#kampus#unsri

Unsri Legalkan Gelar Rektor Bina Darma Tanpa Skripsi

( kata)
Unsri Legalkan Gelar Rektor Bina Darma Tanpa Skripsi
Ilustrasi Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang. Foto: unsri.ac.id


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Wakil Rektor I Universitas Sriwijaya (Unsri) Zainuddin Nawawi mengeklaim gelar magister rektor Bina Darma, Sunda Ariana, tidak bermasalah. Hal itu karena tidak ada aturan yang mensyaratkan skripsi dalam pendaftaran.

Dia menjelaskan hal itu terkait adanya tuntutan dari koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan mahasiswa melalui Society Coruption Investigation (SCI) kepada Unsri agar mencabut gelar magister rektor Sunda karena ada dugaan peraihan gelar akademik itu malaadministrasi. Sunda sendiri menyerahkan kasus terhadap dirinya kepada universitas terbesar di Sumatra Selatan itu. 

Baca juga: Unsri Bantah Bentuk Tim Khusus soal Gelar Magister Rektor Bina Darma

Zainuddin menjelaskan pada saat pendaftaran hanya meminta ijazah dan transkip nilai yang bersangkutan. Jika memiliki kedua syarat itu, pendaftar bisa menjalani program pendidikan.

"Sepanjang mahasiswa atau calon mahasiswa yang bersangkutan memenuhi ketentuan persyaratan, ia berhak mengikuti program sampai dengan memperoleh gelar magister. Jadi tidak ada alasan untukk membatalkan pemberian gelar tersebut," ujarnya saat dihubungi Lampost.co, Minggu, 23 Mei 2021.

Baca: Universitas Sriwijaya Diminta Cabut Gelar Magister Rektor Bina Darma

Dia memaparkan pendidikan sarjana, magister, ataupun doktor tidak harus menggunakan skripsi. Mahasiswa bisa dengan kuliah memenuhi jumlah kredit sesuai persyaratan. Untuk magister dan doktoral bisa dengan penelitian. Selain itu, mahasiswa juga bisa menjalani keduanya riset dan menyelesaikan mata kuliah. 

Dia menambahkan di Unsri seperti S1 di FKIP pada 1980-an menerapkan pola itu dan legal.

"Syarat mendaftar ikut seleksi masuk program magister adalah lulus S1 atau memiliki ijazah sarjana," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Koordinator Nasional SCI Asmawi berpendapat, untuk melanjutkan pendidikan strata dua harus lulus dengan menyelesaikan skripsi. Sementara Sunda lulus pendidikan strata I tanpa skripsi.

Dia mengatakan telah menyampaikan tuntutan tersebut kepada pihak rektorat sejak sepekan lalu. Namun hingga saat ini belum ada respons dari Unsri. 

"Sunda Ariana mendapat ijazah dari Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta tertanggal 9 Februari 1994 dengan transkrip nilai akademik 1 Maret 1994 tanpa skripsi harusnya tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan strata dua," kata dia.

Atas kondisi itu, ia menilai seharusnya ijazah dari Unsri Program Pascasarjana Magister milik yang bersangkutan dianggap gugur. Sebab, tidak sesuai dengan syarat pendaftaran calon mahasiswa pada jenjang S2 pada diktum 12.

Selain itu, pihaknya juga meminta LLDIKTI Wilayah II Palembang untuk meneruskan kepada pihak berwenang untuk mencabut jabatan akademik atau fungsional dosen sebagai lektor kepala atas nama Sunda Ariana. Hal itu sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 35158/A4.3/KP/2015 tertanggal 28 April 2015.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar