#terumbukarang#humaniora#lingkungan#unila

Unila Edukasi Masyarakat Pulau Sebesi

( kata)
Unila Edukasi Masyarakat Pulau Sebesi
Transplantasi terumbu karang. Foto: Dok

KALIANDA (Lampost.co) -- Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, Lampung merupakan provinsi ketujuh yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Data juga menunjukkan jumlah wisatawan ke Lampung naik sebesar 120% pada tahun 2018.  

Banyak daerah pariwisata baru bermunculan karena penyebaran informasi oleh kaum muda melalui media sosial. Dengan panjang garis pantai sekitar 1.105 km dan sekitar 132 pulau, banyak tujuan wisata di Lampung adalah wisata pantai dan pulau. Pulau Sebesi-Krakatau adalah salah satu destinasi pariwisata strategis Provinsi Lampung yang menarik banyak wisatawan, baik lokal maupun asing.

Pulau Sebesi merupakan pulau berpenghuni yang paling dekat dengan Pulau Gunung Anak Krakatau (GAK). Pulau Sebesi merupakan tempat transit bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke GAK sekaligus tempat untuk mengamati aktivitas GAK. Selain itu, Pulau Sebesi terkenal dengan panorama yang indah, pantai yang bersih dan landai, air sebening kristal, dan terumbu karang yang menakjubkan. Hal ini menjadikan Pulau Sebesi-Krakatau cocok sebagai paket tujuan wisata alam bahari (ecotourism).

Di tengah meningkatnya kegiatan pariwisata, serangkaian tsunami menghantam Pulau Sebesi pada Sabtu (22/12/2018) malam dengan ketinggian gelombang mencapai tiga meter. Tsunami ini adalah hasil dari letusan GAK. Ketinggian gelombang tsunami saat mencapai pantai sangat dipengaruhi oleh kontur dasar laut di sekitar pantai.  

Inilah mengapa terumbu karang sangat berguna dalam memecah gelombang tsunami. Sementara jarak limpasan tsunami ke daratan sangat dipengaruhi oleh topografi dan penggunaan lahan di wilayah pesisir. Inilah sebabnya mengapa hutan bakau sangat penting ketika tsunami melanda. Karena tutupan hutan bakau di Pulau Sebesi hanya mencakup sekitar 1,5 hektare (0,06%), tsunami telah merusak infrastruktur dan fasilitas pariwisata di wilayah pesisir Pulau Sebesi.  

Masalah diperburuk oleh ketidaksiapan dan ketidakmampuan masyarakat Pulau Sebesi, yang umumnya berpendidikan rendah, dalam mengurangi dan mengelola situasi bencana dan melindungi penduduk serta pengunjung.  Setelah bencana tsunami melanda, sektor pariwisata khususnya destinasi wisata bahari (alam laut, pantai, dan pulau) merosot tajam.   

Kegiatan Sebesi – Krakatoa Island Ecotourism and Tsunami Mitigation and Preparedness Project, Lampung yang didanai oleh Pemerintah Australia melalui Australia Grant Scheme (AGS) 2019 dan dikelola oleh Australia Awards in Indonesia (AAI).  Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan adanya resiko bencana tsunami dan bagaimana memitigasi kejadian bencana, memperkuat lansekap pantai terhadap bencana tsunami, meningkatkan kemampuan masyarakat lokal mengelola ekoturisme yang aman dan berkelanjutan serta prosedur pembuatan peraturan desa.

Kegiatan ini diketuai oleh Ika Kustiani dari Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung (Unila). Kegiatan ini terdiri dari tiga fase kegiatan. Fase Pertama dilaksanakan pada tanggal 24 hingga 27 Juni 2019. Kegiatan utamanya adalah melatih masyarakat lokal membuat reef stupa dari bahan ferosemen, metode transplantasi terumbu karang dan penanaman pohon bakau.  Pelatihan dipandu oleh Masdar Helmi dan Citra Persada dari Jurusan Teknik Sipil Unila. Reef stupa adalah konstruksi buatan tempat tumbuhnya koral dan tempat berkumpulnya ikan.

"Diharapkan dari kegiatan ini akan muncul gerakan adopsi terumbu karang dan pohon bakau untuk membiayai kegiatan konservasi secara mandiri oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata)," ujar Ika Kustiani, melalui keterangan tertulisnya, Jumat (2/8/2019).

Secara keseluruhan seluruh kegiatan telah dilaksanakan dengan baik dan diapresiasi dengan baik oleh masyarakat Pulau Sebesi. Diharapkan kegiatan ini dapat mempromosikan dan membangkitkan pariwisata yang terkena dampak tsunami serta bagi Pokdarwis Pulau Sebesi dapat meningkatkan praktik ekowisata yang aman dan berkelanjutan.

Rilis

Berita Terkait

Komentar