#tumbai#orangabung#wilayahsungai

Turun Gunung, Orang Abung Menempati Wilayah Sungai

( kata)
Turun Gunung, Orang Abung Menempati Wilayah Sungai
Ilustrasi. (Dok.Lampost.co)

SUKU Paminggir yang memasuki wilayah tidak menduduki lembah-lembah di pegunungan. Mereka mengikuti orang Abung yang terusir, melewati jalan-jalan di antara Gunung Abung dan Bukit Benatan, kemudian menaiki kaki bukit di wilayah timur menuju dataran rendah di bagian timur.

Sungai-sungai yang mengalir dari pegunungan berkumpul menjadi sungai besar Way Sungkai yang mengalir ke timur laut, kemudian bersatu dengan Sungai Rarem dan Way Kanan membentuk Sungai Tulangbawang. Perpindahan para penduduk yang meninggalkan wilayahnya berhenti di tepi kanan Way Sungkai, tempat keturunan Paminggir lama itu kini membentuk marga yang bernama Bunga Mayang.

Orang Abung lainnya yang terusir dari pegunungan di bagian timur oleh orang Paminggir itu telah menduduki tepi Way Abung, sekarang dan Way Rarem. Apakah mereka di sana mendesak kelompok lain dari sukunya sendiri yang telah lebih dahulu menuruni dataran, hal tersebut tidak dapat dibuktikan. Namun, ini hanyalah kemungkinan.

Saat Paminggir lama mulai menekan wilayah pegunungan barat di Danau Ranau, kelompok Abung pertama tersebut tampak menuruni dataran rendah di wilayah timur. Kini, orang Abung di dataran rendah tidak membentuk masyarakat homogen. Meski demikian, orang Nunyai-Abung di Way Abung dan Rarem yang terakhir meninggalkan pegunungan sejak ratusan tahun, memiliki kedudukan tertinggi dari seluruh suku lainnya di dataran rendah.

Di kelompok selatan orang Abung yang dapat dijumpai di wilayah tenggara pegunungan antara Gunung Tanggamus, Rendingan, dan Ulu Way Semang, setelah Abung lainnya di Way Besai di pegunungan utara hingga kelompok pusat di wilayah timur Way Besai meninggalkan pegunungan.

Sementara tidak diketahui begitu banyak bagian-bagian yang telah dibahas sebelumnya pada bangsa Abung mengenai cara hidup mereka dan hanya dapat memperoleh sedikit cerita langsung dan penemuan megalitik, kini diketahui lebih banyak mengenai kelompok terakhir di bagian selatan itu. Alasan utamanya adalah jarak waktu yang pendek yang memisahkan waktu saat ini dengan waktu dulu, tempat orang Abung selatan itu mengalami nasib yang sama seperti saudara mereka yang masih hidup di wilayah utara beberapa ratus tahun sebelumnya.

Masih pada pertengahan pertama abad ke-18, Abung selatan itu menghuni pegunungan di Way Sekampung atas dan anak sungainya di beberapa desa, ketika mereka hilang dan muncul untuk menyerang Paminggir yang menghuni wilayah pesisir dan kemudian membawa kepalanya ke rumah. Tradisi dan adat orang-orang ini sudah dijelaskan dalam bab perburuan kepala. Menjelang awal tahun 60-an abad ke-18 terjadi penyerangan terhadap orang Paminggir, terutama di wilayah Semaka.

Sejak pertengah abad ke-17, para pedagang Inggris mencoba menetap di Sumatera Selatan untuk mendekati wilayah tersebut yang menciptakan produk lada pasar dunia untuk Sultan Bantam di Jawa Barat, tentu saja untuk pemerintahan Belanda. Untuk menggalang pengaruh Inggris itu, orang-orang Belanda mendesak pedagang bernama Van der Schuur pada 1682 untuk melakukan ekspedisi perdagangan di pantai Teluk Semaka.

Dalam lima tahun perusahaan Belanda menduduki Brunei, desa utama dahulu di dataran Semaka. Namun, segera setelah itu tempat ini kembali ditarik. Dalam dekade berikutnya tidak tampak adanya orang Eropa yang mendatangi wilayah tersebut.

Baru pada 1788, Funke menemukan agen Inggris di Brunei bernama William Marsden yang kemudian menjadi terkenal karena berhasil menggali cerita suku-suku di Semaka itu dengan sangat baik.

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Berita Terkait

Komentar