tajuklampungpostwaspada-dbdkesehatan
Tajuk Lampung Post

Waspada Momok DBD

( kata)
Waspada Momok DBD
Ilustrasi. Google Images

TELAH menjadi pengetahuan umum, penyakit DBD kerap menjadi momok di saat pergantian musim atau cuaca ekstrem. Musim hujan menjadi surga perkembangbiakan jentik nyamuk pembawa penyakit itu karena banyaknya genangan air.

DBD juga kerap menjadi teror di bumi Ruwa Jurai. Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, jumlah penderita penyakit DBD di wilayah Lampung mencapai 1.159 kasus, dengan tiga orang meninggal. Kementrian Kesehatan pun menempatkan Lampung masuk 10 besar daerah dengan kasus DBD tertinggi di 2019.

Menurut Kemenkes, Provinsi Jawa Timur paling banyak kasus DBD, yaitu 2.657 kasus. Kemudian, diikuti Jawa Barat (2.008), Nusa Tenggara Timur (1.169), Jawa Tengah (1.027), Sulawesi Utara (980), Lampung (827), DKI Jakarta (613), Sulawesi Selatan (503), Kalimantan Timur (465), dan Sumatera Selatan (353).

Tidak menutup kemungkinan teror DBD kembali merebak pada musim hujan tahun ini. Di awal 2020 saja, Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung mencatat telah terjadi sekitar 30 kasus DBD, terutama sampai dengan pertengahan Januari. Pemkot Bandar Lampung pun mengimbau warganya untuk mewaspadai wabah DBD.

Berdasarkan data tahun lalu, Kabupaten Pringsewu menjadi daerah dengan jumlah korban DBD terbanyak yakni 194 kasus. Kemudian, diikuti Kabupaten Pesawaran (149), Lampung Selatan (136), Lampung Tengah (110), dan Bandar Lampung (107). Pemerintah daerah terkait perlu bekerja ekstrakeras agar DBD tidak kembali merebak di wilayahnya.

Langkah penanggulangan yang cepat harus segera dilaksanakan, termasuk pengerahan dana darurat dan dana kedaruratan yang ada di APBD masing daerah. Sebelum DBD mewabah dan banyak memakan korban, upaya membasmi nyamuk penyebab penyakit ini harus dilakukan. Jangan sampai upaya pengasapan masal baru gencar dilakukan setelah DBD memakan korban.

Pemerintah juga harus terus menyosialisasikan gaya hidup bersih kepada masyarakat. Masyarakat patut bersikap waspada dan menjaga lingkungan rumah dan sekitarnya dari berjangkitnya nyamuk penyebab DBD tersebut. Petugas jumantik di lapangan harus lebih giat lagi berburu jentik nyamuk dari rumah ke rumah.

Hasil riset terkini menyatakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penularan DBD telah bermutasi dan makin sukar ditumpas. Nyamuk ini tidak hanya menularkan penyakit setelah menggigit manusia terinfeksi virus dengue, tetapi juga dapat menurunkan virus dengue lewat telurnya hingga lima generasi.

Cara paling efektif ialah meredam perkembangbiakan nyamuk dengan memberantas sarang nyamuk melalui penutupan tempat penampungan air, mengubur barang bekas yang bisa menampung air, menguras bak penampungan air, dan menyikat tempat penampungan air. Hal itu harus menjadi kesadaran semua pihak bukan hanya tugas para jumantik.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar