#depresi,#keluarga,#tetangga

Warga Tidak Percaya Kakek Berusia 76 Tahun Nekat Akhiri Hidup

( kata)
Warga Tidak Percaya Kakek Berusia 76 Tahun Nekat Akhiri Hidup
Ilustrasi: Pixabay.com



PRINGSEWU (Lampost.co) -- Sejumlah warga masih tidak percaya Ikhsan, kakek  berusia 76 tahun, yang juga warga Pekon Purwodadi, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri pada Senin 25 Januari 2021.

Bardan,  mantan kepala Pekon Purwodadi, mengungkapkan kondisi keluarga korban kepada lampost.co, Selasa 26 Januari 2021. Menurutnya, Minggu, 24 Januari 2021, kondisi kakek Ikhsan masih terlihat cukup sehat meski ada derita lambung di badannya.

Bardan juga mengatakan tidak ada keanehan dalam kehidupan harian Ikhsan baik dalam pergaulan dan komunikasi dengan tetangganya serta dalam kehidupan ekonomi keluarga. Ia mengenang Ikhsan seperti tetangga lainnya, mudah berinteraksi dengan tetangga dan kehidupannya juga standar kebanyakan orang. 

"Memang Ikhsan hidup sebagai petani, dan selaku warga kampung, ia juga sebenarnya memiliki lahan pertaniannya sendiri sehingga tidak juga dikatakan miskin," ujar Bardan, Selasa, 26 Januari 2021.

Ia mengungkapkan mereka memiliki tiga anak. Dua orang sudah memiliki keluarga sedang satunya paling muda belum. Saat ini yang paling muda bernama Abdul Gofur atau Gofur, berusia sekitar 34 tahun. Kondisi anak ketiganya bisa dikatakan tidak seperti kebanyakan orang. 

Bardan menuturkan Gofur beberapa kali sempat mengalami perawatan di rumah sakit jiwa, tetapi belum bisa sehat mentalnya. Kemudian anak ketiganya juga sering melakukan keanehan dengan berperilaku aneh dan marah-marah tiba-tiba. Ketika kambuh Gofur juga tidak jarang membuat repot warga sekitar.

Sakit mental pada anak ketiganya sekitar masih menginjak remaja sehingga sekitar 15 tahun lalu. Bardan menduga aksi nekat korban mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri diduga tidak murni alasan sakit lambung. "Kemungkinan besar justru memikirkan anaknya yang tidak kunjung sembuh dari sakit mental," kata Bardan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kadis Sosial Hasan Basri menyatakan sejauh ini lembaga yang dipimpinnya belum ada bagian yang menangani kasus depresi. "Tetapi kalau orang gila justru diurus oleh dinsos," ungkapnya.

Dia menjelaskan dinas sosial tidak tahu mana orang yang mengalami depresi atau tidak. Menurutnya, yang mengetahui persoalan itu biasanya adalah keluarga orang yang mengalami depresi.

Menurut Hasan, jika terdapat tanda-tanda menuju depresi (stres) sebaiknya konsultasi dengan psikolog sehingga bisa di temukan penyebab depresinya. Ia menambahkan jika memang sudah mengalami kesulitan berpikir hendaknya berdialog dengan kaum agama/tokoh agama agar iman tetap terjaga dan tidak mudah putus asa. 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar