#nuansa#virus-corona#covid-19

Untuk Pertama Kali

( kata)
Untuk Pertama Kali
Ilustrasi Pixabay.com

Delima Natalia Napitupulu

Wartawan Lampung Post

DUNIA gempar. Bukan karena teroris, nuklir, atau perang konvensional. Penyebabnya adalah virus Covid-19 berdiameter 100—120 nanometer. Kehadirannya sukses mengubah interaksi sosial hingga agama.

Untuk pertama kalinya, seluruh peserta didik mulai dari PAUD hingga mahasiswa belajar dari rumah secara daring. Untuk pertama kalinya juga, pemerintah melarang pesta dan kegiatan yang menimbulkan kerumunan.

Selanjutnya, untuk pertama kalinya umat diminta beribadah di rumah. Bersama keluarga, juga melalui streaming atau daring. Kebijakan itu berdampak besar, apalagi saat ini ada beberapa hari raya keagamaan yang diperingati. Sebut saja Jumat Agung pada (10/4) dan Paskah (12/4).

Dihadapkan pada kondisi yang benar-benar baru semacam itu, banyak kalangan yang kewalahan. Masyarakat ditantang untuk tetap produktif sekaligus menjaga ibadahnya meski hanya bersama keluarga inti di rumah.

Benarlah ungkapan yang menyatakan rumahku istanaku. Kini segalanya dilaksanakan di rumah. Bukan hanya sekadar tempat berteduh, rumah menjadi altar untuk berdoa kepada Sang Khalik. Untuk pertama kali, umat Kristen, termasuk saya sekeluarga, menjalani ibadah Jumat Agung hingga Paskah di rumah.

Paskah di tengah pandemi, judulnya. Gereja biasanya menyelenggarakan banyak kegiatan seru, terutama bagi anak-anak sekolah minggu. Lomba mencari dan menghias telur jadi tradisi yang paling dinanti. Paskah kali ini, anak-anak tidak bisa mencicipi keseruan itu di gereja bersama teman-temannya.

Saya tergerak untuk menghadirkan keseruan itu di rumah. Di Minggu pagi Paskah, saya merebus telur. Telur yang sudah matang dan dingin, saya masukkan ke dalam plastik. Kemudian saya sembunyikan di halaman. Ada yang saya gantung di dahan pohon. Ada pula yang terselip di balik sapu.

Setelah sarapan, anak-anak saya minta bersiap untuk mencari telur seperti tradisi di gereja. Mereka kegirangan. Setelah semua telur ditemukan, mereka malah meminta saya kembali menyembunyikan di tempat berbeda. Jadilah, babak mencari telur berlangsung hingga tiga ronde.

Setelah terpuaskan, saya mengajak mereka untuk bernyanyi dan berdoa. Bersyukur atas kondisi yang ada. Atas napas hidup dan kesehatan yang masih kami reguk di tengah pandemi.

Ternyata, ada banyak hikmah di balik pandemi ini. Bahwa kekhusyukan ibadah bukan ditentukan fasilitas dan kemegahan rumah ibadah. Bahwa perayaan atas sesuatu bukan melulu tentang ingar-bingar dan kemewahan. Bahwa keluarga adalah yang utama.

Bersama keluarga, kita cakap menghadapi semuanya. Selalu ada kali pertama untuk semua hal. Mari memetik manfaat dan melanjutkan hal baik dari kali pertama yang telah kita mulai.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar