bedahbukuunilagusdur

Unila Bedah Buku `Pelengseran Gus Dur`, Ini Komentar Ketua Barikade Gus Dur Lampung

( kata)
Unila Bedah Buku `Pelengseran Gus Dur`, Ini Komentar Ketua Barikade Gus Dur Lampung
Ketua DPW Barisan Kader (Barikade) Gusdur Lampung M. Irfandi Romas menghadiri bedah buku


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co): Universitas Lampung (Unila) menggelar bedah buku `Pelengseran Gus Dur dan Keberpihakan Media Massa` yang ditulis oleh Prof Karomani yang juga Rektor Unila.

"Buku ini saya tulis merupakan bagian dari tesis doktoral di Universitas Padjadjaran. Buku tersebut ditulis menggunakan analisis kritis dengan metode pendik," kata Karomani, Rabu,

Ia menyebutkan buku tersebut memberikan perspektif lain dalam melihat peristiwa pelengseran Gus Dur dari kursi presiden.

Karomani yang juga Rektor Unila itu mengatakan, dirinya pada pembuatan buku ini menganalisis teks di sejumlah media massa. Penelitian juga dilakukan terhadap reporter sebagai penulis dan kondisi sosial politik yang terjadi.

Agenda itu dibuka langsung Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj secara virtual. Dalam kesempatan itu, ia mengatakan buku tersebut menjadi catatan dalam mengingat peristiwa sejarah bangsa.

Dalam sistem presidensial, Presiden hanya bisa dilengserkan jika melakukan pelanggaran mendasar yang tidak sesuai dengan dasar negara. Pelengseran Gus Dur adalah catatan buruk dalam sejarah bangsa Indonesia.

Menurutnya, telah terjadi pembelokan sejarah, pernah ada presiden dilengserkan tanpa ada alasan yang betul-betul nyata (inkonstitusional) sebelum habis masa jabatannya. 

"Ini catatan sejarah kita, mudah-mudahan tidak terulang," ungkapnya.

Penggiringan opini dinilai memiliki peran dalam pelengseran Presiden RI ke-4, Gus Dur. Pada kesempatan itu, Yenny Wahid sebagai pembahas menjelaskan, pembentukan pola pikir masyarakat dengan penggiringan opini lewat pemberitaan. Hal itu menjadi sebab lengsernya Gus Dur. 

Padahal, segala tuduhan kepada Presiden keempat RI itu tidak ada yang terbukti. "Saya harap buku ini bisa memberikan perspektif baru dalam pembangunan demokrasi ke depan," ujar Yenny secara virtual, Rabu, 30 Desember 2020.

Pembahas lainnya KH As'ad Said Ali menyampaikan, lengsernya Gus Dur adalah hasil konspirasi politik. Media merupakan salah satu alat sejumlah kelompok dalam konspirasi ini.

Pembentukan opini melalui media merupakan tahap pertama dalam konspirasi lawan politik Gus Dur. Kemudian dilanjutkan dengan pembentukan tim lintas fraksi sebagai gerakan di parlemen. "Buku ini memberikan perspektif lain dalam melihat peristiwa sejarah bangsa," tuturnya.

Sementara itu, Ketua DPW Barikade Gus Dur Provinsi Lampung Mohammad Irfandi Romas mengatakan buku ini cukup menarik untuk dibaca oleh semua kalangan. 

"Buku ini membahas kejatuhan Gus Dur dari kursi presiden akibat dilengserkan dengan alasan politik," kata dia. 

Selain itu,  lanjut dia, ada pula  keberpihakan peran beberapa media massa dalam upaya menjatuhkan Gus Dur dari kursi presiden. 

"Harusnya saat itu media menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, berimbang dalam membuat berita dan netral, " ujarnya. 

Irfandi Romas mengatakan bahwa pelajaran yang dapat dipetik dari KH Abdurrahman Wahid adalah Gus Dur sebagai guru bangsa selalu mendengungkan bahwa kemanusiaan adalah di atas segala-galanya. 

"Presiden RI ke-4 itu juga mengajarkan pentingnya toleransi antarsesama anak bangsa untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, " ujarnya. 

Apalagi lanjut dia, saat pandemi Covid-19 ini  seluruh elemen masyarakat harus fokus bersatu padu saling membantu satu dengan yang lainnya tanpa melihat latar belakang maupun etnis. 

Agenda bedah buku yang dimoderatori Nanang Trenggono itu juga menghadirkan Yenny Wahid sebagai pembahas. Selain itu, Unila juga menghadirkan Prof Dedy Mulyana. Kemudian 7 penanggap antara lain Greg Borton, Dahlan Iskan, M Yusuf Barusman, Azyumardi Azri, Alamsyah, Anif Punto Utomo, dan Muhammad Bakir.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar