#inflasi#pertumbuhanekonomi#beritalampung#ekbis

Waspadai Tekanan Inflasi Ditengah Penguatan Ekonomi Lampung

( kata)
Waspadai Tekanan Inflasi Ditengah Penguatan Ekonomi Lampung
Kepala KPw BI Lampung, Budiharto saat menyampaikan Lampung Economic Update di KPw BI, Selasa, 24 September 2019. Lampost.co/Effran Kurniawan

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Ekonomi Lampung di triwulan II 2019 tumbuh kuat sebesar 5,62%. Nilai itu melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatera (4,62%) dan Nasional (5,05%). Namun dari peningkatan itu, perlu mewaspadai tekanan inflasi khususnya pada kelompok bahan makanan yang memiliki penyumbang terbesar.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Budiharto Setiawan menjelaskan ekonomi Lampung tumbuh kuat. Hal itu sesuai dengan pola musiman yang lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2019 sebesar 5,21% (y-o-y). Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi itu ditopang konsumsi dan investasi.

"Selain itu, perbaikan ekspor juga mendorong ekonomi Lampung. Meskipun masih belum mampu mengimbangi impor yang tumbuh lebih tinggi. Di sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi ditopang sektor sekunder dan tersier," kata Budi dalam Lampung Economic Update di KPw BI Lampung, Selasa, 24 September 2019.

Menurutnya, kinerja sektor sekunder tumbuh signifikan sejalan dengan lapangan usaha industri pengolahan yang mampu tumbuh dua digit 11,46%. Di samping itu, sektor tersier juga menjadi penopang khususnya pada lapangan usaha pengadaan listrik dan gas yang tumbuh signifikan sebesar 16,26%.

Kondisi itu didukung inflasi yang terpantau mereda menjadi sebesar 0,17% (m-t-m) dibandingkan bulan sebelumnya (0,66%). Kendati demikian, jika dilihat secara kumulatif, Indeks Harga Konsumen (IHK) Lampung pada Agustus 2019 mencapai 3,16% yang berada di atas pencapaian inflasi Nasional sebesar 2,48% khususnya dari kenaikan harga kelompok bahan makanan.

"Kenaikan harga komoditas bawang putih dan bawang merah menjadi salah satu faktor pendorong inflasi sampai awal triwulan II 2019. Sementara, faktor pendorong utama inflasi sampai dengan awal triwulan III 2019 bersumber dari kenaikan harga cabai yang juga terjadi secara nasional," ujarnya.

Dia melanjutkan, rendahnya harga cabai di awal tahun menjadikan petani enggan menanam komoditas tersebut dan beralih menanam komoditas lain. Sehingga terjadi penurunan pasokan cabai hingga pertengahan tahun 2019. Terbukti, sejak Mei hingga Agustus komoditas tersebut konsisten menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan total andil sebesar 1,71%.

Bahkan, andil inflasi ini tertinggi dibandingkan dengan berbagai provinsi lainnya. Sebab, Lampung merupakan salah satu sentra cabai merah, sehingga terdapat margin harga yang tinggi. Namun, dalam perkembangannya di September menunjukkan mulai terjadi normalisasi harga komoditas hortikultura.

Effran Kurniawan



Berita Terkait



Komentar