#polusi

Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat

( kata)
Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan udara Jakarta masuk kategori tidak sehat. Branda Antara


Jakarta (Lampost.co) -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan udara Jakarta masuk kategori tidak sehat pada Senin, 20 Juni 2022. Hal itu diketahui dari pantauan nilai ambang batas (NAB) konsentrasi PM2.5.


Pelaksana tugas (Plt) Deputi bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan pada beberapa hari terakhir, konsentrasi PM2.5 di Jakarta melonjak dan tertinggi berada pada level 148 mikrogram (µg)/m3 pada 15 Juni 2022. PM2.5 dengan konsentrasi ini dapat dikategorikan dalam kategori kualitas udara tidak sehat.

Baca juga: Polusi Jakarta Akibat Kendaraan Bermotor

Pada 16-17 Juni konsentrasi PM2.5 cenderung turun daripada 15 Juni. "Namun terjadi kenaikan konsentrasi PM2.5 pada 18 Juni hingga mencapai 147,5 µg/m3. Pada 20 Juni 2022, konsentrasi PM2.5 kembali berada di atas 100 µg/m3," kata Urip dalam keterangan tertulis, Selasa, 21 Juni 2022.

NAB konsentrasi PM2.5 adalah sebesar 65 µg/m3. Di bawah nilai tersebut, yaitu antara 15-65 µg/m3 polusi udara berada pada tingkat sedang dan nilai konsentrasi pada 0-15 µg/m3 berada pada kategori baik. 

Di atas NAB, bila berada pada konsentrasi 66-150 µg/m3 kategori tidak sehat, nilai 151-250 µg/m3 kategori sangat tidak sehat, dan lebih dari 250 µg/m3 berada pada kategori berbahaya.

"Pantauan BMKG Kemayoran Jakarta menunjukkan sejak awal Juni 2022 hingga saat ini konsentrasi rata-rata PM2.5 berada pada level 41 µg/m3 berada pada kategori sedang," ujar Urip.

Dia menjelaskan menurunnya kualitas udara di wilayah Jakarta dan sekitarnya disebabkan kombinasi, antara sumber emisi dari kontributor polusi udara dan faktor meteorologi yang kondusif untuk menyebabkan akumulasi konsentrasi PM2.5. 

PM2.5 merupakan salah satu polutan udara dalam wujud partikel dengan ukuran yang sangat kecil, yaitu tidak lebih dari 2,5 mikrometer (µm).

Dengan ukurannya yang sangat kecil ini, PM2.5 dapat dengan mudah masuk ke dalam sistem pernapasan, dan menyebabkan gangguan infeksi saluran pernapasan dan gangguan pada paru-paru dalam jangka waktu yang panjang.

Selain itu, PM2.5 dapat menembus jaringan peredaran darah dan terbawa darah ke seluruh tubuh. Hal ini menyebabkan terjadinya gangguan kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner.

Peningkatan konsentrasi PM2.5 yang berdampak pada penurunan kualitas udara di Jakarta memberikan pengaruh negatif pada individu yang memiliki riwayat gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskuler.

Masyarakat diimbau dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan pelindung diri, seperti masker yang sesuai untuk mengurangi tingkat paparan polutan udara.

Masyarakat juga diminta terus memperoleh dan memanfaatkan informasi dan prediksi cuaca maupun iklim terkini dari BMKG, dengan mengakses saluran yang tersedia atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.

 

 

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar