#pencemaranlingkungan#lingkungan#walhi

Walhi Desak DLH Usut Industri Penyebab Pencemaran Way Sekampung

( kata)
Walhi Desak DLH Usut Industri Penyebab Pencemaran Way Sekampung
Sungai Sekampung yang tercemar. Foto: Istimewa


Bandar Lampung (Lampot.co): Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung mengadu ke Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung. Pengaduan tersebut terkait adanya pencemaran di Way (sungai) Sekampung, Lampung Timur. Foto dan videonya pencemaran pun sempat beredar di media sosial.

Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Lampung, Edi Santoso, mengatakan lokasi sungai yang tercemar berada di Desa Peniagaan, Kecamatan Marga Sekampung, Lampung Timur. Sungai tersebut memisahkan Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Selatan. Banyak aliran sungai yang bermuara ke Way Sekampung.

Sungai Way Sekampung yang melintasi Kecamatan Marga Sekampung dan Kecamatan Jabung merupakan sungai yang menjadi langganan pencemaran limbah oleh perusahan pabrik industri sekitar. 

"Tercemarnya air oleh limbah menyebabkan kondisi air sungai berubah warna menjadi hitam dan berbau. Dan dampak yang terlihat ialah sejumlah ikan di sungai mati," ujarnya, Kamis, 12 November 2020.

Informasi yang didapat Walhi Lampung pada 30 Oktober 2020 terlihat Way Sekampung tercemar limbah yang berwarna hitam pekat dan berbau seperti air comberan.

"Berdasarkan informasi tersebut, tim investigasi Walhi Lampung turun lapangan pada 31 Oktober 2020 di lokasi pencemaran, tepatnya di Desa Peniangan, Kecamatan Marga Sekampung," katanya.

Dari hasil investigasi dalam lokasi tersebut memang air terlihat hitam pekat dan berbau comberan dan ditemukan beberapa ikan mati dan banyak ikan mabuk yang diduga dari air limbah tersebut.

"Dalam kesempatan tersebut tim melakukan penelusuran di lokasi kejadian dengan menggunakan perahu nelayan. Kurang lebih sepanjang 500 m yang berwarna hitam pekat. Informasi dari masyarakat bahwa peristiwa tersebut bukan hanya kali ini terjadi melainkan sudah beberapa tahun ini pencemaran terus terjadi dan dalam satu bulan ini sudah 10 kali terjadi," paparnya.

Lanjut Edi, masyarakat merasa dirugikan dengan pencemaran yang terus-terusan terjadi tanpa ada penyelesaian.

"Warga sekitar menerima imbasnya yang setiap hari bergantung pada Way Sekampung sebagai sumber penghasilan dari hasil tangkapan ikan serta air sungai yang dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari seperti mandi dan lain-lain," ujarnya.

Dia mengungkapkan dari beberapa masyarakat yang ditemui mengatakan beberapa perusahaan yang berada di sekitar Way Sekampung, limbah tersebut berasal dari PT Sugar Labinta Lampung.

"Berdasarkan informasi tersebut, tim melakukan penelusuran terhadap perusahaan yang diduga sebagai pelaku pencemaran Way Sekampung, namun dalam melakukan penelusuran tidak di temukan bukti-bukti kuat perusahaan mana yang melakukan pencemaran. Namun, dari gambar citra satelit memperkuat bahwa ada tiga perusahaan yang memiliki ilpal yang terlihat berwarna hitam yang kemungkinan besar adalah pelaku pencemaran," katanya.

Selain itu pada 10 November 2020, Walhi Lampung mendapat informasi bahwa peristiwa pencemaran semakin parah yang terjadi di Desa Gunungsugih Besar.

"Terlihat dari gambar yang dikirim oleh masyarakat terdapat banyak ikan yang mati akibat pencemaran yang terjadi," kata dia.

Dengan demikian, kata dia, masyarakat berharap untuk pemerintah segera mengambil langkah tegas untuk mengusut tuntas dugaan pelanggaran lingkungan hidup tersebut dan melakukan upaya-upaya penegakan hukum terhadap pelaku dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Adi Sunaryo







Berita Terkait



Komentar