Nasional

Survei PPIM UIN, 63% Guru Berpandangan Intoleran

JAKARTA (Lampost.co)--Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta merilis hasil survei terbaru mengenai pandangan keberagaman di kalangan guru muslim se-Indonesia. Dari hasil survei, diketahui sekitar 63,07% guru memiliki opini intoleran.

Toleransi Pilihan
Nuansa

Toleransi Pilihan

KURANG lebih tujuh bulan lagi rakyat Indonesia akan melaksanakan dua hajat demokrasi. Dua hajat besar yang akan berlangsung pada 17 April 2019 yakni pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg).

Lurah Way Mengaku Ajak Masyarakat Jaga Kerukunan Antar Umat
Humaniora

Lurah Way Mengaku Ajak Masyarakat Jaga Kerukunan Antar Umat

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Untuk mengenal dan mendekatkan diri secara langsung tentang keberadaan masyarakat di wilayahnya, lurah Way Mengaku, Kecamatan Balikbukit, Lampung Barat Juwarsyah kembali mengunjungi warga gereja.

Ini Dia, Jatuh Tempo Pajak Pada Cuti Bersama Diberikan Toleransi
Lampung

Ini Dia, Jatuh Tempo Pajak Pada Cuti Bersama Diberikan Toleransi

KOTA AGUNG (Lampost.co)--Bagi kendaraan bermotor yang masa aktif PKB dan BBNKB jatuh tempo tanggal 11 - 20 Juni 2018, akan diberikan toleransi waktu pembayaran pada tanggal 21, 22, 23, 25 dan 26 Juni 2018 tanpa dikenakan denda. Hal ini mengingat adanya libur bersama hari raya Idulfitri 1439 H.

Toleransi dan Nyepi
Opini

Toleransi dan Nyepi

SEBUAH realita yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun bahwa Indonesia adalah negara majemuk. Kebinekaan budaya, adat istiadat, etnis suku, bahasa, bahkan agama tersuguh di bumi nusantara, tersebar di ribuan pulau yang ada di dalamnya. Maka semboyan Bhinneka Tunggal Ika pun sangat masyhur sebagai upaya untuk menyatukan keragaman yang ada.

Isi Diskusi, Inayah Wahid Tekankan Toleransi Harus Dilakukan
Humaniora

Isi Diskusi, Inayah Wahid Tekankan Toleransi Harus Dilakukan

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Putri bungsu presiden ke empat RI Almarhum K.H.Abdurrahman Wahid (Gusdur),  Inayah Wulandari, menjadi pembicara dalam diskusi peringatan haul Gusdur ke-8 yang digagas Kelompok Diskusi Kader atau Klasika, di Rumah Ideologis Klasika, di Jalan Sentot Alibasa, Way Dadi, Sukarame Bandar Lampung, Sabtu (6/1/2018).
Inayah menekankan toleransi bukanlah hal yang hanya perlu didiskusikan,tetapi toleransi harus dilakukan dalam kehidupan. Hal utama yang menurut Inayah perlu dilakukan setiap manusia adalah menyadari bahwa ada orang lain yang hidup bersama-sama dengan kita."Sayangnya, orang-orang Indonesia, sepertinya suka lupa, ada orang lain di samping mereka, padahal toleransi itu syaratnya adalah menyadari ada orang lain," ujarnya di hadapan puluhan peserta diskusi.
Sementara kunci toleransi lainnya, menurut Inayah adalah menganggap orang lain setara, baik yang mayoritas ataupun minoritas. "Beda itu asik-asik saja," ujarnya dalam diskusi yang dipandu oleh Fatikhatul Khoiriyah yang juga ketua Bawaslu Lampung.
Inayah juga memenuhi permintaan peserta diskusi, membacakan puisi yang diciptakannya sendiri untuk almarhum ayahnya,Gusdur.

Toleransi dalam Masyarakat Heterogen
Opini

Toleransi dalam Masyarakat Heterogen

INTOLERANSI adalah sumber masalah yang kerap membuat konflik horizontal seolah tidak pernah dapat terselesaikan. Sikap intoleran ibarat penyakit kronis: ia adalah bara api yang susah untuk dipadamkan karena telah terinternalisasi di benak warga masyarakat, bertahun-tahun mengendap di sana dan kemudian menjadi dendam kesumat.
Hidup di negara yang sarat akan keragaman ini harusnya bisa menghormati perbedaan dan tidak serta-merta mengecam kelompok lain hanya disebabkan karena sebuah perbedaan. Intoleransi muncul antara lain karena warga negara telah kehilangan respek. Respek adalah pengawal cinta yang saksama. Inti respek adalah penerimaan, menganggap seorang lain “berharga tanpa bisa dikurangi lagi”, menurut kata-kata filsuf Kristen, Gene Outka.
Stephen Post dan Jill Neimark dalam bukunya, Why Good Things Happen to Good People (Kaifa, 2011), menyebutkan empat elemen dalam respek. Pertama, toleransi. Toleransi adalah respek dalam bentuknya yang mendasar dan universal. Toleransi bisa muncul secara alami atau merupakan pilihan sadar dan rasional, bergantung pada kecenderungan dan keadaan kita.
Dasarnya adalah perasaan rendah hati karena kita mulai bergeser sedikit menuju ketidaktoleransian saat kita menganggap perspektif dan pengalaman kitalah yang membentuk norma atau bahkan bentuk yang ideal. Dan, kenyataan pahitnya adalah tanpa terhindarkan kita memang memilih pengalaman dan preferensi-preferensi kita sendiri, sering tanpa disadari. Maka, toleransi sering merupakan pilihan yang perlu, sadar dan rasional.
Kedua, sopan santun. Melakukan hal-hal kecil dengan kebaikan besar, itulah inti sopan santun. Kurangnya sopan santun membobrokkan hidup kita. Sopan santun adalah sebuah bentuk cinta dan bentuk yang dapat kita tanamkan.
Ketiga, penerimaan. Toleransi dan sopan santun adalah pilihan-pilihan rasional, tetapi penerimaan adalah rangkulan yang lebih dalam untuk seorang manusia lain dan memerlukan keintiman dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Saat menerima, kita menegaskan bahwa pilihan dari pengalaman-pengalaman orang itu sungguh berarti. Kalau bisa, kita melentur untuk membiarkan diri kita dibimbing nilai-nilai dan keinginan orang itu.
Keempat, penghormatan. Penghormatan adalah manifestasi paling maju dalam respek. Penghormatan adalah suatu bentuk ketakjuban dan kekaguman atas keberadaan yang lain. Penghormatan di sini tidaklah dimaksudkan sebagai penyembahan, melainkan suatu penghargaan terhadap keunikan orang lain secara benar-benar egaliter, sebuah penghargaan yang bersifat naluriah dan alami. Seorang naturalis, E.O. Wilson menangkap penghormatan di dalam kalimatnya, “Bunga di celah-celah dinding memang suatu keajaiban”. Penghormatan berdiri di hadapan misteri orang lain dan tanpa berkata-kata menundukkan kepalanya sebagai tanda apresiasi.
Menurut filsuf Jaques Derrida, toleransi sesungguhnya berakar pada sebuah sikap kesanggrahan (hospitality), sebuah sikap keterbukaan secara absolut terhadap kedatangan “yang lain” dalam keberlainannya—tanpa mendevaluasi, tanpa mereduksi, dan tanpa menyamakan yang lain. Kesanggrahan mengandaikan kesetaraan relasi antaridentitas. Keterbukaan dalam kesanggrahan menjadikan diri subjek selalu dalam risiko dari ancaman yang dapat muncul bersama kedatangan yang lain.
Namun, kata Derrida, berbeda dari toleransi, kesanggrahan tidak pernah menempatkan yang lain sebagai alter-ego, melainkan sebagai sesuatu yang benar-benar lain, yang lain sebagai yang sepenuhnya lain. Sejauh yang lain dipahami di luar batas-batas konseptualisasi, kesanggrahan menuntut kepada setiap orang untuk menjadi tuan rumah (host) yang secara terbuka menyambut kedatangan yang lain, bahkan bila yang lain tersebut tak disukai, menakutkan, atau membahayakan dirinya sekalipun.
Negara Indonesia didirikan di atas wilayah yang masyarakatnya heterogen, baik itu suku, agama, ras, etnis maupun golongan. Potensi gesekan hingga konflik selalu ada. Apalagi, jika kepentingan politik dan ekonomi tertentu bermain ikut bermain di dalamnya. Isu-isu perbedaan diangkat ke permukaan untuk mengaburkan motif inti: politik atau ekonomi. Toleransi diharapkan menjadi perekat bagi heterogenitas tadi. Toleransi diharapkan mampu membendung gejolak sosial dan membentengi masyarakat dari kepentingan-kepentingan politik-ekonomi pragmatis jangka pendek yang dimainkan dengan mengorbankan dan merusak harmoni.
Toleransi masih menjadi salah satu masalah yang terus-menerus coba dipecahkan bahkan sejak negara ini didirikan. Soekarno, misalnya, mengeluarkan ide Pancasila untuk merekatkan heterogenitas bangsa ini dalam pidato 1 Juni 1945 di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yakni kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan ketuhanan yang berkebudayaan.
Kelima sila ini, jika ingin diperas, kata Soekarno, bisa menjadi tiga: kebangsaan dan internasionalisme menjadi sosio-nasionalisme, mufakat atau demokrasi menjadi sosio-demokrasi, dan terakhir ketuhanan. Tiga sila ini pun bisa diperas menjadi satu: gotong royong.
Gotong royong adalah budaya bangsa Indonesia yang merekatkan heterogenitas masyarakat. Di dalam gotong royong, sekat-sekat perbedaan dilunakkan dan kepentingan bersama lebih dikedepankan. Sementara dari atas, negara mempertahankan dan memperkuat rekatan atas heterogenitas ini dengan menjamin bukan saja hak-hak sipil dan politik setiap individu (individual rights), melainkan juga hak-hak sosial-budaya kelompok masyarakat (communitarian rights).
Seperti dikatakan Habermas (1999), “Warga harus mengalami nilai keadilan dari hak-haknya juga dalam bentuk keamanan sosial dan pengakuan secara timbal balik di antara pelbagai bentuk budaya yang berbeda dari kehidupan.”
John Rawls (1980) menyebutnya sebagai “konsepsi keadilan bersama” (a share conception of justice). Meskipun suatu masyarakat yang tertata baik tercerai-berai dan pluralistis, kesepakatan publik atas persoalan keadilan sosial dan politik mendukung kesetiakawanan sipil dan menyelamatkan ikatan asosiasi. Toleransi akan terbangun dan bertahan kuat jika di dalam masyarakat ada semangat gotong royong. Gotong royong sendiri tidak akan tercipta jika masyarakat kehilangan respek. Sementara itu, pada saat yang sama, negara memayungi heterogenitas yang ada dengan menjamin hak-hak setiap warga secara adil.
Selain itu, perlu gerakan nasional melawan intoleransi. Mengutip Imdadun Rahmat, ketua Komnas HAM, gerakan nasional ini harus dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), seperti janji Presiden dalam pertemuan dengan Komnas HAM, yang akan membentuk tim khusus yang akan menangani problem intoleransi.
Sebab, problem dan sumber-sumber intoleransi itu ternyata dalam berbagai penelitian, juga muncul dari lembaga-lembaga pemerintah. Di dalam dunia pendidikan, di dalam Kementerian Pendidikan maupun di bawah Kementerian Pendidikan tinggi, intoleransi ini hidup subur. Jadi, ini mesti juga diselesaikan dengan baik.

Tanamkan Karakter Toleransi Sejak Dini
Generasi Emas

Tanamkan Karakter Toleransi Sejak Dini

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Memberikan pemahaman anak tentang perbedaan ternyata perlu dilakukan sedini mungkin. Namun, terkadang orang tua tidak memiliki kesadaran untuk memberikan pendidikan dan menanamkan pemahaman bahwa perbedaan itu ada dan nyata kepada anak. Kebanyakan orang tua justru menghindar membahas hal-hal yang masih dianggap tabu seperti perbedaan suku, agama, ras dan, antargolongan (SARA).
Psikolog anak dan remaja, Elizabeth Santosa, mengatakan kemampuan anak untuk menyerap informasi baru dengan cepat membuat mereka mudah dan rentan disusupi ajaran sikap intoleransi hingga melakukan kebencian. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan pemahaman tentang perbedaan dan membangun sikap toleransi anak.
Menurut Elizabeth, anak usia tiga tahun sudah mampu mengenali perbedaan. Yang paling mudah adalah yang tampak secara fisik. Misalnya, kulit putih dan kulit hitam atau dari sisi bahasa sehari-hari yang digunakan. "Pengetahuan itu harus diberikan sedini mungkin. Saya katakan usia tiga tahun sudah bisa, mengapa tidak. Anak usia tiga tahun sudah mulai prasekolah saat itu kita bisa mulai mendiskusikannya dengan anak," katanya.
Elizabeth mengatakan orang tua harus memberikan pemahaman kepada anak bahwa saling menghargai sesama dengan bersikap toleransi, mengasihi tanpa membeda-bedakan adalah perilaku terpuji. "Banyak nilai lain yang bisa kita ajarkan, cuma kegagalannya orang tua kadang kurang menanamkan sikap toleransi, cuek. Dan, orang tua yang cuek itu justru yang berbahaya," ujar dia.
Ketika orang tua tak mampu mengajarkan bagaimana bertoleransi, anak akan mendapatkan pemahamannya dari luar yang bukan tidak mungkin akan salah arah. Imbasnya, pengaruh buruk lingkungan luar akan membuat anak intoleran, tak mau menerima perbedaan dan akhirnya berujung pada perundungan terhadap orang lain yang dianggap berbeda.
"Saatnya orang tua banyak diskusi, komunikasi, melatih pola pikir kritis, jangan merasa bahwa di sekolah anak kita baik-baik saja, kita tidak pernah tahu," ujar Elizabeth.

Memupuk Sikap Toleransi Anak Sejak Dini
Generasi Emas

Memupuk Sikap Toleransi Anak Sejak Dini

KOTAAGUNG (lampost.co) -- Dalam memberikan pendidikan pada anak usis dini, Taman Kanak-kanak (TK) Fransiskus Gisting, Tanggamus, mengutamakan pembentukan karakter siswanya. Salah satu karakter yang paling ditekankan kepada para siswa adalah menjadi pribadi yang mampu menerima perbedaan atau memiliki sikap toleransi.
Kepala TK Fransiskus, Gisting, Krispina, mengatakan pembentukan karakter merupakan hal pokok yang harus diprogramkan dalam pendidikan anak usia dini. Khusus untuk memupuk sikap toleransi, pihaknya berusaha untuk memberikan pengertian bahwa tidak ada yang salah pada perbedaan kepada siswa. Sikap tersebut harus dimiliki pada diri setiap orang guna mencapai kedamaian dan kerukunan hidup.
"Kami berusaha memberikan pemahaman dan mencontohkan sikap toleransi dan tenggang rasa. Bagi kami ini merupakan suatu hal yang perlu ditanamkan sejak dini," kata dia, Jumat (6/10/2017).
Meski sebagai sekolah Katolik, TK Fransiskus juga menerima siswa beragama lain, seperti Islam, Hindu, Buddha, dan Protestan. Menurut Krispina itu merupakan suatu pembelajaran yang baik bagi siswa untuk dapat bergaul meski berbeda latar belakang kepercayaan.
Selain memupuk sikap toleransi, sekolah ini juga menerapkan enam aspek pendidikan lain dalam program belajar siswanya, meliputi agamais, sosial emosional, bahasa, kognitif, motorik, dan seni. Sebab, diharapkan anak tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mencakup dari segi psikomotorik, sosial, dan moral.
"Anak-anak usia dini yang bersekolah di sini diajarkan kemandirian serta tidak merampas hak milik orang lain," ujarnya.
Untuk menerapkan kemandirian itu, anak dilatih mengambil semua peralatan bermain dan belajarnya secara mandiri. Selain itu, pada awal sekolah, orang tua juga hanya diperbolehkan menunggu anaknya pada jam belajar selama sepekan. Lewat dari jangka waktu itu, orang tua murid dipersilakan menunggu di luar. Hal itu juga dilakukan sebagai upaya melatih kemandirian anak.
Krispina menjelaskan TK Fransiskus Gisting berdiri pada 1972, kini menjadi salah satu TK yang kerap memperoleh prestasi baik di tingkat kecamatan, kabupaten, maupun Provinsi Lampung. Saat ini TK Fransiskus tengah bersiap mewakili Kabupaten Tanggamus, dalam lomba unit kesehatan sekolah di tingkat provinsi.
TK Fransiskus terus berupaya menjadi sekolah yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa. Sekolah itu kini memiliki fasilitas penunjang yang lengkap, mulai dari aula, kantor guru dan kepala TK, perpustakaan, ruang ibadah, ruang belajar, toilet siswa dan guru, serta ruang dapur hingga ruang tunggu.
Krispina menambahkan lahan belakang sekolah kini dimanfaatkan sebagai taman bunga dan warung hidup yang dapat digunakan sebagai sarana belajar siswa dalam mengenali tanaman bergizi yang diperlukan dalam usia tumbuh kembang. 

Toleransi Beragama ala Kiai Hasyim Muzadi
Opini

Toleransi Beragama ala Kiai Hasyim Muzadi

SIKAP toleransi dalam beragama merupakan bagian dari ajaran Islam. Karena itu, jika umat Islam tidak memiliki sikap toleransi beragama, sebenarnya mereka belum sepenuhnya mengamalkan ajaran Islam yang benar.
Di sinilah diperlukan sikap yang seimbang antara toleransi dan keimanan. Dengan keseimbangan itu, umat Islam dapat bekerja sama dan hidup berdampingan dengan kelompok agama lain secara damai. Kiai Hasyim Muzadi dikenal sebagai tokoh Islam yang sepanjang hidupnya konsisten memperjuangkan nilai-nilai moderasi Islam dan mengimplementasikan konsep toleransi beragama secara proporsional.
Sejak tinggal di Malang dan aktif di setiap jenjang kepengurusan Nahdlatul Ulama hingga menjadi Ketua Umum PBNU, Kiai Hasyim bersama tokoh lintas agama bekerja keras untuk melawan upaya intoleransi agama di Indonesia. Setiap kali meletus upaya untuk membenturkan agama satu dengan lainnya, beliau dengan cepat menemui rama, biksu, pendeta, dan lainnya.
Beliau menjalin hubungan yang sangat dekat dengan para tokoh lintas agama baik lokal maupun nasional sehingga setiap kali ada upaya serangan agama yang satu dengan lainnya yang bisa merusak kerukunan antarumat beragama, Kiai Hasyim dengan cepat bisa melakukan upaya klarifikasi dan dialog dengan tokoh-tokoh lintas agama.
Dalam pandangan sederhana, Kiai Hasyim menganggap toleransi agama itu seperti meja dan kolong meja. Setiap meja pasti memiliki kolong karena itu masuk bagian dari sunatullahnya meja. Hampir tak mungkin ada meja tanpa kolong. Sebagaimana kerukunan antarumat beragama dalam sebuah negara yang plural juga menjadi keniscayaan. Jika kerukunan lintas agama terkoyak, kehidupan bernegara menjadi tidak sehat dan tidak akan mampu mempertahankan esksistensinya sebagai negara. Dengan kata lain, tanpa kerukunan umat beragama, negara juga akan ambruk.
Di atas meja biasanya diletakkan sebuah taplak penutup meja. Selain sebagai penghias, taplak berfungsi melindungi meja. Taplak itu bisa diibaratkan sebagai toleransi, sedangkan meja itu ibarat agama atau keyakinan. Toleransi bukan esensi agama, melainkan melindungi hubungan antarumat beragama.
Taplak meja mudah dilipat dan dibawa ke mana-mana, tapi meja tidak perlu dilipat dan dibawa ke mana-mana. Demikian halnya toleransi itu bisa dibawa ke mana-mana, tapi keyakinan atau agama tidak bisa digeser pada posisi yang bukan pada tempatnya.
Toleransi itu bukan berarti pemeluk Kristen ikut salat jumat di masjid atau umat Islam ikut ibadah di gereja. Setiap umat beragama silakan beribadah sesuai dengan keyakinan dan pada tempat ibadahnya sendiri karena toleransi bukan mencampuradukkan keyakinan.
Kalau hal itu terjadi, yang sebenarnya terjadi ialah penodaan agama bukan toleransi agama. Toleransi harus dilandasi keyakinan beragama, bukan dilandasi humanitas karena humanitas terkadang memisahkan diri dari ketuhanan. Toleransi tidak boleh dibangun dengan meninggalkan nilai keyakinan agama.

Robohnya Bangunan Toleransi