#feature#buahpinang#beritalampura

Usia Senja Tak Mengurangi Semangat Sayidah Membelah Rezeki dari Buah Pinang

( kata)
Usia Senja Tak Mengurangi Semangat Sayidah Membelah Rezeki dari Buah Pinang
Sayidah (88) masih cekatan mengambil buah pinang sebelum di belah dikediamannya, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Sungkai Barat. Foto: Yudhi Hardiyanto

KOTABUMI (Lampost.co) -- Diusianya yang senja, tangan Sayidah (88) masih cekatan mengambil buah pinang sebelum dibelah. 

Siang itu, Jumat (26/7/2019), waktu telah menunjukkan pukul 11.10 dikediamannya di Desa Tanjungjaya, Kecamatan Sungkai Barat, Sayidah sedang duduk di depan beranda rumahnya yang sederhana. 

Sambil memegang buah pinang yang dikumpulkan setiap hari dari pekarangan rumah tetangga, nenek Sayidah tampak sibuk membelah buah pinang untuk di ambil bijinya. "Buah pinang yang saya belah ini merupakan buah pinang jatuhan yang saya kumpulkan dari pohon pinang milik tetangga yang tumbuh di sekitar rumah. Sebelum mengumpulkan buah pinang itu, saya sebelumnya sudah meminta izin dari pemilik kebun," kata dia. 

Dia mengaku dari kegiatan baru yang sudah setahun terakhir dilakoni itu, dalam sehari dirinya bisa mengumpulkan buah pinang antara 5 kg sampai 15 kg tergantung dari banyak sedikitnya buah yang rontok.

"Sebelumnya saya membantu di perladangan. Setahun terakhir saya mulai mengumpulkan buah pinang. Untuk hasil, kalau rontoknya sedikit ya dapat sedikit, kalau banyak ya dapat banyak dan lagi di usia saya yang sudah sepuh, inilah pekerjaan yang bisa dilakukan setiap hari. Sehingga saya tidak menggantungkan hidup dari anak-anak," ujarnya. 

Untuk penghasilan, dia mengaku, tidak menentu. Harga biji pinang saat ini di beli pengepul, Rp6 ribu/kilo. "Kalau sudah terkumpul sekitar 30 kg, saya baru menjualnya. Hasil yang saya dapat dari penjualan sekitar Rp180 ribu - Rp200 ribu. Uang sebesar itu, bagi saya sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan saya pribadi," tuturnya. 

Dia akhir pembicaraan, dengan lirih Sayidah berujar, anak-anaknya sudah berkeluarga. "Kalau hanya sekedar mencukupi kebutuhan saya yang seorang diri, pasti dapat mereka penuhi. Tapi, bagaimana dengan perasaan saya yang pernah membesarkan mereka," kata dia.

"Kata orang, di usia saya ini, sudah waktunya istirahat. Duduk bersantai di bale-bale ditemani secangkir teh sebagai penghangat di pagi hari, menunggu senja meredup sampai waktu tidur tiba. Hanya saja, di sisa waktu ini saya masih ingin berkarya meskipun dengan keterbatasan yang saya miliki," kata dia.

Yudhi Hardiyanto

Berita Terkait

Komentar