#beritalampura

Warga Lampura Berharap Pelayanan RSD Ryacudu Ditingkatkan

( kata)
Warga Lampura Berharap Pelayanan RSD Ryacudu Ditingkatkan
Pelayanan RSD HM Mayjend (Purn) Ryacudu Kotabumi di front office pada Selasa, 14 Desember 2021. Lampost.co/Fajar N


Kotabumi (Lampost) --  Warga Lampung Utara berharap pelayanan Rumah Sakit Daerah (RSD) HM Mayjend Ryacudu Kotabumi ditingkatkan. Khususnya di anjungan pendaftaran yang masih menggunakan metode lama (manual) di tengah era digital. Sebab metode lama menyita waktu, apalagi saat dokter berjaga tak ada di tempat karena alasan tertentu.

Pantauan lampost.co, terlihat antrean telah disiapkan tiga tenaga medis berada di luar dibantu satu petugas keamanan. Warga yang mengantre diberi nomor telah melalui komputerisasi, tepat samping rumah sakit dekat areal parkir kendaraan pejabat di sana. 

Saat menanyakan salah satu tenaga dokter gigi, petugas berkata dokter berhalangan karena ada urusan keluarga tanpa pemberitahuan meski telah mencatat nomor gawai pasien.

"Kami hanya petugas yang berjaga untuk pemeriksaan awal sebelum pasien atau warga membutuhkan pelayanan. Selebihnya tak tahu-menahu, kalau informasinya dokter Fitri mengantar anaknya," kata nakes di front office yang enggan disebut namanya, Selasa, 14 Desember 2021.

Baca juga: Rumah Sakit di Lampura Penuh

Diberitakan sebelumnya, rumah sakit tersebut sempat tak beroperasi karena kekurangan obat dan pendukung medis lainnya. Pemerintah daerah menyatakan akan berupaya membantu masalah keuangan yang jumlahnya belasan miliar itu. 

Direktur RSD HM Mayjend (purn) Ryacudu Kotabumi, Cholif mengaku masih terdapat beberapa kendala di sana. Misal, masalah obat-obatan dan lainnya. Hal itu mempengaruhi pelayanan rumah sakit kebanggaan masyarakat Lampura itu.

"Harap maklum ya mas, saat ini kami masih belum stabil benar. Makanya sambil berjalan kami berbenah," timpalnya.

Informasi dikumpulkan d ilapangan, honor atau insentif petugas di sana masih belum dipenuhi sampai batas waktu saat ini. Hal tersebut mempengaruhi pelayanan khususnya mereka yang membutuhkan pertolongan.

"Harusnya kan diberitahu, kalau dokternya berhalangan. Nomor hp sudah ditinggalkan. Coba tengok Handayani yang telah menggunakan sistem digital dalam pelayanannya. Minimal mengikuti. Apalagi kalau honor atau insentif belum terbayar pasti berpengaruh kepada kinerja nakes," timpal warga lainnya, Rani.

 

Wandi Barboy






Berita Terkait



Komentar