#TambangBatu#Lamsel#Dilaporkan#beritalampung

Warga Buring Laporkan Perusahaan Batu Split ke Polda

( kata)
Warga Buring Laporkan Perusahaan Batu Split ke Polda
Warga Buring, Desa Sukabaru, Penengahan, Lamsel menunjukkan rumahnya yang retak akibat aktivitas peledakan perusahaan batu, Selasa (16/1/2018). Foto: Lampost/Aan Kridolaksono)


KALIANDA (Lampost.co)--Warga Dusun Buring, Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan melaporkan PT Sumber Makmur Alam Lampung (SMAL) ke Polda Lampung, lantaran perusahaan batu split itu belum memberikan ganti rugi terhadap kerusakan bangunan rumah warga.

“Pihak perusahaan sampai saat ini tidak merealisasikan janjinya.  Karena itu,  kasus yang merugikan warga Buring ini telah kami laporkan ke Polda Lampung,” kata Anfal (36), salah satu warga dusun Buring kepada Lampost.co, Selasa (16/1/2018).
Dengan melaporkan PT SMAL ke Polda,  ujarnya,  pihak perusahaan bisa mengeluarkan uang ganti rugi yang telah di janjikan.  
"Harapan kami, setelah kasus ini kami laporkan, PT. SMAL dapat mengeluarkan ganti rugi yang telah di janjikan," ujar Anfal. 
Ia menambahkan, PT. SMAL pernah menjanjikan uang ganti rugi kerusakan bangunan rumah warga Rp50 ribu per meter, nanun ditolak karena dianggap tidak sesuai dengan bangunan yang akan diperbaiki. 
"Dalam hitungan kami uang ganti rugi yang ditawarkan pihak perusahaan tidak cukup untuk biaya perbaikan rumah kami yang rusak,” ujarnya. 

Samtomi (48), korban blasting lainnya mengaku tidak meminta ganti rugi kepada pihak perusahaan yang telah membuat rumahnya mengalami kerusakan seperti banyak bangunan retak, termasuk kaca jendela akibat aktivitas perusahaan. Ia meminta kepolisian maupun pemerintah menutup aktivitas perusahaan batu split yang beroperasi sejak Mei 2017 tersebut. 
“Kalau ganti rugi itu hanya sekali. Percuma kalau hanya dapat ganti rugi, aktivitas peledakan batu masih jalan terus, dan membuat rumah kami rusak kembali.  Untuk itu, lebih baik perusahaan tersebut tutup, “ kata dia. 
Sementara  Kepala Dusun Buring Desa Sukabaru, Hermanto, didampingi Hasanudin selaku penasehat hukum warga Dusun Buring mengatakan sejak perusahaan batu split yang berjarak sekitar 400 meter dari pemukiman itu beroperasi,  tercatat sebanyak 80 an dinding runah warga retak dan rusak. 
Untuk itu, ujarnya,  warga yang dirugikan tersebut meminta pihak perusahaan mengganti kerusakan rumah warga Rp60 ribu per titik keretakan.“Selain itu warga juga meminta intensitas pengeboman batu dikurangi, sehingga tidak mengganggu ketenangan warga. Namun tuntutan kami hingga saat ini belum juga ditindaklanjuti, karenanya kasus ini kami laporkan ke Polda,” kata dia.
Sementara itu, saat Lampost.co hendak melakukan konfirmasi terkait aktivitas yang merugikan warga Dusun Buring ke kantor PT SMAL, pihak perusahaan enggan menanggapi dan terkesan acuh. 

Aan Kridolaksono






Berita Terkait



Komentar