#humaniora#dbd#malaria

Warga Perlu Waspadai DBD dan Malaria di Musim Hujan

( kata)
Warga Perlu Waspadai DBD dan Malaria di Musim Hujan
Ilustrasi. Dok/Lampost.co

Bandar Lampung (Lampost.co) – Masyarakat diingatkan mewaspadai berbagai penyakit yang rentan terjadi saat musim hujan, seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD). Selain itu mewaspadai berbagai faktor penyebab penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Bandar Lampung Edwin Rusli mengatakan masyarakat perlu mewaspadai berbagai faktor penyebab penyakit, seperti malaria dan DBD, mulai masuknya musim hujan. Penyebaran virus penyakit melalui gigitan nyamuk.

Untuk itu, perlu adanya penanganan khusus terhadap tindakan pencegahan penyebarannya, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan dan lain sebagainya. Dengan lingkungan tempat tinggal yang bersih, tingkat penyebaran sumber penyakit dapat ditekan.

“Selain DBD, masyarakat juga perlu mewaspadai penyakit malaria karena faktor penyebabnya sama lewat gigitan nyamuk. Jadi untuk tindakan pencegahan lebih pada menjaga kebersihan lingkungan karena sekarang ini sudah peralihan dari musim kemarau ke musim hujan jadi kita perlu antisipasi,” ujarnya, Selasa, 10 Desember 2019.

Dinas dalam mengantisipasi penyebaran kedua penyakit itu telah melakukan pengasapan atau fogging yang dimulai sejak Senin. Kegiatan pengasapan tersebut selalu dilaksanakan setiap tahunnya ketika memasuki pergantian musim seperti saat ini.

“Jadi kami sudah melaksanakan fogging untuk mengantisipasi itu (DBD dan malaria). Jadi sebelum banyak pengaduan masyarakat, terlebih dahulu kami lakukan untuk semua wilayah atau 20 kecamatan di-fogging sesuai perintah pak wali kota,” ujarnya.

Untuk saat ini, pihaknya belum menerima laporan adanya kasus DBD maupun malaria yang terjadi. Namun sejak Januari 2019 hingga kini, terhitung jumlah kasus DBD yang terjadi di Bandar Lampung kurang lebih 800 kasus dan tidak ada yang sampai mengakibatkan korban meninggal.

“Dari Januari sampai menjelang akhir tahun ini kurang lebih 800 kasus tapi alhamdulillah tidak ada yang meninggal namun semua positif DBD. Angka itu, menurut saya, sudah menurun. Jika melihat pada kasusnya, ini karena kesadaran masyrakat sudah ada akan penting dan bahayanya,” katanya.

Hal itu tentu didukung dengan kesiapan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) sampai kelurahan untuk membantu menangani persoalan penyakit DBD dan malaria. Jika terjadi sesuatu, puskesmas akan melaporkan ke Dinas Kesehatan setempat.

“Selain fogging, kami juga menggiatkan abateisasi yang diberikan gratis kepada masyrakat dan dapat diperoleh di puskesmas terdekat. Tinggal ambil saja minta di puskesmas atau puskesmas pembantu gratis,” ujarnya.

Dia menambahkan di Bandar Lampung tidak terdapat lokasi yang dikatakan sebagai endemik DBD. Sebab, secara keseluruhan kasus DBD yang ada merata ditiap kecamatan.

“Pada intinya kami mengimbau kepada masyarakat Bandar Lampung untuk terus menjaga kebersihan lingkungan. Jangan lupa menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS),” katanya. 

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar