#bpom#tajuk

Uji Tugas BPOM

( kata)
Uji Tugas BPOM
dok Lampost.co

PENGAWASAN makanan dan minuman yang beredar di masyarakat harus makin ditingkatkan. Badan Pengawas Obat dan Makanan mesti rutin turun menginspeksi peredaran makanan dan minuman. Bukan hanya menjelang momen perayaan hari besar agama dan lainnya. Melainkan juga harus mengagendakannya secara reguler.

Baru-baru ini, peristiwa keracunan kembali terjadi di Lampung. Kali ini sebanyak 13 siswa sekolah dasar negeri (SDN) 1 Olokgading, Telukbetung Barat, Bandar Lampung menjadi korbannya. Mereka keracunan minuman semprot dengan aneka rasa.

Berdasar pada hasil pemeriksaan petugas Puskesmas Bakung di UPTD Balai Laboratorium Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, jajanan berupa minuman semprot tersebut mengandung 0,2 mg arsenik.

Arsenik mengandung zat yang dapat memberikan efek negatif pada siswa karena batas normal kandungan zat tersebut adalah 0,05 mg. Sementara jajanan yang beredar mengandung arsenik melebihi batas normal.

Arsenik memberikan sejumlah efek buruk bagi kesehatan, dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker jika dikonsumsi terus-menerus. Efek langsungnya bisa menimbulkan rasa mual, pusing, tubuh lemas, hingga pandangan kabur.

Pedagang minuman semprot tidak mengetahui jika jajanan yang dia jual mengandung bahan berbahaya. Jajanan itu didapatnya dari sebuah toko di Pasar Cimeng, Telukbetung Selatan. Pedagang di pasar pun tidak memberi tahu zat yang terkandung dalam jajanan itu.

Kasus keracunan jajanan tidak hanya baru terjadi saat ini. Pada Agustus lalu, sebanyak 21 siswa kelas 4 SDN 3 Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, juga mengalami keracunan. Sebanyak 21 siswa SD itu juga keracunan jajanan berupa permen berbentuk sikat dan pasta gigi.

Publik tentu berharap peristiwa ini tidak terjadi berulang-ulang. Apalagi sampai menimbulkan korban jiwa. Kita berharap negara hadir dan memaksimalkan perannya dalam pengawasan peredaran makanan yang mengandung zat-zat berbahaya. 

Kita berharap Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengawasan Obat dan Makanan (POM) dapat segera disahkan. Isinya juga harus memperkuat pengawasan terhadap peredaran produk kosmetik, obat, dan makanan yang tidak sesuai dengan aturan. RUU ini pula diharapkan dapat mendorong daya saing produk dalam negeri yang berkualitas, terjamin mutunya dan aman bagi masyarakat.

BPOM sebagai pelaksana undang-undang juga harus mampu menyadarkan dan melindungi pelaku usaha agar mereka membuat produk yang legal dan sudah melalui proses perizinan oleh Badan POM.

BPOM jangan hanya tunggu laporan masyarakat, jangan hanya merazia menjelang hari raya. Jangan pula baru bekerja setelah ada peristiwa keracunan. BPOM harus proaktif turun langsung memantau dan mengawasi guna produk kosmetik, obat, dan makanan yang beredar legal dan tidak membahayakan masyarakat.

Tim Redaksi Lampung Post



Berita Terkait



Komentar