ponpesrapidtessantrilampura

Wali Santri Keluhkan Biaya Rapid Tes di Ponpes Lampura

( kata)
Wali Santri Keluhkan Biaya Rapid Tes di Ponpes Lampura
Ilustrasi.Dok


KOTABUMI (Lampost.co) -- Pondok Pesantren Wali Songo di Lampung Utara memunguti biaya sebesar Rp100 ribu kepada santrinya yang melakukan rapid tes. Padahal pemeriksaan uji covid-19 itu dilakukan secara gratis dari satuan tugas percepatan penanganan covid-19. 

Plt Kepala Dinas Kesehatan, Maya Manan, menanggapi keluhan wali murid ponpes Wali Songo itu, Jumat, 4 Desember 2020. Sebab, santri dipungut Rp100.000 per orang untuk memeriksakan kesehatannya yang disetor kepada pihak pondok pesantren.

"Kalau tim satgas daerah lakukan semua gratis. Tapi tidak tahu kalau sebelumnya, karena setahu saya pelaksanaannya dilakukan sebelum tim memelakukan pemeriksaan," kata Maya melalui sambungan ponselnya.

Untuk itu, dirinya tidak mengetahui secara persis kejadian di lapangan. Sebab, rapid tes itu telah dilakukan lebih dahulu, sebelum satgas turun pasca timbul klaster pondok pesantren.

"Saya menjamin gratis, kalau petugas kita melaksanakan disana. Selain itu, juga ada bantuan pemerintah daerah, berupa beras," terangnya.

Pihak Ponpes membenarkan adanya sumbangan dari orang wali guna memeriksakan kesehatan siswa. terdapat sekitar 1.200 santri yang mengikuti dengan biaya Rp110 ribu per santri karena dilaksanakan secara mandiri.

"Kami rapid tes mandiri terhadap 1.200 orang dengan biaya Rp110 ribu per orang. Hasinya negatif dan yang reaktif kami pulangkan dan diserahkan ke gugus tugas untuk swab tes," kata Pengasug Pondok Pesantren Walisongo, Komarudin.

Pelaksanaan rapid tes mandiri itu, dilakukan kepada guru dan anak yatim sesuai arahan pemerintah, guna mencegah penyebaran covid 19. 

"Biaya itu tidak semua yang membayar, karena kami memberi keringanan kepada santri yang tidak mampu. Kita berikan secara cuma-cuma atau gratis," ujarnya.

Kendati demikian, pungutan itu tetap dikeluhkan para orang tua wali santri pondok pesantren. Apalagi ditengah pendemi saat ini, mereka harus merogoh kocek untuk melakukan rapid test.

"Cukup berat om, apalagi sekarang pandemi dan paceklik. Ditengah harga-harga komoditas turun dan tidal ada musim. Padahal ada yang gratis, kenapa harus membayar," ujar Udi, salah seorang wali murid santri.
 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar