rapidtestYLKI

YLKI Nilai Rapid Test Sebagai Syarat Beraktivitas Rugikan Konsumen

( kata)
YLKI Nilai Rapid Test Sebagai Syarat Beraktivitas Rugikan Konsumen
Ilustrasi korona. Medcom.id


Jakarta (Lampost.co) --  Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai pemeriksaan rapid test covid-19 (korona) sebagai syarat melakukan aktivitas publik hal yang sia-sia. Rendahnya tingkat akurasi pemeriksaan rapid test tidak dapat dijadikan patokan seseorang terinfeksi covid-19 atau tidak.
 
"Itu akan menjadi sia-sia. Konsumen hanya mendapat beban biaya tambahan perjalanan saja," kata staf peneliti YLKI Eva Rosita kepada Media Indonesia, Minggu, 12 Juli 2020.
 
Rosita menuturkan kualitas dan standardisasi alat rapid test juga masih belum ada. Sehingga, jaminan kualitas alat yang beredar masih dipertanyakan.

Dia menilai rapid test dilihat dari fungsinya hanya untuk kepentingan penelitian epidemiologi, yaitu screening kasus. "Untuk itu, pemeriksaan rapid test sebaiknya dikembalikan ke fungsi awal dan rapid test tidak dijadikan sebagai prasyarat aktivitas publik," kata dia.
 
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatur harga tertinggi rapid test antibodi. Aturan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/I/2875/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Rapid Test Antibodi.
 
"Batasan tarif tertinggi untuk pemeriksaan rapid test antibodi adalah Rp150 ribu," tulis SE yang ditetapkan pada 6 Juli 2020 itu.
 
Besaran tarif berlaku untuk masyarakat yang melakukan pemeriksaan rapid test atas permintaan sendiri. Pemeriksaan rapid test harus dilaksanakan tenaga medis yang memiliki kompetensi dan berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan.
 

Medcom







Berita Terkait



Komentar