#Budidaya#Talasbeneng

Warga Tubaba Kenalkan Tanaman Talas Beneng ke Generasi Milenial

( kata)
Warga Tubaba Kenalkan Tanaman Talas Beneng ke Generasi Milenial
Sepransyah (baju biru) bersama sejumlah petani memperkenalkan tanaman talas Beneng kepada kaum milinial. Lampost.co/Merwan


Panaragan (Lampost.co) -- Petani milenial di Tulangbawang Barat (Tubaba) mulai tertarik membudidayakan tanaman talas beneng. Tanaman asal Pandeglang, Banten ini menjanjikan selain untuk bahan pangan lokal juga memiliki pasar ekpor ke sejumlah negara di Asia dan Eropa.

Salah satu petani yang mulai mengembangkan si beneng ini adalah Ketua Asosiasi UMKM Lampung, Sepransyah. Putra Tubaba ini mengaku tertarik membudidayakan talas tersebut, selain mudah dikembangkan juga hasilnya mudah dipasarkan. Tanaman ini juga mulai dikembangkan kesejumlah petani milenial di kabupaten setempat.

"Talas beneng ini tidak memerlukan lahan khusus. Talas ini bisa ditanam di lahan terbuka juga bisa ditanam disela-sela tanaman keras seperti kebun karet dan sawit," ujar Sepransyah, Kamis, 25 Maret 2021.

Terkait dengan perawatan, kata dia, tanaman talas ini juga tidak memerlukan perawatan khusus karena tidak banyak menggunakan pupuk kimia, mudah dirawat, bahkan tanaman ini sekali tanam bisa panen berkali-kali.

"Talas beneng ini berbeda dengan talas biasa karena mulai dari ubi, batang dan daunnya semua bermanfaat dan laku di pasar lokal dan internasional " kata dia.

Menurut Sepransyah talas beneng banyak digunakan untuk aneka pangan lokal yang saat ini sedang banyak berkembang dan menggunakan talas sebagai bahan bakunya, karena talas jenis ini mengandung protein yang lebih tinggi dan memiliki warna kuning yang menarik sehingga menjadi ciri tersendiri yang tidak dimiliki talas lain.

"Dinegara luar tepung talas beneng ini banyak diolah menjadi bahan pangan. Untuk kebutuhan lokal pasar terbesar di Pulau Jawa dan Bali," ujarnya

Terkait dengan pemasaran, lanjutnya, pihaknya sudah masuk dalam mitra dengan asosiasi talas beneng yang berpusat di Pandeglang Banten.

"Hasil panen ditampung asosiasi untuk dipasarkan menjadi bahan pangan lokal dan ekspor. Ubinya selain dijual basah juga dibuat tepung dan daunnya dibuat tembakau nonnicotine untuk bahan rokok diekpor ke Australia dan Belanda. Sedangkan tepungnya ke Jepang dan sejumlah negara lainnya," ungkapnya.

Untuk sementara kata dia, tanaman tersebut baru dikembangkan di beberapa tempat kepada sejumlah pemuda dengan memanfaatkan lahan perkebunan yakni Tiyuh Bujungdewa, kecamatan Pagardewa dan Mulyoasri, Kecamatan Tulangbawang Tengah dan Margodadi, kecamatan Tumijajar.

"Tanaman talas di tiga lokasi ini sekitar 10 hektare. Untuk penambahan lahan kita sedang mencoba untuk bekerjasama dengan sejumlah kelompok tani di semua kecamatan, dengan memberdayakan para kaum milenial," ungkapnya.

Dia mengaku tanaman talas tersebut baru dikembangkan di kabupaten setempat pertengahan November 2020. Penanaman dilakukan setelah dirinya bersama dengan sejumlah pemuda di kabupaten setempat yang tergabung dalam Asosiasi UMKM melakukan studi banding ke pusat penanaman talas beneng di Padeglang, Banten.

Untuk penanaman, kata dia, dalam lokasi satu hektare sebanyak 10.000 batang dengan pola panen yakni panen awal sekitar 3,5 ton,  panen ke 2 setelah 3 minggu dari panen pertama 5 ton. Panen normal setelah panen ke tiga dengan usia 4- 5 bulan dari tanam berkisaran 8- 10 per hektare.

"Tanaman ini sangat menjanjikan hasil panennya  per hektare bisa mencapai Rp167 juta. Sedangkan biaya perawatan hanya membutuhkan dana sebesar Rp49 juta. Nilai tersebut dihitung dari jual daun, batang dan ubinya dan kami baru panen perdana Februari lalu," kata dia.

Winarko







Berita Terkait



Komentar