#GenerasiEmas#Anak#Kesehatan

Waspada Kelainan Metabolik Bawaan pada Anak

( kata)
Waspada Kelainan Metabolik Bawaan pada Anak
Ilustrasi. republika.co.id


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendesak masyarakat untuk waspada terhadap kelainan metabolik bawaan atau penyakit langka pada anak agar dapat terdeteksi sedini mungkin oleh orang tua, sehingga dapat memberikan perawatan yang tepat dan sesuai.
"Penyakit langka bersifat kronis, progresif, serta mengakibatkan penurunan dan mengancam kehidupan para pasien. Masyarakat perlu diberikan pemahaman yang tepat terhadap beberapa penyakit langka sehingga bisa terdeteksi sedini mungkin," kata Ketua Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM, Damayanti R Sjarif, di Jakarta, Rabu (4/10/2017).
Damayanti mengatakan beberapa jenis penyakit langka yang sudah ditemukan di Indonesia yang termasuk kelainan metabolik bawaan, antara lain mukopolisakaridosis (MPS) tipe II dan gaucher yang termasuk dalam lysosomal storage disorders (LSD). Kelainan mukopolisakaridosis tipe II terjadi pada satu dari 100 ribu orang, satu dari 170 ribu-nya adalah laki-laki. Pasien dengan mukopolisakardosis biasanya mengalami perubahan pada wajah, tulang, sendi, dan organ tubuh lainnya.
Menurut Damayanti, penyakit mukopolisakaridosis juga dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif pada anak jika tidak cepat ditangani. Penyakit langka lainnya adalah gaucher disease. Penyakit ini juga merupakan penyakit keturunan yang dapat menyerang pria maupun wanita. Penyakit ini disebabkan kurangnya enzim pada tubuh yang berfungsi untuk memecah substansi lemak pada tubuh.
Penyakit langka yang telah teridentifikasi secara umum sekitar 7.000 jenis dan memengaruhi lebih dari 350 juta orang di dunia. Penyakit ini menyumbang angka kematian sebesar 35% pada tahun pertama.
Di Indonesia, diperkirakan satu per 500 dari setiap 10 ribu anak yang lahir berpotensi terkena kelainan metabolik. Penderita penyakit langka tidak dapat bertahan hidup hingga usia lima tahun.
Staf Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM, Klara Yuliarti, menyatakan gejala penderita memang tidak langsung terlihat. Kewajiban setiap dokter harus memberikan edukasi agar masyarakat sadar akan gejala awal dari penyakit langka sehingga dapat diatasi dengan tepat serta mengurangi angka kematian.
"Sudah menjadi kewajiban setiap dokter untuk terus meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat guna melakukan diagnosis awal. Hal ini dilakukan agar gejala penderita yang tidak langsung terlihat dapat memberikan terapi yang tepat dan mencegah angka kematian," kata Klara. 

Yusmart Dwi Saputra/Antara/Media Indonesia







Berita Terkait



Komentar