#banjir#lampungutara

Korban Banjir Lampura Berharap Bantuan

( kata)
Korban Banjir Lampura Berharap Bantuan
Kondisi rumah warga Tanjungalam Permai, Kotaalam, Kotabumi memanfaatkan alat seadanya akibat rumah tergenang air, Rabu, 29 Juni 2022 malam. (Lampost.co/Fajar Nofitra)


Kotabumi (Lampost.co) -- Sejumlah warga RT014/RW005,Tanjungalam Permai, Kelurahan Kotaalam, Kecamatan Kotabumi Selatan, Lampung Utara, mengeluhkan belum adanya bantuan dari pemerintah setempat setelah rumah mereka diterjang banjir karena aliran Waysesah meluap. Hingga kini, sedikitnya dua rumah warga setempat yang tergenang akibat banjir rob.

Warga setempat, Mahyuni, mengatakan kondisi air kini telah sampai ke rumah - rumah warga. Dia menggunakan alat seadanya untuk menampung hujan.

Mahyuni juga mengaku telah hilang kepercayaan terhadap pemerintah di sana. Menurutnya, sejauh ini pemerintah hanya melaksanakan pendataan, tapi tak ada realisasi atas perhatian diberikan.

"Kecewa kami. Karena selama ada banjir tidak pernah ada yang datang (bantuan). Sehingga untuk apa itu (pendataan)," ujar Mahyuni, yang rumahnya digenangi air.

Warga lainnya, Rudi, menyatakan apa yang dilaksanakan tidak sesuai harapan. Dia hanya dapat berharap kepada Tuhan.

"Mudah - mudahan dapat cepat surut, mau pindah bagaimana? Keadaan susah begini, saya kebetulan baru pulang merantau di Baturaja, Sumatera Selatan. Dan pulang tidak tidur," ujar Rudi.

Baca juga: Dua Kecamatan di Lampura Terdampak Angin Kencang dan Banjir

Dia berharap hujan tidak turun dan air tidak naik. 

"Harapannya semua baik - baik saja, saya berharap ujian ini dapat segera berlalu," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, air di bantaran Waysesah kembali naik debitnya berakibat terputusnya akses jalan masyarakat RT 014/005, Tanjungalam Permai. Praktis satu RT yang berbatasan langsung dengan kelurahan tetangga, Tanjungharapan terputus. Warga harus memilih jalan memutar agar kendaraan bisa melintas. 

Sebab, bila harus melewati jalan yang telah digenangi air sampai pergelangan paha orang dewasa itu akan mati karena terendam banjir rob. Berdasarkan pantauan di lapangan, hujan turun mulai Selasa, 28 Juni 2022 malam sampai pertengahan malam menyebabkan debit air dan arus naik. Awalnya, air hanya sebatas tumit, kemudian naik drastis di daerah perumahan padat penduduk di Tanjungharapan.

"Cepat mas naiknya, kalau tidak memutar kami sulit pulang. Kebetulan ini baru pulang kerja," ujar warga di sana, Ali.

Wandi Barboy






Berita Terkait



Komentar