#ojekonline#beritalampung

YLKI Minta Maxim Benahi Sistem Rekrutmen

( kata)
YLKI Minta Maxim Benahi Sistem Rekrutmen
Ojek online. Ilustrasi


Bandar Lampung (Lampost.co) — Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Lampung, Subadra Yani Moersalin, menyesalkan adanya pengancaman yang dilakukan seorang driver ojek daring kepada penumpangnya.

Ia mengatakan sering terjadinya perlakuan yang tidak baik dilakukan tak semata kesalahan dari pengguna, melainkan sistem yang ada.

“Maxim harus punya peraturan ataupun persyaratan perekrutan sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Jadi kalau ada sengketa, manajemen bisa menyelesaikannya sesuai dengan peraturan yang disepakati bersama antara penyedia jasa dan driver,” ujarnya, Kamis, 25 Februari 2021.

Dia melanjutkan, ada beberapa laporan terkait pihak penyedia jasa tidak mengetahui data driver dengan baik. “Maxim juga seharusnya bisa terbuka kepada korban, mengenai driver yang mengancam. Jangan sampai Maxim terkesan cuci tangan,” kata dia.

Seharusnya, lanjut Subadra, ada sanksi yang jelas agar kejadian itu agar tidak terus berulang. Salah satu yang dapat dilakukan dengan pembenahan sistem.

“Tentunya yang disalahkan itu driver, tapi manajemen sendiri harus ikut bertanggung jawab dengan adanya pengancaman itu,” ujarnya.

Ketua Umum Gaspool Lampung, Miftahul Huda mengatakan kejadian itu kerap terjadi dan berujung pemutusan kemitraan driver dengan perusahaan penyedia jasa.

“Harus ada perbaikan sistem, harus ada mediasi yang dilakukan manajemen antara driver dan pelanggan. Kalau selama ini manajemen langsung memutus kemitraan,” kata dia. 

Ke depannya menurut Huda, perbaikan sistem harus dilakukan seluruh aplikasi transportasi daring di Indonesia ini. “Semua harus ikut aturan, baik itu aturan tarif maupun keamanan serta keselamatan konsumen dan driver. Itu sesuai amanat Permenhub No.12 Tahun 2019,” ujarnya.

Menurutnya, dalam perjanjian kemitraan, perusahaan penyedia jasa dan driver hanya dilakukan secara daring melalui aplikasi. Sistem itu menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat, karena menjadi perjanjian satu arah.

“Kami para driver harus klik setuju pada aplikasi atau syarat yang tertulis di sana. Artinya perjanjian itu bersifat satu arah. Belum lagi kalau ada pembaruan sistem dan perjanjian, driver sendiri jarang mengetahuinya,” kata dia.

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar