#opini#LampungPost#revolusimental

Urgensi Revolusi Mental

( kata)
Urgensi Revolusi Mental
Revolusi mental. 3.bp.blogspot.com

BUKU Indonesia Menggugat karya Bung Karno menyebutkan perlunya bangsa ini melakukan empat program retooling, yaitu retooling mentalitet, alat kekuasaan, jaringan distribusi (logistik), dan alat-alat produksi.
Landasan retooling mentalitet inilah yang menjadi fondasi keberhasilan ketiga retooling lainnya. Retooling mentalitet hanya bisa dilaksanakan manakala di-back up kekuatan rakyat terorganisasi di bawah pengendalian oleh pemerintah.
Program retooling mentalitet dan alat kekuasaan kemudian diadopsi Pak Jokowi sebagai isu sentral dalam Pemilu 2014 yang lalu dengan nama Revolusi Mental, bagaikan obat mujarab bagi bangsa yang sudah lama terpuruk dan tak berdaya memanfaatkan berkah globalisasi yang akhirnya terkulai lemas, dan justru sebagai korban globalisasi.
Revolusi Mental dan figur Jokowi bagaikan secercah cahaya di lorong panjang tidak berujung yang gelap gulita. Kata ajaib inilah yang telah mengantarkan seorang Jokowi yang berperilaku tidak berbeda dengan rakyat kebanyakan bisa sampai ke Istana.
Kondisi tersebut tidak lepas dari memuncaknya kemuakan publik pada kerusakan moral elite akibat praktik mafia dan korupsi yang begitu terstruktur, sistematik, dan masif (TSM) di tengah realitas ketimpangan sosial makin menganga.
Model berandal politik dan bandit ekonomi terus terjadi. Penzaliman terhadap rakyat oleh kekuatan kapital (capital violence) dan teror oleh aparatur negara (state terrorism) juga terjadi di sejumlah wilayah.

Evaluasi Program

Sebagai janji politik, Revolusi Mental hukumnya wajib untuk dipenuhi. Bagai seteguk air di padang pasir gersang, rakyat begitu tinggi menaruh harap kepada Presiden Jokowi untuk segera memperbaiki peradaban yang sudah begitu rusaknya.
Seremoni seperti Jambore Revolusi Mental yang baru-baru ini digelar di Solo bukan tidak penting. Yang lebih penting lagi bagaimana program Revolusi Mental bisa segera dirasakan hasilnya oleh rakyat banyak.
Realitasnya dalam tiga tahun pertama masa pemerintahan Presiden Jokowi, program Revolusi Mental belum dapat dibumikan jajaran kabinetnya. Kondisi buruk yang terkait dengan mentalitet dan penampilan aparatur negara belum berubah dari sebelumnya.
Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi Kabinet Kerja untuk mendesain ulang, dalam bentuk program terukur yang mampu mengubah perilaku birokrasi sesuai dengan tuntutan demokrasi.

Langkah Konkret

Adapun sejumlah langkah konkret yang perlu segera diambil, antara lain: Pertama, ubah birokrasi menjadi pelayan. Di mana pun pihak yang menerima upah adalah pegawai, karyawan, pelayan, dan sebutan lain yang sejenis. Pihak yang membayar upah adalah majikan. Dari prinsip dasar itulah, dalam negara demokrasi di mana pun, kedudukan rakyat ialah majikan, sedangkan yang duduk di birokrasi pemerintah adalah pelayan rakyat.
Untuk mengubah sikap birokrasi sebagai pelayan rakyat, perubahan lanskap makro ini bisa memaksa pemerintah untuk mentransformasi diri dari bureaucratic monopolistic government jadi entrepreneurial competitive public services, yaitu suatu pemerintahan yang melayani rakyatnya dengan sepenuh hati dan selalu memanfaatkan peluang untuk memakmurkan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Untuk itu, program Revolusi Mental setidaknya memiliki lima tujuan (5-E). Enlightening, sumber pengetahuan dan menggali persoalan rakyat dari tiap daerah melalui partisipasi rakyat secara langsung. Entertaining, memberi layanan bagaikan hiburan yang segar, memberikan harapan, dan mewujudkan kepuasan rakyat.
Envisioning, sumber inspirasi dan motivasi untuk membangkitkan semangat rakyat yang dirundung masalah. Educating, mendidik masyarakat dan terutama elite pemimpin itu sendiri agar melihat rakyat dengan kacamata yang tepat. Lalu example, memberi percontohan nyata dengan solusi terukur dengan mengambil kisah sukses di tempat lain (negara lain).
Kedua, balik paradigma. Warisan berupa sistem kenegaraan yang amburadul, praktik mafia merajalela bahkan rekayasa dan kriminalisasi memakai hukum, yaitu aparat dijadikan boneka melalui permainan teknis sehingga tampak alami.
Tenaga dan sumber daya kekuasaan yang bersih sangat terbatas. Oleh sebab itu, untuk mencapai keberhasilan yang segera bisa dirasakan rakyat, diperlukan titik-titik yang tepat sehingga efektif dan cerdas menjamin keberhasilan. Inilah kerja cerdas dan tidak meletihkan. Ini hanya mungkin dijalankan mereka yang sudah paham peta permainan sehingga titik sentuh yang out of the box dalam proses membalik paradigma terjadi secara alami.
Ketiga, ubah kendala menjadi peluang. Pemerintahan sebelumnya meninggalkan segudang masalah yang kini menjadi kendala bagi pemerintahan Jokowi. Namun, kondisi tersebut sesungguhnya juga peluang emas bagi pemerintahan baru untuk mengukir prestasi (success story).
Keempat, tata ulang tata negara, tata ruang, dan tata uang. Proses reformasi tanpa perubahan model secara mendasar sama saja dengan melanjutkan residu Orde Baru yang sudah mencapai puncak saturasi (saturated model) sehingga perlu turning point (titik balik) apabila tidak mau masuk jurang.
Kelima, komunikasi politik dengan senyum dan deham (batuk kecil). Jenis komunikasi politik dengan mental pemenang ialah senyum dan deham. Artinya hanya dengan senyum bisa menenteramkan rakyat dan secara otomatis menggetarkan lawan. Hanya dengan deham semua jajaran sudah terbirit-birit. Yang selama ini dipraktikkan Presiden Jokowi adalah jenis senyum. Tinggal batuknya yang perlu diperdengarkan agar para koruptor terbirit-birit dan berhenti bikin ruwet.
Hal ini akan menjadi expression of power yang merupakan kinerja politik sebuah rezim berupa keberhasilan pembentukan realitas dukungan publik yang diciptakan melalui kualitas dan kepiawaian komunikasi politik dan perwujudan kepuasan rakyat.
Sebagai pemenang tentu memosisikan diri sebagai trendsetters melalui penciptaan trending topics yang menyejukkan, memberi harapan, mengayomi, mendorong kinerja jajaran pemerintahan yang bersih, ramping, tanggap, sigap, tidak arogan, dan seterusnya. Dengan demikian, pihak lain, termasuk jajaran yang kalah, secara otomatis menempatkan diri pada posisi follower.
Keenam, menggunakan lembaga extrajudicial. Revolusi Mental tidak mungkin bisa dilakukan pihak-pihak yang selama ini menjadi bagian dari permasalahan dan mustahil menggunakan lembaga konvensional. Sejarah peradaban berbagai bangsa membuktikan perlu adanya lembaga extrajudicial untuk bisa melaksanakan Revolusi Mental guna memperbaiki peradaban yang terpuruk, yaitu kekuatan rakyat terorganisasi yang secara aktif berpartisipasi aktif dalam mengawal perubahan, di bawah pengendalian pemerintah.

Revolusi Mental sebagai Gong

Gong adalah perangkat dari gamelan. Kalau gong sudah berbunyi, dia bisa menyerap semua nada, baik nada indah maupun nada sumbang. Fungsi gong juga mengarahkan keseluruhan orkestra gamelan sehingga menjadi karya yang harmonis, enak didengar, memberikan nuansa keterpaduan, keserempakan, dan jelas arahnya.
Bangsa ini juga demikian, perlu gong yang jelas agar tercipta suatu tatanan harmonis.
Oleh sebab itu, gerakan Revolusi Mental sebagai sentral game changer bisa diibaratkan seperti gong akan menyerap semua nada sumbang dan kemudian mengajak seluruh anak bangsa untuk berirama baru yang selaras dengan cita-cita pendiri bangsa, untuk berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya. n

Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi, Mantan Aster KSAD



Berita Terkait



Komentar