#beritalampung#beritabandarlampung#sanitasi

YKWS: Kalau Tidak Peduli Sanitasi Jangan Bicara Stunting

( kata)
YKWS: Kalau Tidak Peduli Sanitasi Jangan Bicara Stunting
Jamban helikopter masih digunakan warga Kelurahan Panjang Selatan, Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung untuk BAB. Hal ini memicu dampak negatif salah satunya stunting. Lampost.co/Andre Prasetyo Nugroho


Bandar Lampung (Lampost.co): Advisor Wash Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) Bambang Pujiatmoko menyebut sanitasi belum disadari sebagai kebutuhan dasar oleh banyak pihak, baik pemerintah daerah maupun masyarakat.

Padahal buruknya kondisi sanitasi akan berdampak kepada kualitas hidup terutama kualitas kesehatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait Persentase Rumah Tangga menurut provinsi dan memiliki akses terhadap sanitasi layak, Provinsi Lampung mengalami fluktuasi persentase 15 tahun terakhir soal rumah layak sanitasinya.

Rinciannya di 2008 sebesar 37,72%, 2009 (38,43%), 2010 (43,85%), 2011 (44,33%), 2012 (43,72%), 2013 (45,86%), 2014 (37,27%), 2015 (44,83%), 2016 (58,58%), 2017 (52,89%), dan 2018 (52,48%). Sementara pada 2019 mengalami peningkatan signifikan sebesar 79,22%, 2020 mengalami kenaikan kembali sebesar 78,81%, 2021 naik 83,89%, dan 2022 turun menjadi 83,65%.

Baca juga:  Perizinan Puluhan Tiang Internet di Metro Dirazia

"Yang paling terdampak akibat buruknya kondisi sanitasi adalah kaum perempuan dan anak-anak. Sanitasi dan juga air minum juga menjadi salah satu penyebab sensitif terjadinya stunting. Jadi kalau tidak peduli sanitasi jangan bicara stunting," katanya, Senin, 16 Januari 2023.

Bambang menjelaskan masalah sanitasi di Lampung prinsipnya ada tiga, yaitu kemauan dan kebijakan politik pimpinan daerah yang pro sanitasi, kesadaran masyarakat, serta kesadaran aparat serta ketersediaan infrastruktur.

"Masalah sanitasi bukan hanya di daerah padat kumuh miskin saja tapi kugat terjadi di daerah yang berdekatan dengan sungai," ujarnya.

Ia memberi contoh masih banyak rumah mewah yang saluran pembuangannya langsung menuju ke sungai. "Ini namanya tetap buang air besar sembarangan (BABS) tertutup," pungkasnya.

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar