#wakilrakyat#nuansa

Wakil Rakyat

( kata)
Wakil Rakyat
Ilustrasi. (Dok. Lampost.co)

LEBIH dari 400 anggota DPRD 15 kabupaten/kota se-Lampung telah dilantik dan diambil sumpah jabatannya pada Senin (19/8) dan Selasa (20/8). Mulai saat itu pula, wakil rakyat yang dipilih pada 17 April 2019 itu menyandang amanah rakyat.

Masih ingatkah Anda dengan lirik lagu ini? “Wakil rakyat kumpulan orang hebat, bukan kumpulan teman-teman dekat. Apalagi sanak famili. Di hati dan lidahmu kami berharap. Suara kami tolong dengar lalu sampaikan. Jangan ragu jangan takut karang menghadang. Bicaralah yang lantang jangan hanya diam.”

Seluruh anggota DPRD saya rasa juga pernah mendengar atau tahu dengan lagu Wakil Rakyat yang dinyanyikan Iwan Fals ini. “Wakil rakyat seharusnya merakyat. Jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Wakil rakyat bukan paduan suara. Hanya tahu nyanyian lagu setuju.”

Melalui lagu ini, saya hanya sekadar mengingatkan agar para wakil rakyat melaksanakan tiga tugas dan fungsinya di legislatif: fungsi legislasi, fungsi pengawasan, dan fungsi anggaran.

Secara teoretis, saya amat yakin para wakil rakyat ini merupakan orang-orang pilihan terbaik. Mereka tentu sudah sangat paham dengan tugas dan fungsinya. Apalagi, para politikus yang selama ini sibuk dan aktif terlibat dalam partai ataupun ormas.

Pada fungsi legislasi, jujur harus dikatakan bahwa masih banyak program legislasi daerah (prolegda) yang tak tergarap tuntas oleh para wakil rakyat.

Dalam setahun, semestinya prolegda dapat mencapai target. Tidak lagi menyisakan pekerjaan rumah di tahun-tahun berikutnya. Wakil rakyat jangan hanya banyak pelesiran bermodus bimbingan teknis (bimtek) di luar kota. Sekalipun itu penting, harus jelas outputnya.

Cek anggaran bimtek setiap DPRD kabupaten/kota. Angka itu biasanya amat sangat fantastis. Tapi, faktanya, ada saja Dewan malas. Bimtek hanya menjadi momen pelesiran menghabiskan anggaran daerah. Mirisnya lagi, pura-pura pergi dan hanya mengambil komisi alias uang jajan.

Rakyat tentu tidak ingin amanah yang dititipkan menjadi sia-sia. Akhirnya, menjadi hukuman bagi para wakil rakyat itu sendiri pada kontestasi pileg masa mendatang. Rakyat tidak lagi memilih mereka.

Rakyat tidak ingin para wakil rakyatnya hanya duduk manis menunggu gaji dan tunjangan. Rakyat ingin harapan mereka dapat diperjuangkan. Cek di sekitar lingkungan kita. Masih banyak fasilitas infrastruktur yang jauh panggang dari api alias rusak parah. Jangan sampai saudara duduk, selama lima tahun itu pula infrastruktur di daerah pemilihan Anda tak tersentuh pembangunan.

Banyak wakil rakyat terpilih merupakan generasi milenial. Di pundak mereka ada banyak harapan. Jangan sampai terjerumus korupsi hingga berujung bui.

 

 

Eka Setiawan



Berita Terkait



Komentar