#covid-19#perempuan

UN Women Sebut Krisis Covid-19 Pengaruhi Kesehatan Mental dan Emosional Perempuan

( kata)
UN Women Sebut Krisis Covid-19 Pengaruhi Kesehatan Mental dan Emosional Perempuan
Tangkapan layar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga pada acara daring Ubah Narasi Yayasan Care Peduli. (Lampost.co/MTVL/Putri Purnama)


Bandar Lampung (Lampost.co) -- UN Women Representative and Liaison to ASEAN Jamshed M.Kazi mengatakan krisis Covid-19 telah memengaruhi kesehatan mental dan emosional perempuan secara tidak proporsional. Indonesia mencatat kasus covid-19 pertama pada 2 Maret 2020, dan per 6 September 2020, terdapat 190.665 kasus covid-19 yang dikonfirmasi dan 7.940 kematian.

“Data kesehatan tentang penularan dan tingkat kematian mengungkapkan perbedaan pengalaman berdasarkan gender, yakni bahwa laki-laki lebih mungkin tertular dan meninggal karena virus ini,” kata dia saat memberi sambutan pada acara Ubah Narasi Yayasan Care Peduli, Kamis, 25 November 2021.

Menurut Jamshed, perempuan secara tidak proporsional lebih mungkin mengalami peningkatan stres dan kecemasan sejak penyebaran covid-19. Sebab banyak perempuan mengurus anggota keluarga yang sakit, merawat mereka yang sakit, telah menambah beban pekerjaan rumah tangga yang memang sudah meningkat. 

“Faktor-faktor tersebut, ditambah dengan kecemasan atas hilangnya pekerjaan dan pendapatan serta efek pembatasan sosial terhadap kekerasan berbasis gender, mungkin berkontribusi pada memburuknya kesehatan mental perempuan secara tidak proporsional,” ujar Jamshed. 

Dia melanjutkan kekerasan terhadap perempuan adalah salah satu pelanggaran hak asasi manusia yang paling meluas, terus menerus, dan menghancurkan di dunia saat ini.

"Sejak pandemi covid-19, data dan laporan yang muncul menunjukkan bahwa semua jenis kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, terutama kekerasan dalam rumah tangga, meningkat dalam skala yang kami sebut Pandemi Bayangan," katanya.

Baca juga: 646 Perempuan Lampung Jadi Janda Akibat Covid-19

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga mengatakan pandemi covid-19 memberi dampak luar biasa di segala lini kehidupan. Dari semua itu, perempuan menjadi salah satu kelompok rentan yang terdampak, karena memiliki kebutuhan spesifik yang harus mereka penuhi. 

“Kebutuhan spesifik ini menyangkut ketiga kodrat yang dimiliki kaum perempuan, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Selain itu, risiko kekerasan berbasis gender (KBG) terhadap perempuan di Indonesia juga mengancam mereka saat ini,” ujar dia. 

Menurut Bintang, pandemi menyebabkan kasus kekerasan berbasis gender meningkat. Salah satunya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hal ini disebabkan akibat adanya kebijakan belajar di rumah yang mengharuskan perempuan sebagai ibu mendampingi anaknya belajar di rumah.

“Padahal, banyak perempuan sebagai ibu yang merupakan pekerja, sehingga mereka juga harus mengerjakan tugas kantor yang menunggu, sekaligus melakukan pekerjaan rumah tangga yang seringkali dibebankan kepada perempuan. Hal itu justru menjadi beban ganda yang harus dialami kaum perempuan dalam rumah tangganya,” katanya.

 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar