#towerbts#menaratelekomunikasi

Warga Imopuro Resah dengan Tower BTS yang Sudah 20 Tahun Berdiri

( kata)
Warga Imopuro Resah dengan Tower BTS yang Sudah 20 Tahun Berdiri
Pertemuan antara warga Imopuro khususnya RT 28 dan tim Telkomsel beserta tamu undangan lainnya.Lampost.co/Bambang Pamungkas


Metro (Lampost.co) -- Warga Kelurahan Imopuro, Metro, resah dan khawatir adanya tower base transceiver station (BTS) milik salah satu perusahaan seluler yang berdiri menjulang di Jalan K.H. A. Yasin. Keresahan warga akhirnya ditanggapi pemilik BTS dan menggelar pertemuan yang dihadiri warga sekitar, kepolisian, OPD, dan tamu undangan di Lembah Dempo, Mulyojati, Metro Pusat, Kamis, 27 Agustus 2020.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost.co, warga sekitar tower mengaku sangat khawatir dan takut terhadap berbagai kemungkinan, seperti radiasi, robohnya tower, dan sambaran petir yang terjadi ketika hujan turun.

Yudo H. Marhoet, salah seorang warga RT 28 yang tinggal di sekitar tower BTS, mengatakan resah dengan keberadaan tower BTS tersebut. Sebab, katanya, baik radiasi maupun sambaran petir sering terjadi ketika hujan turun.

"Permasalahan ini terlebihnya soal keberadaan tower yang sudah 20 tahun ini berdiri. Kami khawatir tower ini menimbulkan radiasi, kalau hujan juga kami waswas akan adanya sambaran petir. Karena tower ini yang tertinggi di Kota Metro," kata dia.

Dia menambahkan terlebih lagi terkait izin tower BTS sejak 2001 yang belum diperbarui, Telkomsel selalu berlindung di balik surat keputusan bersama (SKB) empat menteri. Oleh karena itu, warga sekitar meminta tanggung jawab Telkomsel.

"Terkait perizinan ini baru kelihatan, mereka selalu berlindung di SKB, dan dari SKB itu sebenarnya sangat mengenyampingkan hak-hak masyarakat terlebih lagi hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang sehat. Yang jelas ini yang mendorong kami menuntut tanggung jawab dari Telkomsel ini," katanya.

Keluhan juga disampaikan Gito (66) terkait ground penangkal petir yang kurang memadai mengakibatkan sambaran petir yang sempat terjadi sampai mengeluarkan api, bahkan dari getarannya sampai membuat sakit. "Selama ini ground yang ada tidak memadai. Sempat terjadi saat sambaran petir sampai mengeluarkan api, ditambah lagi dengan getarannya yang membuat beberapa warga jadi sakit dan ketakutan," ujarnya.

Sementara itu, Hendro Imam dari Telkomsel mengatakan pihaknya telah melakukan tugas sesuai SOP, mulai dampak negatif tower hingga bertanggung jawab atas kerusakan barang elektronik yang memang diakibatkan radiasi maupun sambaran petir.

"Kami sudah menjalankan tugas sesuai SOP dan bertanggung jawab atas segala hal-hal buruk dampak negatif tower. Bahkan, kami telah melakukan tindakan preventif. Saya akan mengajukan kontribusi dari masyarakat ke pimpinan," kata dia. 

Surat keputusan bersama (SKB) empat menteri, yakni menteri Dalam Negeri, menteri Pekerjaan Umum, menteri Komunikasi dan Informatika, dan kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 18 Tahun 2009, Nomor 07/PRT/M/2009, Nomor 19/PER/M.KOMINFO/ 03/2009, Nomor 3/P/2009 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Bersama Menara Telekomunikasi.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar