#teknologi#Cara-Belajar#Era-Robot

Ubah Cara Belajar, Salah Satu Cara Bertahan di Era Robot

( kata)
Ubah Cara Belajar, Salah Satu Cara Bertahan di Era Robot
Pengembangan kemampuan bisa membantu bertahan di era teknologi AI.

JAKARTA (Lampost.co) -- Teknologi kecerdasan buatan (AI) merupakan salah satu teknologi yang digadang sebagai teknologi masa depan, sebab akan mampu menghadirkan berbagai kemudahan bagi masyarakat, baik individu maupun organisasi atau perusahaan.

Di fase awal kemunculannya, yang saat ini masih masyarakat Indonesia dan sejumlah negara lain alami, kehadiran teknologi AI menjadi momok, sebab dinilai menghilangkan lahan pekerjaan mereka.

Namun sejumlah ahli menyebut bahwa kehadiran teknologi AI ini bukan hal yang dapat dielakan, sebab diprediksi akan menjadi salah satu teknologi yang banyak dimanfaatkan manusia dalam menghadirkan kemudahan dalam hidup mereka.

Mengutip buku The Globotics Upheaval: Globalization, Robotics, and the Future of Work (Oxford 2019) karya Richard Baldwin, untuk menghadapi ancaman transformasi digital yang didukung oleh teknologi AI, manusia perlu mempersiapkan diri dalam tiga hal.

Hal pertama adalah menghindari berkompetisi dengan AI di bidang yang paling dapat mereka lakukan dengan baik, salah satunya yaitu memproses informasi. Hal kedua adalah dengan mengembangkan kemampuan dalam hal yang hanya dapat dilakukan manusia dengan cakap.

Sedangkan hal ketiga, Baldwin menyebut penting bagi manusia untuk menyadari bahwa manusia merupakan ujung tombak dan kehadiran teknologi AI tidak menjadikan manusia sebagai pihak tanpa kemampuan atau cacat.

Disrupsi yang dihadirkan teknologi AI hanya akan menggantikan peran manusia dalam pekerjaan yang repetitif atau berulang. Manusia harus meningkatkan kemampuan mereka untuk dapat bersaing dengan AI, salah satunya di bidang berpikir kreatif.

Bidang ini disebut sejumlah ahli menjadi salah satu ranah yang tidak akan bisa dilakukan teknologi kecerdasan buatan sebaik kemampuan manusia. Selain itu, dengan peningkatan kemampuan ini, manusia justru akan dapat memanfaatkan AI untuk keuntungan mereka.

IDC sempat berpendapat bahwa pemanfaatan AI dalam bisnis juga memungkinkan bisnis dalam mempercepat inovasi mereka, serta meningkatkan produktivitas karyawan dan meningkatkan daya saing perusahaan.

Sementara itu, penulis Metaskills: Five Talents for the Robotic Age Marty Neumeir menyebut terdapat lima kemampuan meta yang dapat membantu manusia dalam bertahan di tengah gempuran teknologi AI.

Lima kemampuan tersebut adalah perasaan yaitu empati dan intuisi, pengamatan yang terkait kemampuan menganalisa bahwa satu hal akan sesuai untuk tujuan versi besar, bermimpi yang terkait dengan pengaplikasian imajinasi dan kemampuan memilkirkan hal baru.

Kemampuan lainnya yaitu pembuatan yang terkait dengan kreativitas, desain, prototipe dan pengujian, serta pembelajaran yang terkait dengan kemampuan untuk belajar dan faktor terpenting yang bertolak belakang dengan kemampuan meta lainnya.

Selain itu, manusia pada umumnya, juga harus mengubah cara mereka dalam belajar. Sebab di era saat ini, belajar tidak lagi hanya sekadar konten dan pengetahuan, namun telah mengacu pada pengalaman dan pengaplikasian.

Pengalaman dan pengaplikasian menjadi hal penting baru di era Revolusi 4.0 ini. Ahli dan praktisi menyadari pembelajaran secara keseluruhan tidak hanya sekadar pelatihan formal, namun juga terkait dengan belajar dengan pihak lain dan secara praktis menyoal pengalaman di pekerjaan.

Dan kemampuan untuk belajar, yaitu keinginan dan kapabilitas untuk mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan industri sehingga dapat dipekerjakan dalam jangka waktu panjang, menjadi hal penting untuk mencapai kesuksesan, baik bagi perusahaan maupun individu.

 

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar