Beraspetani

Usaha Penggilingan Padi di Lampura Kesulitan Jual Beras Petani

( kata)
Usaha Penggilingan Padi di Lampura Kesulitan Jual Beras Petani
Usaha penggilingan padi, warga Desa Sumber Arum, Kecamatan Kotabumi. Yudhi

KOTABUMI (Lampost.co) -- Pemilik usaha penggilingan padi di Kabupaten Lampung Utara mengaku kesulitan menjual beras petani. Kondisi ini, semakin dipersulit dengan naiknya harga gabah kering panen (GKP) di awal September 2020 dari sebelumnya Rp3.500/kg naik menjadi Rp4.400/kg.

"Harga GKP naik Rp4.400/kg. Sementara harga beras di pasaran relatif stabil. Untuk kwalitas medium, masih dikisaran harga Rp9.800/kg sampai Rp10 ribu/kilo," ujar pemilik usaha penggilingan padi, warga Desa Sumber Arum, Kecamatan Kotabumi, Karyadi, di lokasi usahanya, Sabtu, 12 September 2020.

Dia mengaku, sebelumnya dalam seminggu beras yang diserap pasar di seputar wilayah Kotabumi berkisar 1 ton sampai 1,2 ton. Mulai Mei 2020 lalu, penjualan beras miliknya anjlok menjadi 2 kwintal seminggu.

"Dari Mei 2020 itu, untuk menjual 2 kwintal beras seminggu, belum tentu habis di serap pasar dan hal ini, juga dialami para rekannya sesama pemilik usaha penggilingan padi," tuturnya menambahkan.

Kondisi ini, ditambah dengan naiknya harga GKP di tingkat petani mulai awal September 2020 lalu. Dia menjelaskan dari 10 kg gabah akan dihasilkan sekitar 4 kg beras. Dengan harga beli gabah sebelumnya Rp3.500/kg saja, modal yang mesti dikeluarkan senilai Rp35 ribu. Bila harga beras di jual ke konsumen dengan harga di pasaran Rp10 ribu/kg, berarti nilai jual beras seberat 4 kg itu menjadi Rp40 ribu. Kalau sekarang harga gabah naik, keuntungan pemilik usaha penggiling padi dari hasil penjualan beras sekali produksi akan semakin tipis.

"Sekarang, pemilik penggilingan padi rata-rata mengambil keuntungan dari jasa penggilingan padi petani, dengan perbandingan untuk 10 beras yang dihasilkan, pemilik penggilingan mendapat upah jasa 1 kg beras," kata dia menambahkan.

Disingung penyebab, dia menjawab, dimungkinkan karena penerima bantuan sosial (bansos) baik dari pemerintah kabupaten maupun desa, juga swasta ke masyarakat selama pandemi covid-19, jumlahnya melonjak. Sebab Bansos yang disalurkan selain bentuk uang tunai juga dalam bentuk bahan makanan pokok, yakni beras.

"Beras yang disampaikan ke masyarakat yang membutuhkan itu tidak di beli dari  usaha-usaha penggilingan padi di wilayah mas dan sekarang, keluarga penerima bansos menyimpan beras dirumahnya. Dari pengalaman, penjualan akan mengalami kenaikan kalau jatah beras yang mesti disampaikan lembaga-lembaga tersebut setiap bulannya mengalami keterlambatan," tuturnya lirih.

Winarko



Berita Terkait



Komentar