#beritalampung#jad#teroris#densus88

Warga Bekasi Yang Ditangkap Densus Sudah 3 Bulan Melarikan Diri ke Lampung

( kata)
Warga Bekasi Yang Ditangkap Densus Sudah 3 Bulan Melarikan Diri ke Lampung
Pemimpin Khilafatul Muslimin Lampung, Abdul Qadir Hasan Baraja. Foto: Dok

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Noval Agus Syafroni, warga Tambun, Bekasi, yang diamankan oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri pada Minggu 13 Oktober 2019, ternyata sudah sekitar 3 bulan menetap di Bandar Lampung.

Pemimpin Khilafatul Muslimin Lampung, Abdul Qadir Hasan Baraja mengatakan secara administratif Noval sudah tercatat sebagai jemaah Khilafatul Muslimim di Kemas'ulan di Bekasi. "Jadi dia ini terdata di Bekasi dan sudah sekitar 3 bulan tinggal di Bandar Lampung. Numpang di rumah Pak Joko (jemaah lain, red), karena ada rumah kosong," ujar Abdul Qadir, Selasa, 15 Oktober 2019.

Menurut Abdul Qadir, tidak ada yang mencurigakan terhadap tindak tanduk Noval saat tinggal di Bandar Lampung. Menurutnya, Noval pun aktif di kegiatan Kemas'ulan Citiis, di daerah Batuputu, Telukbetung Barat, sejak pindah ke Bandar Lampung.

"Dia waktu pindah sempat kami tanya, atau cari informasi. Dia enggak betah disana, karena kan saya pernah kasih saran ke jemaah, kalau Jakarta itu tidak aman karena permukaan tanahnya terus turun setiap tahun, dan dikhawatirkan banjir hingga tenggelam. Jadi saya sarankan bisa pindah dan dia pindah ke Lampung karena alasan itu," katanya.

Lantas, Abdul Qadir yang sudah sering bersinergi dengan aparat kepolisian dan TNI, mendapatkan informasi kalau Noval merupakan pelarian dan terlibat dengan jaringan Abu Zee (penusukan Wiranto). Lantas, Abdul Qodir memanggil Noval dan juga memanggil aparat, untuk dilakukan cross check dan pemeriksaan.

"Kan polisi bilang ke saya, kalau dia dicuriga. Lah saya kan kaget, ya udah datang aja pak polisi, nanti saya panggil juga dia (Noval). Sempat saya tanya ke Noval apa benar dia pelarian (jaringan JAD). Dia bantah, tapi pas diperiksa polisi dia juga bantah, lalu diputerin rekaman sama polisi saat dia baiat. Dia sudah enggak bisa ngelak," katanya.

Abdul Qadir pun tidak membenarkan adanya jemaah yang terlibat paham radikal, menganiaya, melukai, hingga mengancam nyawa orang. "Kalau saya tahu, itu saya coret langsung. Dia dianggap maksiat. Di Khilafatul Muslimin merokok saja kita enggak boleh, apalagi sampai begitu (radikal dan melukai)," paparnya.

Baca juga:

Densus 88 Amankan 4 Orang Terduga Jaringan JAD

Khalifah Khilafatul Muslimin Benarkan Noval Diamankan di Kantornya

Polisi Beberkan Keterkaitan Penyerang Wiranto dengan JAD

Diduga Terkait Penusukan Wiranto, Densus Amankan Pria Asal Bekasi di Lampung

Abdul berharap agar masyarakat tidak salah paham dengan organisasi Khilafatul Muslimin. Organisasi ini, menurut Abdul Qadir bukan merupakan ideologi atau sistem suatu negara, tapi pola hidup berjamaah antar masyarakat seluruh dunia seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Khilafatul Muslimin tidak pernah mempermasalahkan adanya negara atau menentang suatu negara, karena yang difokuskan adalah sistem kehidupan berjamaah.

"Kegiatan kami banyak, mengaji, ibadah, dan sebagainya dan saya sudah tak henti-hentinya memberikan arahan ke jemaah agar jauhi maksiat, tidak melukai orang lain. Bahkan kami minta jangan sampai ada yang korupsi jemaah kita kalau jadi pemimpin," paparnya.

Asrul Septian Malik

Berita Terkait

Komentar