#radikalisme

Unila dan 35 Rektor Bahas Penguatan Karakter Bangsa

( kata)
Unila dan 35 Rektor Bahas Penguatan Karakter Bangsa
Unila dan 35 rektor bahan penguatan karakter bangsa dalam kegiatan halalbihalal dan seminar daring. Dok.

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Universitas Lampung (Unila) dan rektor dari 35 perguruan tinggi negeri (PTN) se-Indonesia yang tergabung dalam Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa melaksanakan halalbihalal dan seminar daring, Selasa, 9 Juni 2020. Seminar daring mengusung tema Memperkokoh karakter kebangsaan melalui kinerja perguruan tinggi yang berdaya saing global.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Menteri Ristekdikti 2014-2019 dan Staf Khusus Wakil Presiden M Nasir, cendekiawan muslim dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Asyumardi Azra, dan akademisi Monash University Nadirsyah Hosen. 

Rektor Unila Karomani mengungkapkan rasa syukurnya karena dapat menyelenggarakan kegiatan ini dan mengundang sejumlah perguruan tinggi untuk bergabung dalam acara ini. Masih dalam suasana Idul Fitri pula ia menyampaikan selamat hari raya. “Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir batin”, ujarnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada panitia dan narasumber yang telah berpartisipasi dan mendukung kegiatan ini.

Selaku moderator webinar, ia juga mengungkapkan komitmen Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa ini untuk menciptakan karakter bangsa yang lebih baik dan saling mempererat sekaligus memotivasi membangun bangsa yang lebih baik.

Sementara, M Nasir mengungkapkan meningkatkan nilai ketakwaan sangat mengimplementasikan meningkatkan kualitas pendidikan. Memahami Pancasila sebagai dasar negara harus diterjemahkan senada dengan nilai-nilai agama yang ada di Indonesia.

Dalam dunia pendidikan tinggi hal itu menjadi sangat penting untuk mengelaborasikan berbagai terobosan. Sebab, hal tersebut mampu meningkatkan kualitas pendidikan di era kini dengan daring dan teknlogi.

"Sistem harus dibangun dengan baik, mudah-mudahan dengan halalbihalal ini kita semua dapat meningkatkan kemampuan dengan introspeksi diri melalui perkembangan perguruan tinggi yang lainnya," ujarnya.

Azyumardi Azra menambahkan Indonesia dengan beragam ras dan suku harus bersyukur dengan karunia kedamaian umat Islam-nya dengan beragam suku bangsa. Ia mengingkapkan tugas para dosen adalah mengawal dan memberikan semangat agar etos kerja yang baik terwujud pada 75 tahun kemerdekaan Indonesia.

“Kita harus berkontribusi dan memperkuat karakter dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika ini," kata dia.

Dia juga menuturkan Islam wasathiyah yang ada di Indonesia adalah umat jalan tengah yang kelak menjadi saksi atas majunya muslim di Indonesia dengan berbagai latar belakang budaya antar-Islam. Ia menilai dibanding dengan beberapa negara yang memiliki masyarakat Islam, Indonesia harus banyak bersyukur dengan umat wasathan ini.

Tidak hanya itu, dia mengungkapkan Indonesia memiliki nilai tertinggi indeks kedermawanan selama dua tahun terakhir dan hal ini membuktikan mayoritas masyarakat Indonesia yang muslim. “Kita akan membuktikan pada dunia bahwa Islam itu dapat membangun kemajuan Indonesia," katanya.

Memperkuat pernyataan para narasumber sebelumnya, Nadirsyah Hosen mengatakan pendidikan dan riset yang dilakukan pendidikan tinggi di Indonesia ke depan perlu memperkuat khasanah kualitas muslim di Indonesia.

"Khasanah kualitas muslim di Indonesia mampu menangkal penyebaran paham radikalisme yang bisa memicu perpecahan," katanya.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar