Film The Bell: Sosok Penebok Jadi Ikon Horor Baru dari Belitung

Film horor The Bell: Panggilan untuk Mati segera tayang! Simak teror hantu Penebok dari Belitung yang siap menghantui bioskop mulai 7 Mei 2026.

Editor Nana Hasan
Selasa, 28 April 2026 10.52 WIB
Film The Bell: Sosok Penebok Jadi Ikon Horor Baru dari Belitung

JAKARTA (Lampost.co) – Industri film horor Indonesia kembali menghadirkan karya unik melalui judul The Bell: Panggilan untuk Mati. Film ini mengangkat folklore lokal dari Belitung yang selama ini masih jarang tampil di layar lebar. Cerita berfokus pada sebuah lonceng keramat yang berfungsi mengurung roh-roh jahat sejak ratusan tahun lalu.

Poin Penting

  • Latar Budaya: Mengangkat mitos lokal Belitung tentang lonceng keramat pengurung roh.
  • Sosok Penebok: Hantu tanpa kepala bergaun merah yang menjadi ikon horor baru.
  • Teknik Visual: Penggunaan tiga aspek rasio gambar untuk membedakan periode waktu cerita.
  • Pemeran Utama: Menampilkan akting memukau dari Bhisma Mulia, Ratu Sofya, dan Mathias Muchus.
  • Go International: Film ini akan tayang di Cannes Film Market pada Mei 2026.

Ketegangan bermula saat sekelompok anak muda nekat mencuri lonceng tersebut hanya demi konten viral. Namun, tindakan gegabah itu justru membangkitkan ancaman besar yang sangat mematikan bagi mereka. Akibatnya, mereka membebaskan Penebok, sosok hantu tanpa kepala yang mengenakan gaun merah mencolok.

Baca juga : Sinopsis Film Songko: Teror Legenda Penghisap Darah Minahasa Era 80-an

Selanjutnya, kehadiran Penebok membawa teror mengerikan yang membidik nyawa para pemuda tersebut satu per satu. Karakter Danto yang diperankan Bhisma Mulia dan Airin oleh Ratu Sofya terjebak dalam peristiwa mencekam ini. Teror ini perlahan menyebar luas hingga mengancam keselamatan seluruh warga desa di sana.

Sutradara Jay Sukmo menggunakan teknik visual unik dengan tiga aspek rasio gambar yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk membedakan setiap periode waktu dalam alur cerita film tersebut.

“Saya ingin menakut-nakuti penonton dengan cerita dan situasi, bukan cuma jumpscare. Ada treatment yang mungkin belum ada di film horor lain, seperti penggunaan tiga frame aspek rasio yang berbeda untuk menggambarkan setiap periodenya,” kata Jay Sukmo.

Aktor senior Mathias Muchus juga memuji kekuatan narasi film ini karena memiliki akar budaya yang sangat dalam. Ia menilai kehadiran sosok Penebok memberikan makna baru dalam genre horor nasional saat ini.

“Film ini tidak hanya menghadirkan horor, tetapi juga memperkenalkan Penebok sebagai bagian dari mitos yang hidup di masyarakat. Bagi saya, ini menarik karena horor yang dibangun bukan sekadar menakutkan, tetapi memiliki akar budaya dan makna yang kuat, sesuatu yang penting untuk dihadirkan agar penonton tidak hanya merasa takut, tetapi juga memahami,” kata Mathias Muchus.

Terakhir, film ini akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026 mendatang. Selain itu, The Bell akan berpartisipasi dalam Cannes Film Market pada pertengahan Mei 2026.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI